Sudah berhari-hari langit Gorontalo dikepung asap. Awan keabu-abuan itu menutupi langit yang biru. Saya dan beberapa warga Gorontalo lainnya awalnya merasa bersyukur dengan awan abu-abu itu. Kami mengira awan itu akan membawa hujan bersamanya. Sebab sudah beberapa minggu daerah kami tidak diguyur hujan. Bahkan, para petani di sekitar rumah saya belum juga membajak sawah. Kami menyebut polodulahe. Istilah ini umum digunakan masyarakat Gorontalo saat mengekspresikan dua hal, musim dan kondisi ekonomi.
Namun yang saya perbincangkan kali ini adalah pasal musim, atau fenomena alam. Kondisi langit yang gelap itu menghalangi sinar matahari. “Seperti bulan,” kata seorang pria yang saya temui di jalan. Belum lagi masalah debu yang pekat, membuat sesak.
Fenomena alam ini tentu ada sebabnya. Kekeringan yang melanda sejumlah belahan dunia, termasuk Indonesia, juga fenomena asap yang menyebabkan kabut, membatasi jarak pandang dan membuat sesak saat bernafas. Dampak yang kedua ini menggerakkan massa untuk saling peduli, dengan membagi-bagikan masker ke pengguna jalan.
Bencana yang terakhir disebutkan sebelumnya bukan berasal dari alam, melainkan dari tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Dari berita yang beredar, kita ketahui para pelakunya telah diamankan?
Perilaku ini mendatangkan bencana yang berdampak pada dua hal: ekologis dan antropologis. Dampak ekologinya sudah terlihat sejak awal: hutan yang terdekstruksi, hewan-hewan yang termarjinalkan, dan bumi yang kian hancur. Dari yang nampak saja, seperti Orang utan yang mati, kemudian pohon yang beraneka ragam juga habis terbakar, tinggal abu.
Dampak ekologis ini kemudian bersimbiosis dengan dampak antropologis. Dampaknya bisa dirasakan di lini kehidupan manusia baik sosial, ekonomi, dan budaya. Sebab kita tidak bisa memisahkan hubungan manusia dan alam. Keduanya saling padu.
Salah satunya para pekerja yang kesehariannya di jalan, seperti ojek online, para teknisi, pedagang, petani, nelayan, dan berbagai pekerja lainnya, tentu merasakan langsung dampak dari debu yang merupakan efek samping pembakaran hutan.
Dari hal-hal yang membawa dampak buruk yang tidak sedikit ini, membuat kita harus sadari bahwa manusia bukanlah bagian yang terpisah dari alam, tapi merupakan alam itu sendiri. Secara sederhana disebut hubungan Ekologi-Politik. Dimana ketergantungan hidup manusia dan lingkungan adalah hal yang dasar. Dalam agama juga mengecam hal-hal destruktif, terutama merusak alam.
Kita telah diberikan bumi yang bisa ditinggali. Di dalam bumi itu kita dianugerahi air yang melimpah, tanah yang luas, di dalamnya kita hidup dan berkembang, kemudian membangun peradaban. Amanah ini tidaklah gratis, kita harus menebusnya dengan menjaganya sebaik mungkin.
Dalam Islam, Tuhan telah mewanti-wanti agar manusia tidak berbuat hal demikian, “Dan janganlah melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (Q.S. 2 : 60)
Beberapa waktu yang lalu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengimbau agar kita melakukan pertaubatan ekologis. Landasan dari ajakan itu adalah hubungan kita dengan sesama makhluk, atau ukhuwwah makhluqiyyah. Katanya, “Selama kita menganggap alam semesta ini benda mati untuk dieksploitasi, kiamat akan datang lebih awal.”
Hal yang diungkapkan jadi suatu rem bagi kita. Agar sadar penuh posisi kita sebagai manusia yang merupakan puncak tertinggi kehidupan di bumi ini. Dibekali dengan akal yang punya dua sisi, sisi yang membawa kebaikan atau sisi yang membawa keburukan bagi lingkungannya. Yang paling minimalnya kita tidak membakar hutan tanpa alasan yang jelas, dan tidak bertanggung jawab atas buntut kelakuan yang terjadi setelahnya. Jadi kita perlu taubat secara ekologis kepada alam ini. Jangan sekedar menggerus hasilnya, kemudian dirusak pula, tanpa adanya upaya untuk melestarikan.
