Opini

Ketika Cinta Tidak Simetris

Di titik manakah cinta yang berjuang itu masih relevan dalam konteks feminisme, terutama untuk mendapatkan cinta yang timbal balik? Selama ini ada ketegangan antara dua konsepsi cinta yaitu cinta sebagai pemberian dan cinta sebagai relasi. Ketika cinta hanya dipahami sebagai kerelaan berkorban demi mendapatkan cinta, maka kita akan mudah terjatuh pada romantisme self-sacrifice (pengorbanan diri). Menganggap bahwa semakin banyak penderitaan yang ditanggung, semakin sejati cintanya. Sedangkan cinta sebagai relasi, membangun hubungan di mana kedua belah pihak menjadi subjek yang sama-sama menginginkan dan dipilih.

Perempuan filsuf Prancis, Simone de Beauvoir dalam bukunya The Ethics of Ambiguity (1947), lebih menekankan cinta dalam persoalan dimensi moral. Dia membagi cinta yang bersifat maniacal loving (cinta yang tergila-gila) dan cinta generous loving (cinta yang tulus/tanpa syarat), jenis cinta ini adalah menolak segala aksi kepemilikan. Dalam bukunya The Second Sex, Simone menyebutnya sebagai cinta yang autentik, cinta yang timbul dari kesadaran resiprokal (berbalas) antar dua kebebasan. Di mana tiap pasangan nantinya akan mengalami menjadi dirinya sendiri sekaligus menempatkan dirinya menjadi yang lain. 

Meski Simone dikenal sebagai filsuf eksistensialis yang berbicara tentang bagaimana perempuan dikonstruksi untuk menjadi “the other” dalam bukunya The Second Sex, malah justru terjebak dan menjadi “yang lain” dalam kisah cintanya dengan Sartre. Kita tahu, patriarki tidak hanya ada dalam struktur sosial dan ekonomi tapi juga afeksi. Dalam teori Simone radikal, tapi dalam cinta? Dia hanya seorang perempuan yang juga merasa cemburu kepada para kekasih (pasangan kontingen) Sartre. Itu sebabnya, dalam sebuah wawancara dengan Thomson Reuters Foundation (2018), Nawal ogah disamakan dengan Simone. Karena menurutnya, Simone masih terikat baik secara emosional maupun intelektual oleh bayang-bayang Sartre. Sedangkan ia jauh lebih radikal.

Kembali pada pertanyaan di awal, apakah cinta yang berjuang terutama ketika cinta itu masih berjalan sepihak, menunjukan kita tersubordinasi? Tidak. Tetapi hubungan yang sehat membutuhkan resiprositas (timbal balik). Ini selaras dengan kata-kata Marx dalam Private Property and Communism (1844), “Jika kau mencintai seseorang tanpa menuntut perasaan yang sama […] maka kau gagal menjadi orang yang dicintai, maka cintamu impoten! Malang!”

Realitasnya, cinta memang selalu dimulai secara asimetris. A bisa mencintai B terlebih dahulu. A lebih intens, tapi B masih ragu. Kemudian A mengejar (berjuang), B masih juga belum membalas. Maka, A mengambil resiko emosional yang lebih besar. Apakah ini bertentangan dengan feminisme? Belum, karena agensi A mencakup hak untuk menginginkan, mengejar, menyatakan cinta bahkan mengalami penolakan. 

Menjadi masalah, ketika asimetri tersebut dianggap sebagai sesuatu yang harus ditanggung oleh pihak tertentu saja karena gendernya. Misalnya, perempuan dalam relasi asmara dikonstruksikan untuk menjadi pihak yang lebih sabar, lebih pengertian, selalu menunggu, memaafkan, dan terus membuktikan  bahwa dirinya layak dicintai. Jika demikian, maka jelas terjadi ketimpangan distribusi kerja emosional dan kuasa sehingga menjadikannya dalam posisi subordinasi.

Poinnya, bukan apakah perempuan tidak boleh mengejar, karena kalau dilarang justru masalah. Perempuan boleh menyatakan cinta terlebih dahulu pada laki-laki, dan itu tak membuat posisinya rendah. Boleh merasakan cemburu, dan itu tak menandakan kalah. Perempuan boleh menjadi pihak yang aktif, asal usaha (berjuang) mencintai itu tak berubah menjadi kewajiban kompensasi (bersifat transaksional). 

