Belajar Kemanusiaan Berbasis Kearifan Tradisi dari Gus Dur di Pojok GUSDURian UINAM

Kearifan tradisi menjadi salah satu dari sembilan nilai utama Gus Dur. Hal ini yang menjadi dasar para penggerak GUSDURian Makassar kembali membincangkan persoalan kebudayaan pada Pojok GUSDURian UINAM #12.

Pada pojok edisi ke-12 yang diselenggarakan di pelataran masjid UINAM ini, GUSDURian Makassar mengangkat tema “Sipakatau ala Gus Dur dalam perspektif Lokal Wisdom Bugis-Makassar” pada Kamis (6/10/22).

Andi Muhammad Syukur ditunjuk untuk menjadi pembicara pada kesempatan kali ini. Ia merupakan mahasiswa UINAM dari jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum. Selain itu, pria yang disapa Askur itu juga banyak terlibat dalam merawat tradisi para leluhur khususnya di Sulawesi Selatan.

Ketika memulai diskusi, Askur menjelaskan bahwa nilai-nilai yang tercantum pada 9 nilai utama Gus Dur pada dasarnya bersifat universal dan dapat diterima pada tataran masyarakat luas, khususnya masyarakat Bugis-Makassar.

“Adalah Gus Dur sebagai sosok pejuang kemanusiaan yang juga berbasis kearifan lokal. Keterbukaan pemikiran serta kemerdekaan pilihan individu juga menjadi hal yang ia perjuangkan. Bukan itu saja, 9 nilai dari Gus Dur adalah ajaran pokok yang pada dasarnya bersifat universal dan dapat diterima masyarakat kita,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa falsafah yang dipegang teguh masyarakat Bugis-Makassar memiliki banyak kemiripan dengan nilai yang diperjuangkan oleh guru bangsa itu.

“Nilai-nilai ajaran Gus Dur juga terdapat dalam falsafah luhur masyarakat Bugis-Makassar, yaitu konsep Sipakatau atau saling memanusiakan. Konsep sipakatau ini sebagai salah satu bentuk pengakuan dan penghargaan manusia terhadap sesamanya. Pun demikian, nun jauh berabad lamanya, konsep itu juga digunakan masyarakat Bugis-Makassar ratusan tahun silam,” tambahnya.

Melihat kembali ke belakang bagaimana sikap yang diteladankan oleh Gus Dur pada saat beliau dilengserkan, merupakan sebuah bentuk kekesatriaan yang lebih mengedepankan kemanusiaan ketimbang ego kekuasaan.

Dalam sejarah peradaban Bugis-Makassar, jauh sebelum adanya seorang Gus Dur, hal demikian juga sudah dicontohkan oleh para leluhur di Sulawesi Selatan, khususnya di Kerajaan Gowa. Dalam lontara bilang gowa dijelaskan tatkala dalam pertempuran sengit antara laskar Bone dan Gowa. Kondisi perang waktu itu tidak terlalu memihak pada Kerajaan Gowa, namun semangat dari Kerajaan Gowa untuk terus melawan sampai titik darah penghabisan.

“Melihat hal itu seorang raja Gowa, Imangngerangi DG Manrabbia Sultan Alauddin, menyerukan peringatan pada laskarnya. Dengan lantang ia meneriakkan pesan kemanusiaan yang berbunyi, 'Punna takkuleangmo nipaentengi sirika, paentengi paccena.' Artinya jika sekiranya kita sudah tidak mampu menegakkan martabat kita, maka tegakkanlah solidaritas kemanusiaan itu. Hal Ini menunjukkan bahwa leluhur kita lebih mementingkan kemanusiaan ketimbang ego kekuasaan,” tutupnya.

Pada akhir diskusi, Andi Muhammad Syukur menyampaikan rasa bela sungkawa atas Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang Aremania dan menyerukan agar pihak berwajib segera mengusut tuntas tragedi ini. Tidak lupa juga Askur mengajak semua peserta diskusi untuk bersama-sama mengirimkan doa kepala guru bangsa, Gus Dur dan para korban Tragedi Kanjuruhan.

Author

Bagikan tulisan ini: