SEMARANG – Komunitas GUSDURian Semarang kembali menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan melalui program GUSDURian Mengajar Batch #1. Mengusung tema “Menjaga Laut, Menjaga Anugerah Tuhan”, kegiatan ini digelar di TPQ Al Firdaus, Tambakrejo, Semarang, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 65 anak dengan didampingi 12 relawan dan guru ini bertujuan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, aksi ini menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan kepada anak-anak sejak usia dini.
Mengusung semangat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, para relawan menghadirkan pembelajaran interaktif. Pendekatan dilakukan melalui permainan, diskusi, dan aktivitas kolaboratif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
Rangkaian kegiatan dimulai pukul 15.00 WIB dengan pembukaan, perkenalan, dan ice breaking untuk membangun suasana belajar yang hangat. Selanjutnya, peserta mengikuti penyampaian materi bertajuk “Sampah Dijaga, Bumi Gembira”. Materi ini mengajak anak-anak memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya laut, sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan.
Suasana semakin meriah ketika anak-anak mengikuti permainan edukatif ”Lomba Kantong Ajaib: Pilah dan Menang”. Dalam permainan tersebut, peserta dibagi menjadi delapan kelompok yang dipandu oleh para relawan GUSDURian Semarang. Anak-anak belajar mengenali jenis sampah dengan memilahnya, sampah organik dikumpulkan pada kantong biru dan anorganik pada kantong hitam. Melalui simulasi ini, mereka diharapkan paham pentingnya memilah sampah sejak dini.
Setelah sesi istirahat dan bermain bersama, kegiatan ditutup dengan refleksi, apresiasi, serta komitmen bersama untuk menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun Karakter
Kegiatan ini disambut baik oleh pengelola TPQ Al Firdaus Tambakrejo, Ustaz Sofhal Jamil. Ia mengapresiasi inisiatif GUSDURian Semarang dalam menghadirkan pembelajaran yang kreatif untuk membangun karakter anak-anak.
Menurut Sofhal, pendidikan tentang kepedulian lingkungan dan nilai kemanusiaan sangat penting dikenalkan sejak dini agar tumbuh menjadi kebiasaan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak maupun masyarakat sekitar.
Penggerak GUSDURian Semarang, Sri Puji, menegaskan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
“Semoga acara ini dapat menginspirasi gerakan lain yang menumbuhsuburkan tunas-tunas kebaikan. Meskipun kita tahu tidak bisa mengubah apa pun secara instan, satu niat yang tulus jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa,” ujar Sri Puji.
Semangat tersebut juga dirasakan oleh para relawan yang terlibat. Rimaula Sirojuddin (17), siswa kelas XI SMK Darul Fikri Kendal, mengaku memperoleh pengalaman berkesan selama mendampingi anak-anak.
“Kegiatannya seru dan anak-anak cenderung mudah menerima pengaruh positif. Di GUSDURian tidak ada sekat. Meskipun saya yang paling muda, saya tidak merasa dibedakan. Menurut saya kegiatan seperti ini sangat cocok diikuti oleh pelajar,” ungkap Rimaula.
Sementara itu, relawan lainnya, Alfiana Marifah (23), mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari gerakan ini.
“Saya senang bisa mendapatkan pengalaman dan relasi baru. Mengampanyekan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak-anak sejak usia dini merupakan langkah penting karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan upaya menjaga lingkungan,” tuturnya.
Selain membawa pengalaman positif, para relawan juga melakukan evaluasi internal pasca-acara. Beberapa catatan penting di antaranya adalah perlunya peningkatan koordinasi internal, pembagian tugas yang lebih jelas, serta pengelolaan waktu agar pelaksanaan kegiatan berikutnya semakin efektif.
Melalui GUSDURian Mengajar Batch #1, GUSDURian Semarang tidak hanya mengajak anak-anak memahami pentingnya menjaga laut dan lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, kepedulian, dan penghormatan terhadap sesama. Pendidikan karakter yang dikemas secara kreatif diharapkan mampu melahirkan generasi yang mencintai lingkungan sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari ruang-ruang kecil seperti TPQ. Dari desa kecil di pesisir laut utara ini, kebersamaan antara relawan, guru, pengelola TPQ, dan masyarakat menjadi benih kepedulian terhadap bumi yang kelak diharapkan tumbuh menjadi gerakan kebaikan yang semakin luas. (SDH)