Memang pertaubatan ekologis yang diperlukan saat ini. Namun ada hal yang perlu saya hadirkan di dalam pembahasan kita ini. Bahwa, selain pertaubatan ekologis, kita juga perlu melakukan pertaubatan-pertaubatan lainnya. Salah satunya pertaubatan politik. Politik yang saya maksud adalah keputusan-keputusan yang kita ambil sebagai hal yang akan menentukan masa depan. Tidak hanya lima tahun, tapi sepuluh tahun, atau bahkan untuk seratus tahun kedepan.
Pertaubatan ini juga penting. Sebab dampaknya tidak hanya langsung kita rasakan, tapi juga generasi-generasi mendatang. Lahirnya institusi politik yang ekstraktif berawal dari sikap acuh kita terhadapnya. Kita sering menganggap hal yang diputuskan oleh pemangku kebijakan tidak penting, karena tidak akan memengaruhi hidup yang sekarang. Jika kita merenungkan sedikit agak lebih dalam, bahwasanya kita adalah para pemangku kebijakan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan yang lahir kedepannya, merupakan tanggung jawab kita sejak dari pilihan pertama politik kita.
Namun, kita sering menganggap remeh arah politik di negeri kita tercinta ini. Bukankah ini merupakan sikap paling angkuh dari manusia, khususnya kita manusia Indonesia? Untuk mengobatinya, kita harus balik dan belajar banyak dari sejarah panjang bangsa ini, jika kita masih berpikir seperti itu.
Sejarah telah membuktikan, bahwa pengelolaan alam oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab pasti membawa bencana. Kemudian sikap dari pemangku kebijakan yang sangat diperlukan di sini. Jika institusi politiknya inklusif, maka arah pemecahan masalah di kehidupan bernegara dan berbangsa akan baik. Namun sebaliknya, jika ekstraktif maka langkah yang diambil akan selalu dipengaruhi oleh elektabilitas, apakah itu akan berdampak pada pribadi atau golongannya atau tidak.
Kemudian secara universal kita harus taubat dari sifat buruk kita sendiri. Yaitu manusia yang hipokrit. Sifat yang mendarah daging pada bangsa ini sejak era kolonial. Untuk menata dalam rangka menyambut era emas Indonesia nanti di 2045, kita harus membersihkan penyakit-penyakit sosial ini. Kita harus membangun budaya jujur, terutama bagi diri kita sendiri.
Saya sering dikritik oleh istri saat hendak membuang sampah sembarangan. Katanya, kalau ada seribu orang di luar sana yang berbuat buruk, seperti buang sampah sembarangan, kamu jangan jadi salah satunya. Mungkin ini sederhana, tapi kita bisa menerapkannya pada diri sendiri, jika kita merasa merusak bumi itu salah, maka ikutilah itu, karena di dalam kita pasti ada moralitas yang membawa pada sifat-sifat positif.
Sehingganya tidak akan ada lagi ungkapan seperti yang diutarakan sang guru bangsa kita, Gus Dur “Biar sejarah yang menjawabnya.” Hal-hal yang disembunyikan sekarang pasti akan terungkap seiring dengan waktunya. Hanya menunggu zaman bergerak, atau kita yang menggerakkan zaman. Sebab dalam ajaran agama-agama kita tidak dibiarkan untuk melihat keburukan, kemudian tinggal diam dan tidak berbuat sesuatu, tapi kita dianjurkan untuk memperbaiki kesalahan itu, baik dengan tangan, ucapan, atau selemah-lemahnya adalah dengan doa.
Saya ingin mengangkat kembali kutipan dari Gus Dur bahwa, baginya guru spiritual adalah realitas, dan guru realitasnya adalah spiritualitas. Secara sederhana saya memaknai bahwa semakin kita memahami posisi sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya, yakni makhluk yang memiliki akal sebagai pengontrol perilaku, maka selayaknya kita dapat mengambil sikap paling baik di tengah kehidupan ini. (SDH)