Category: Headlines

HomeHeadlines

Semester ini saya mengajar dua matakuliah: religious pluralism dan religious freedom. Yang pertama itu matakuliah baru, dan jika ada waktu saya ringkaskan diskusinya tiap akhir pekan, walaupun tidak mungkin memotret dinamika yang terjadi di kelas. Minggu pertama ini kita mendiskusikan pandangan Alkitab tentang agama-agama, dengan membaca Injil Matius dan 1 Korintus. Saya mengawali dengan pertanyaan: …

Masalah privilese itu nyata, bukan fiksi. Gus Dur mungkin satu dari banyak tokoh yang tumbuh karena adanya privilese. Dan ia mengakui adanya privilese tersebut. Kita tahu, ia adalah anak (mantan) menteri, cucu pendiri NU dan Pesantren Tebuireng. Ia adalah seorang yang berdarah biru. Dalam suatu wawancara dengan sebuah majalah di tahun 1996, ia pernah menyatakan …

Mohammad Sobary dalam prolog buku Demokrasi Indonesia: Antara Asa dan Realitas karya Prof. AS. Hikam, menilai bahwa demokrasi di Indonesia pasca-reformasi telah mengalami kemacetan. Hal ini disebabkan karena kegagalan dalam institusional politik pada aras politik elektoral. Selain itu, akhir-akhir ini marak terjadi politik identitas masyarakat yang masuk dalam panggung politik elektoral di Indonesia. Indonesia sebagai salah …

Minggu ini kelas “religious pluralism” mendiskusikan pandangan al-Qur’an tentang keragaman agama. Saya memilih surat al-Ma’idah karena surat itu sangat intens bicara agama lain, dari soal kitab suci hingga debat Kristologi. Para mahasiswa dengan cepat menangkap kesan tersebut, hingga muncul pertanyaan: Siapa sih sebenarnya audien al-Qur’an? Sulit dibayangkan kitab suci kaum Muslim ini muncul dari iklim …

Setelah aksi 212 dan reuni-reuninya, istilah “silent majority” yang merujuk pada mayoritas Islam yang toleran tapi diam, tak lagi tepat untuk dibangga-banggakan. Ya, kalau mau diam terus, jangan salah kalau lama-lama kalian digilas juga. Rumusnya, “Yang diam akan digilas keadaan”. Tapi masalahnya, nggak hanya masalah fasisme saja umat Islam mayoritas diam (karena pada aspek tertentu …

“Gus Dur mengucapkan politik secara humor dan mendengarkan humor secara politik. Dan ia tidak peduli mana sebab dan akibat.” (Rocky Gerung) Bertold Brecht boleh mengatakan “Sengsara, hidup di negara yang tidak memiliki humor. Tetapi lebih sengsara lagi, hidup di negara yang membutuhkan humor”. Namun, bangsa-bangsa yang berperadaban tinggi cenderung memiliki humor yang baik. Persia mempunyai …

Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur, kita tahu ia adalah seorang ulama Muslim, ketua Nahdlatul Ulama (NU) dari tahun 1984 yang mungkin adalah organisasi ulama dan cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Penglihatannya yang hampir buta dan kerentanan fisik, (akibat komplikasi dari diabetes dan stroke), dapat disaksikan ketika ia terpilih dan dilantik sebagai …

Ketika Mahatma Gandhi wafat, ia-yang selama hidupnya antikekerasan dimakamkan dengan upacara militer. Ironis, mungkin juga menyedihkan: bahkan seorang Gandhi tak bisa mengelak dari protokol kebesaran yang tak dikehendakinya. Seorang tokoh besar yang wafat meninggalkan bekas yang panjang, seperti gajah meninggalkan gading. Kadang-kadang ia hadir sebagai ikon: sebuah tanda yang memberikan makna yang menggugah hati karena …

Ketuhanan yang maha esaKemanusiaan yang adil dan beradabPersatuan IndonesiaKerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilanKeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoonesia 1. Ketuhanan yang maha esa Seharusnya tak ada satupun entitas di dunia ini yang layak dituhankan selain Tuhan itu sendiri. Sayangnya di zaman kapitalisme mutakhir dan mewabahnya -at-takfir, tak sedikit manusia beriman, entah …

Sejalan dengan maknanya bahwa moderat itu adalah bersikap adil, jauh dari sikap fanatik terhadap sesuatu dan selalu mengambil jalan tengah untuk menyelesaikan perkara. Maka hal ini bertolak belakang dengan sikap fanatik yang mengandung arti, bahwa ia hanya percaya terhadap sesuatu yang ia yakini benar, ia tidak akan menerima keyakinan atau sesuatu kebenaran dari orang lain. …