Opini

Merayakan Padungku sebagai Ruang Perjumpaaan: Sebuah Kabar Baik dari Poso

K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkata bahwa “Indonesia ada karena keberagaman. Kalau tidak ada keberagaman tidak ada Indonesia”. Perkataan Gus Dur inilah yang pada akhirnya menginspirasi penulis sebagai seorang penggerak muda GUSDURian yang saat ini sedang kembali ke tanah leluhur di Poso, Sulawesi Tengah untuk menuliskan sebuah kisah dan hal baik yang penulis dapatkan.

Mungkin sebagian teman-teman yang membaca tulisan ini jika mendengarkan tentang Poso, sudah pasti akan terbesit beberapa asumsi dan berita simpang siur tentang Poso. Misalnya tragedi kerusuhan Poso yang terjadi sekitar tahun 1998-2001, kasus-kasus terorisme maupun berbagai aksi-aksi intoleransi yang terjadi atas nama agama di Poso, Sulawesi Tengah.

Penulis pribadi menilai kebanyakan media hanya menyoroti hal-hal tertentu yang sifatnya memicu ketegangan dan ketakutan masyarakat mengenai Poso, padahal tidak semua pemberitaan yang disampaikan oleh media merupakan hal yang benar dan dapat dipercaya sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan.

Banyak hal-hal baik yang seharusnya perlu disoroti tentang Poso dan salah satu hal baik itulah yang menjadi tujuan utama penulis membuat tulisan ini dengan judul “Merayakan Padungku sebagai Ruang Perjumpaaan: Sebuah Kabar Baik dari Poso”.

Secara singkat istilah “Padungku” atau “,Mompadungku” berasal dari akar kata  “dungku” yang berarti telah usai, tuntas dan tertib, sementara itu awalan “mo” menjadi “Mompadungku” berarti proses pertanian sudah selesai, di mana penyimpanan padi di tempat penyimpanan atau lumbung sudah tuntas dan alat-alat pertanian sudah disimpan dengan rapi. Bisa dikatakan sederhananya “Padungku” merupakan sebuah acara kebudayaan berupa pesta panen yang dirayakan oleh masyarakat Poso yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Perlu diingat juga bahwa memang sebagian besar masyarakat Poso telah memeluk agama Kristen, di mana kemudian acara Padungku pada akhirnya juga diadopsi dan masuk dalam tradisi perayaan warga Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).

Meskipun demikian, Padungku sebenarnya bukan merupakan sebuah acara keagamaan atau acara milik satu agama tertentu, tetapi Padungku merupakan acara kebudayaan berupa pesta panen yang sudah dirayakan oleh masyarakat Poso sebelum masuknya agama-agama seperti Islam, Kristen maupun Hindu ke Sulawesi Tengah.

Sampai hari ini masyarakat Poso masih terus merayakan acara dan pesta panen ini hampir setiap tahunnya, bahkan perayaan ini pada akhirnya bukan hanya dilakukan di wilayah Poso saja melainkan pada hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah. Meskipun demikian tulisan ini penulis batasi pada lingkup wilayah Poso khusus perayaan Padungku yang dilakukan di Desa Tambarana.

Tahun ini penulis merasa bahagia karena dapat ikut merayakan Padungku di Desa Tambarana, Desa Tambarana sendiri adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, di mana Desa Tambarana sendiri berjarak sekitar 53,8 Kilometer dari Kota Poso.  Desa dengan luas 18,48 Kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 4.274 jiwa dan telah ditetapkan menjadi Desa Sadar Kerukunan, karena penduduk Desa Tambarana sendiri hidup berdampingan dengan berbagai macam kemajemukan.

Masyarakat Desa Tambarana sendiri memeluk tiga agama besar yaitu Islam, Kristen dan Hindu dengan beragam etnis seperti suku Bare’e, Suku Bali, Suku Bugis, Suku Sangir, Suku Jawa, Suku Batak, Suku Mori serta suku-suku lainnya yang berasal dari luar daerah. Meskipun hidup berdampingan dengan berbagai kemajemukan dan perbedaan masyarakat Desa Tambarana selalu menunjukkan rasa kekeluargaan dan kebersamaannya, salah satunya pada setiap tahunnya masyarakat Tambarana bersama-sama ikut merayakan dan memeriahkan perayaan Padungku.

Secara khusus pada tahun ini perayaan Padungku di wilayah Poso pesisir utara di laksanakan pada tanggal 16 Juni 2026. Perayaan Padungku sendiri tidak terlepas dari acara memasak dan makan-makan bersama. Salah satu makanan yang selalu wajib ada dalam setiap perayaan Padungku adalah “Inuyu”. Inuyu sendiri adalah semacam masakan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang dicampur santan, bawang, dan terkadang jahe maupun bumbu-bumbu tradisional lainnya, yang kemudian dimasak dengan cara dibakar di dalam ruas bambu muda. Selain Inuyu terdapat juga berbagai hidangan masakan, buah-buahan dan berbagai aneka minuman yang siap untuk disantap bersama.

Salah satu hal yang menjadi tradisi dalam perayaan Padungku di Wilayah Poso adalah budaya “Mangkoni” dan “Mangkeni”. Istilah “Mangkoni” sendiri berarti makan sedangkan “Mangkeni” berarti “membawa pulang”. Setiap perayaan Padungku setiap tamu yang datang untuk bertamu dan bersilahturahmi pada sebuah keluarga akan dijamu dengan makanan dan minuman yang banyak.

Setelah tamu selesai dijamu dengan makanan dan minuman, saat akan pulang tamu tersebut akan mendapatkan bingkisan dari tuan rumah. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar dalam perayaan Padungku di Poso. Karena berbagi pada perayaan Padungku dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dan memberi sebagian rezeki yang diperoleh kepada orang lain.

Karena Padungku sendiri bukan merupakan perayaan suatu agama tertentu, maka seluruh masyarakat Poso bisa ikut untuk merayakan kebahagiaan, kebersamaan dan kehangatan berbagi dan bersilahturahmi satu sama lain, maka seperti judul dari tulisan ini bahwa “Merayakan Padungku sebagai Ruang Perjumpaaan: Sebuah Kabar Baik dari Poso”.

Padungku bagi masyarakat Poso bukan hanya dimaknai sebagai menjadi perayaan pesta panen, tetapi Padungku menjadi ruang perjumpaan sosial dan berbagi satu sama lain yang meruntuhkan sekat perbedaan baik itu agama, suku maupun ras dan hal ini telah dilakukan sehingga menjadi ruang perjumpaan untuk merajut kembali kebersamaan dan saling menguatkan solidaritas masyarakat dari berbagai latarbelakang.

Hal-hal ini sangat jarang diliput oleh media sebagai sebuah kabar baik dari Poso bahwa masyarakat Poso bisa hidup bersama dengan penuh keharmonisan, tanpa harus kehilangan jati diri dan identitas mereka masing-masing melalui tradisi yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.

Mungkin tidak akan cukup penulis menuliskan banyak hal mengenai Padungku dalam tulisan ini, karena keterbatasan ruang yang diberikan tetapi penulis berharap setiap pembaca suatu hari kelak dapat datang ke Poso, Sulawesi Tengah dan ikut mengambil bagian dalam perayaan Padungku, akhir kata penulis kembali mengutip apa yang dikatakan oleh Gus Dur bahwa “Yang beda jangan disama-samakan, yang sama jangan dibeda-bedakan.” (SDH)

Welem Yeremia Ontrael

Seorang mahasiswa pascasarjana di Institut Injil Indonesia.