Opini

Dua Perempuan dan Absennya Pemimpin Agama Atas Masalah Umat

Pada 26-28 Oktober 2026, saya mewakili Jaringan GUSDURian berangkat ke Kuala Lumpur untuk mengikuti Dialogue Cities Southeast Asia 3rd Conference. Jujur, ada sedikit kekhawatiran di awal. Hubungan Indonesia dan Malaysia sedang agak menegang akibat kabut asap kebakaran hutan yang menyeberang sampai ke Malaysia. Saya bertanya-tanya, bagaimana rasanya datang sebagai orang Indonesia di tengah situasi seperti ini?

Untungnya, kedatangan kami disambut hujan lebat. Udara yang tadinya pekat menjadi jernih, alhamdulillah.

Konferensi dibuka pada Senin pagi, 26 Oktober 2026, di Sheraton Imperial Hotel, Kuala Lumpur. Acara ini diselenggarakan oleh KAICIID (The King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue) bersama Allied Coordinating Committee of Islamic NGOs (ACCIN).

Sebanyak 65 peserta hadir dari berbagai di Asia Tenggara seperti: Bangkok, Davao, Kuala Lumpur, Singapura, dan Yogyakarta. Latar belakang mereka beragam: anak muda, pemimpin agama, akademisi, aktivis lintas agama, NGO, kelompok penghayat kepercayaan dan masyarakat adat, perwakilan pemerintah, hingga jurnalis. Forum ini dirancang sebagai ruang temu dan dialog tentang persoalan yang dihadapi banyak negara di Asia Tenggara, bahkan dunia: krisis iklim, polarisasi, dan kecerdasan buatan.

Dari semua yang saya dengar, ada dua perempuan yang paling membekas sampai hari ini: Nurul Izzah Anwar dan Dr. Kamar Oniah Kamaruzaman. Keduanya tegas dan berani bersuara. Di tengah forum yang kadang terasa normatif, mereka membawa persoalan yang sedang nyata dihadapi masyarakat: kebakaran hutan, manusia-manusia yang terpinggirkan, dan kekecewaan mereka pada pemimpin agama yang memilih diam.

Karena penasaran, saya mencari tahu siapa Nurul Izzah ini. Ternyata ia aktivis sekaligus politisi yang cukup dikenal di Malaysia, putri Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR) dan kini memimpin Suluh Centre, lembaga pemikir dan advokasi. Di hadapan jurnalis se-Asia Tenggara, ia menyatakan kekecewaannya atas kegagalan negara-negara di kawasan ini mengatasi kebakaran hutan.

Saat menjadi keynote speaker, ia berkata bahwa dunia terasa begitu gelap, bahkan di negara-negara Asia Tenggara yang punya keistimewaan soal perdamaian, karena kita punya masalah bersama yakni, kabut. Banyak orang dilupakan, tidak terurus, seolah tidak dianggap ada. Banyak yang sampai hari ini harus bernapas di tengah asap. Sementara kita yang punya privilese bisa bernapas lega dan mengira itu cara hidup yang normal. Padahal tidak. Masih sangat banyak orang hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan. Maka, bersuaralah.

Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin agama semestinya lebih terdepan dalam merespon masalah sosial yang sedang terjadi. Merekalah orang yang paling tahu bahwa manusia terutama para pemimpin negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyat dan lingkungan tempat ia tinggal. Namun, kini para pemuka terkesan lebih memilih diam . Bahkan, menganggap kekacauan dan derita yang sedang dialami masyarakat saat ini merupakan takdir yang harus dengan lapang dada diterima begitu saja.

Sementara itu, Dr. Kamar Oniah merupakan aktivis sejak usia sangat muda. Saya berkesempatan menemuinya selepas acara. Di usia 75 tahun, semangat perlawanannya sama sekali tak usang. Kini, ia adalah guru besar perbandingan agama (Comparative Religion) di International Islamic University Malaysia dan salah satu pakar terkemuka di bidangnya.

Pesannya lugas: silence is a crime. Pemimpin agama harus bersuara. Mereka punya jemaah, dan karena itu bertanggung jawab menyadarkan, bahkan menggerakkan jemaahnya untuk turun ke jalan. “Mereka punya jemaah,” katanya, penting menggerakkan jemaah dari masjid, kuil, dan gereja untuk berdemonstrasi.

Menarik ia bilang bahwa kini pemuka agama hanya fokus pada kesalehan pribadi. mereka mengabaikan pentingnya hubungan antar manusia dan soal tanggung jawab manusia menjaga bumi dari kerusakan.

Ketika Agama Jadi Tujuan, Bukan Jalan

Dari sini saya tersambung pada satu pertanyaan: jangan-jangan sikap yang hanya berfokus pada kesalehan pribadi ini juga salah satu penyebab tumbuhnya fanatisme?

Kamar Oniah sempat menyinggung mengapa manusia begitu terobsesi dengan agama. Baginya, agama hanyalah cara. Tuhan milik semua orang, milik semua agama. Fanatisme sering muncul justru ketika manusia lupa menyembah Tuhan dan malah menyembah agama. 

Spirit ini mengingatkan saya pada pesan Gus Dur bahwa agama tidak boleh jauh dari kemanusiaan. Sering kali kita sibuk berlomba masuk surga lewat ibadah dan kesalehan pribadi, sampai lupa bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang menunggu suara kita. Mereka membutuhkan hati dan mata yang terbuka, agar kita berani bersuara menuntut negara bekerja dengan benar, sebagaimana mestinya.

Adin Fahima Zulfa

Komandan Media Sosial Jaringan GUSDURian.