Apa bedanya cinta yang menuntut resiprokal (timbal balik) dan cinta yang menjadi kewajiban kompensasi? Terletak pada motivasi dasar dan dinamika emosional di dalamnya. Cinta yang resiprokal didasarkan pada prinsip kesetaraan dan hubungan dua arah yang sehat. Sedangkan kompensasi, dilatari niat hutang budi atau rasa bersalah. 

Kenapa cinta yang sehat membutuhkan resiprositas? Agar tidak terjadi cinta yang asimetri. Tapi tentunya soal cinta itu menyangkut hati, di mana ia punya cara kerja yang berbeda dengan pikiran, kadang ada di titik sulit kita kendalikan, seolah ia punya kehendak sendiri. Pikiran sudah tahu, sudah selesai, tapi hati masih melakukan kerja emosional. Jadi, perihal cinta sulit menuntut simetri yang absolut. 

Katakanlah pada tahap penjajakan (pedekate) kita mencintai dia lebih dulu, dengan kadar 80% misalnya, sedangkan dia baru mencintaimu 30%. Itu asimetri afektif. Kemudian kamu berjuang, mengusahakan untuk mendapatkan cinta dengan kadar yang sama, tapi ternyata pada akhirnya dia hanya mampu memberimu kadar 40%. Apa yang harus kita lakukan? Pertama, tentu kita patah hati. Ini harus kita terima dengan lapang dada. Pada suatu fase tertentu, kita sudah mencintai dia lebih besar dari pada cinta dia berikan pada kita. Dia berhak mengatakan tidak, dan kita juga berhak untuk berhenti ketika relasi yang kita jalani ternyata tidak menjadi mutual, tidak resiprokal. Saya tahu ini sulit, sudah saya bilang hati jauh lebih lambat memahami dari pada fikiran.

Saya fikir, feminisme tidak membunuh romantisme tentang “memperjuangkan cinta”. Ia hanya memberikan batas  apa yang boleh dilakukan atas nama perjuangan itu. Karena perjuangan cinta dalam feminisme, tidak hanya bicara tentang bagaimana membahagiakan pasangan, tapi juga menuntut keadilan dalam hubungan tersebut. 

Bell Hooks dalam bukunya All about Love (1999), menawarkan konsep cinta radikal (radical love). Menurutnya, cinta sejati tidak terlepas dari keadilan. Dalam posisi asimetris, cinta yang “berjuang” hanya akan relevan dan revolusioner ketika perjuangan tersebut bertujuan untuk menuju kesetaraan (simetri) dan pemulihan, bukan kelanggengan penindasan. Jika perjuangan tersebut hanya untuk bertahan dalam ketimpangan, maka itu bukan cinta tapi keterikatan pada trauma (trauma bonding) atau dominasi. 

Agar tulisan ini tak menjadi ceramah cinta feminis, sebagai seseorang yang kebetulan selalu gagal dalam cinta saya hanya bisa bilang, ketika kamu menyukai seseorang, kamu berhak memperjuangkannya, mengupayakan untuk mendapatkan hatinya, tapi ketika dia tak mampu membalas dengan cinta yang sama besarnya, yang setara kedudukannya, berhenti. Mungkin jawabannya sesederhana dia bukan jodohmu. Terakhir saya kutip sepotong puisi karya Nizar Qabbani berjudul Ahibbi Bila Uqud:

Cintailah aku bukan sebagai kewajiban,

Bukan karena kebiasaan,

Tapi sebagai pemberontakan.

Karena aku bukan lelaki yang ingin disembah,

Tapi lelaki yang ingin dimengerti dalam bahasa api. 

Mungkin Nizar tidak sedang berbicara feminisme, tapi saya membacanya demikian, bahwa mencintailah secara feminis. Karena cinta yang hanya menuntut kepatuhan itu adalah perbudakan emosional. Karena cinta tanpa pemberontakan, adalah bentuk halus dari penaklukan. Apa itu cinta yang feminis? Cinta yang tidak takut untuk menatap balik, cinta yang memberi ruang untuk berkata tidak. Dan cinta yang menganggap penolakan bukan sebagai penghinaan. Dan paling sulit, cinta yang tahu kapan harus pergi. (SDH)

Wartini Sumarno

Seorang warga Serang penikmat kopi.