Sosok

Kisah Nyai Khoiriyah Hasyim, Pengasuh Pesantren yang Dorong Santri Berpikir Kritis

Kiprah Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim sebagai pelopor pendidikan pesantren putri dan pemimpin perempuan di lingkungan pesantren menjadi pembahasan utama dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #14 yang digelar secara daring melalui GUSDURianTV dan Zoom Meeting, Jumat (15/5/2026) malam.

Diskusi yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB itu menghadirkan pengasuh Pesantren Seblak, Nyai Ema Rahmawati, sebagai penutur dan dimoderatori Ahmad Fatin. Sekitar 70 peserta mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting.

Nyai Khoiriyah Hasyim lahir di Tebuireng, Jombang, pada 1908 M atau 1326 H. Ia merupakan putri sulung KH. Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh. Selain dikenal sebagai tokoh perempuan, Nyai Khoiriyah juga merupakan bibi dari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dalam pemaparannya, Nyai Ema Rahmawati menjelaskan bahwa Nyai Khoiriyah merupakan sosok perempuan yang memperoleh pendidikan agama langsung dari ayahnya, KH Hasyim Asy’ari, pada masa ketika akses pendidikan untuk perempuan masih sangat terbatas.

“Yang menarik dari Mbah Khoiriyah adalah beliau belajar langsung pada ayahnya, Kiai Haji Hasyim Asy’ari, di saat perempuan belum leluasa belajar agama. Beliau mengaji dari balik tirai ketika Mbah Hasyim mengajar santri laki-laki,” ujar Nyai Ema.

Nyai Khoiriyah lahir sekitar tahun 1906 atau 1908. Meski tidak mengenyam pendidikan formal, ia dikenal tekun mempelajari kitab-kitab klasik secara mandiri, seperti Tafsir Jalalain, Fathul Muin, hingga Jamiul Jawami. Ketekunan tersebut membuatnya tumbuh sebagai ulama perempuan dengan kapasitas keilmuan yang diakui luas.

Pada usia 13 tahun, Nyai Khoiriyah menikah dengan KH Maksum Ali, santri KH Hasyim Asy’ari asal Gresik. Bersama suaminya, ia mendirikan Pesantren Seblak di Dusun Seblak, Jombang, pada 1921.
Selepas wafatnya KH Maksum Ali pada 1933, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh Nyai Khoiriyah. Saat itu, Pesantren Seblak masih dihuni santri laki-laki. Menurut Nyai Ema, kondisi tersebut menjadi terobosan besar karena seorang perempuan memimpin pesantren putra pada masa ketika ruang kepemimpinan perempuan masih sangat terbatas.

“Bayangkan, pondok isinya santri laki-laki dipimpin oleh seorang perempuan. Pada masanya itu merupakan gebrakan yang luar biasa,” ujarnya.

Selain memimpin pesantren, Nyai Khoiriyah juga dikenal aktif mengembangkan pendidikan perempuan. Setelah menikah dengan KH Muhaimin Zubair dan menetap di Makkah, ia mendirikan madrasah khusus perempuan atau madrasah lil banat. Sekolah tersebut disebut menjadi salah satu madrasah perempuan pertama di Makkah pada masanya.

Menurut Nyai Ema, pengalaman panjang belajar dan mengajar di Makkah turut membentuk keluasan wawasan serta keteguhan sikap intelektual Nyai Khoiriyah. Ia dikenal mampu menyampaikan pandangan berbeda terhadap pendapat para ulama laki-laki, termasuk kepada ayahnya sendiri, dengan cara yang tetap dihormati.

“Pada masa itu, tidak banyak orang yang berani menyampaikan perbedaan pendapat kepada kiai sepuh, apalagi seorang perempuan. Hal semacam itu bahkan dianggap tabu. Namun, Mbah Khoiriyah tetap berani menyampaikannya, termasuk mengingatkan Mbah Hasyim yang saat itu sangat dihormati,” kata Nyai Ema.

Dalam forum tersebut, Nyai Ema juga menyoroti cara Nyai Khoiriyah mengajarkan pemikiran kritis kepada santri. Ketika mengajar kitab Uqudulujain, misalnya, Nyai Khoiriyah tidak meminta santri menerima isi kitab secara mentah-mentah.

“Beliau selalu menekankan bahwa ilmu tidak boleh ditelan mentah-mentah. Harus dikritisi. Itu semangat yang diwariskan di Seblak sampai sekarang,” ujarnya.

Sikap kritis Nyai Khoiriyah juga tercermin dalam metode pengajarannya di pesantren. Saat mengajarkan kitab Uqudulujain, kitab yang lazim dipakai di pesantren untuk membahas relasi suami dan istri, Nyai Khoiriyah tidak meminta santri menerima isi kitab secara mentah-mentah. Ia justru mengajak santri untuk memahami konteks dan bersikap kritis terhadap teks.

“Ketika membaca bagian tentang kewajiban istri kepada suami, Mbah Khoiriyah sering memberi komentar kepada santri, ‘ya tapi enggak usah segitunya banget’. Beliau menekankan bahwa apa yang dipelajari harus dikritisi, tidak ditelan mentah-mentah,” ujar Nyai Ema.

Menurut Nyai Ema, pendekatan tersebut menjadi warisan intelektual yang terus dijaga di Pesantren Seblak hingga sekarang. Tradisi berpikir kritis itu juga terlihat dalam cara pesantren memberi ruang bagi perempuan untuk terlibat dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan. (SDH)

______

Artikel ini pernah dimuat di kupi.or.id

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian