Sosok

Manaqib Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ulama Perempuan, dan Pejuang Kemanusiaan

Diskusi serial “Manaqib Ulama Perempuan: Biografi Ulama Perempuan Indonesia #15” mengangkat sosok Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid sebagai figur ulama perempuan yang konsisten memperjuangkan kesetaraan, pluralisme, dan hak-hak kelompok marginal. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui kanal YouTube GUSDURian TV dan Zoom Meeting pada Sabtu (16/5/2026) itu diikuti sekitar 50 peserta.

Dalam diskusi tersebut, penutur Nyai Wiwin Siti Aminah Rohmawati memaparkan perjalanan hidup dan kiprah Nyai Sinta Nuriyah sebagai intelektual muslimah yang berani menghadirkan pembacaan kritis terhadap relasi laki-laki dan perempuan dalam tradisi keislaman. Diskusi dipandu moderator Nyai Siti Munawaroh.

Menurut Nyai Wiwin, kegelisahan Nyai Sinta terhadap ketidakadilan terhadap perempuan telah tumbuh sejak usia remaja. Kegelisahan itu kemudian mendorongnya melakukan kajian kritis terhadap kitab-kitab klasik yang selama ini menjadi rujukan di lingkungan pesantren, terutama terkait relasi suami-istri dan posisi perempuan.

“Kalau kita baca dari sejarahnya, profilnya beliau itu kegelisahan tentang perlakuan terhadap perempuan ini sudah lama sejak masih remaja,” ujar Nyai Wiwin.

Ia menjelaskan, Nyai Sinta melihat adanya penafsiran keagamaan yang kerap menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Karena itu, Nyai Sinta berupaya menghadirkan pembacaan Islam yang lebih setara dan berpihak pada keadilan gender. Upaya tersebut diwujudkan melalui forum-forum kajian kitab kuning yang mengulas kembali teks-teks klasik secara kritis.

“Karena memang kegelisahan beliau sejak remaja itu kan kenapa sih, apa benar ajaran Islam itu mendudukkan perempuan di bawah laki-laki,” kata Nyai Wiwin.

Dalam diskusi itu, Nyai Wiwin menyebut bahwa Nyai Sinta meyakini spirit ajaran Islam dalam Al Quran sesungguhnya menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang setara di hadapan Tuhan. Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar perjuangannya dalam isu kesetaraan gender, hak asasi manusia, dan pembelaan terhadap kelompok marginal.

Salah satu langkah penting yang dilakukan Nyai Sinta ialah menggagas Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) di Ciganjur. Forum tersebut menjadi ruang kajian terhadap kitab-kitab klasik yang dinilai memiliki tafsir bias gender. Dari forum itu lahir sejumlah buku yang membahas relasi suami-istri dan kedudukan perempuan dalam perspektif Islam yang lebih kontekstual.

Selain FK3, Nyai Sinta juga mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati pada 2001. Lembaga tersebut bergerak dalam pemberdayaan perempuan dan pendampingan korban kekerasan. Nama “Puan” sendiri merupakan singkatan dari Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

“Nah, kemudian karena kegelisahannya terus-menerus dan ingin mengadakan perubahan, Ibu Sinta kemudian mendirikan Puan Amal Hayati,” ujar Nyai Wiwin.

Dalam pemaparannya, Nyai Wiwin juga menyoroti keteguhan Nyai Sinta dalam menjalani kehidupan, termasuk setelah mengalami kecelakaan pada 1993 yang membuatnya harus menggunakan kursi roda. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan aktivitas intelektual dan sosialnya. Nyai Sinta tetap melanjutkan pendidikan magister di Program Kajian Wanita Universitas Indonesia dan aktif menyuarakan isu kemanusiaan.

Dedikasi Nyai Sinta dalam memperjuangkan toleransi, pluralisme, dan hak perempuan kemudian mendapat pengakuan luas. UIN Sunan Kalijaga menganugerahkan gelar doktor kehormatan di bidang sosiologi agama atas kontribusinya dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan serta nilai keberagaman.

Nyai Wiwin menilai perjuangan Nyai Sinta tidak dapat dipisahkan dari semangat kemanusiaan yang juga diperjuangkan bersama mendiang suaminya, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya dikenal aktif membela kelompok-kelompok rentan dan memperjuangkan nilai demokrasi serta toleransi di Indonesia.

“Dan ini juga bersama-sama dengan Gus Dur beliau memperjuangkan bukan hanya soal isu kesetaraan, tapi juga keberagaman, toleransi, dan hak asasi manusia, dan juga tentu saja kelompok-kelompok yang termarginalkan,” kata Nyai Wiwin.

Selain dikenal sebagai aktivis perempuan, Nyai Sinta juga aktif di berbagai organisasi nasional, termasuk Komnas HAM dan organisasi perempuan Indonesia. Ia juga pernah berkiprah sebagai wartawan di majalah Matra pada dekade 1980-an.

Dalam diskusi itu turut dipaparkan sejumlah karya Nyai Sinta, di antaranya Perempuan dan Pluralisme, Pesantren Tradisi dan Kebudayaan, serta dua buku hasil kajian FK3 mengenai relasi suami-istri dalam perspektif kitab kuning.

Atas kiprahnya, Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menerima berbagai penghargaan internasional. Pada 2018, ia masuk dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh dunia versi TIME. Dalam diskusi itu juga disebutkan bahwa Nyai Sinta pernah tercatat sebagai salah satu dari 11 tokoh perempuan paling berpengaruh versi The New York Times. Selain itu, ia memperoleh penghargaan Soka Women’s College Commendation of Friendship dari Soka Women’s College atas perjuangannya dalam isu perempuan, toleransi, dan kemanusiaan.

______

Artikel ini pernah dimuat di kupi.or.id

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian