Gus Dur di Mata Osman Bakar

Sosok Gus Dur tidak hanya dikenal luas di dalam negeri tetapi juga menarik perhatian masyarakat internasional, tidak terkecuali kalangan akademisi. Maka tidak mengherankan jika sosok semacam Greg Barton misalnya sampai menghasilkan karya biografi tentang sosok Gus Dur berjudul The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2002). Selain akademisi Barat macam Barton, nama Gus Dur juga menarik perhatian akademisi di wilayah Asia Tenggara. Salah satu akademisi kontemporer di Asia Tenggara yang juga bersimpati dan menekuni secara kritis pemikiran Gus Dur ialah Osman Bakar.

Osman Bakar sendiri dikenal sebagai salah satu murid paling “terkemuka” dari Hossein Nasr. Nasr adalah salah satu filsuf Muslim kontemporer yang berasal dari Iran yang dikenal dengan kajian intensnya soal filsafat Islam, filsafat perenialisme, dan juga ide tentang Islamisasi pengetahuan -yang ia istilahkan sebagai proyek Sains Sakral. Gus Dur sendiri tercatat sempat menerjemahkan salah satu karya Hossein Nasr ke dalam bahasa Indonesia berjudul Islam dalam Cita dan Fakta (terjemahan dari karya Ideals and Realities of Islam) pada tahun 1981.

Selain menerjemahkan, Gus Dur juga sekaligus menulis kata pengantar untuk buku tersebut. Satu hal yang menarik, buku tersebut menempati posisi penting dalam dunia pemikiran di Indonesia, karena terjemahan tersebut menjadi terjemahan pertama tentang karya Nasr di Indonesia. Dengan kata lain Gus Dur adalah sosok yang “berjasa” mengenalkan pemikiran Nasr secara lebih luas ke publik Indonesia. Pasca terjemahan tersebut, terbukti antusiasme pada karya-karya Nasr menguat dan berbagai terjemahan atas karya-karyanya bermunculan dengan sangat pesat hingga hari ini.

Sebagaimana Gus Dur yang sempat menerjemahkan dan memberi pengantar pada buku Nasr, Osman Bakar -sang murid Nasr- juga “berjasa” menjadi penyunting (editor) dan juga memberi kata pengantar kepada edisi Malaysia dari buku yang berisikan transkrip dialog antara Gus Dur dengan Daisaku Ikeda -pemimpin dari gerakan Buddhisme kontemporer Jepang Soka Gakkai.

Sebelum diterjemahkan ke bahasa Malaysia, buku tersebut lebih dahulu dipublikasikan dalam bahasa Jepang di tahun 2010 yang sekaligus juga dalam waktu relatif singkat dipublikasikan dalam bahasa Indonesia berjudul Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian (2010). Bisa dikatakan edisi berbahasa Indonesia adalah edisi yang paling awal terbit dalam bahasa selain Jepang. Setelah edisi Jepang dan Indonesia terbit, barulah karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, dan juga Malaysia. Judul dari edisi Malaysia yang disunting oleh Osman Bakar sendiri berjudul Hikmah Toleransi: Falsafah Kepemurahan dan Keamanan (2022).

Tulisan ini akan mencoba mengeksplorasi bagaimana pandangan Osman Bakar terkait dengan pemikiran Gus Dur yang tertuang dalam karya Hikmah Toleransi: Falsafah Kepemurahan dan Keamanan (2022). Tulisan ini sepenuhnya merujuk kepada pemaparan Osman Bakar ketika menjadi salah satu pembedah buku ini ketika di-launching secara resmi di institusi ISTAC-IIUM pada 7 Januari 2023 lalu. Sebagai informasi, ISTAC adalah lembaga yang dirintis oleh Naquib Al-Attas, salah satu filsuf Muslim kontemporer asal Malaysia yang juga kawan dari Hossein Nasr. Menariknya, saat ini lembaga tersebut “dipegang” oleh Osman Bakar yang menjadi murid dari Nasr sekaligus juga pernah berguru kepada Al-Attas.

Dalam pemaparannya, paling tidak Osman Bakar berbicara tentang dua hal pokok, yakni bagaimana perkenalannya dengan buku tersebut dan juga bagaimana refleksinya tentang buku tersebut yang ia baca dalam kerangka kajian peradaban. Terkait dengan perkenalan dengan buku tersebut, Osman Bakar mengungkapkan bahwa ketertarikannya kepada pemikiran Ikeda dan Gus Dur tidak dapat dilepaskan dari perjumpaannya dengan buku dialog Ikeda dan Arnold Toynbee, salah satu sejarawan terkemuka di Barat. Osman Bakar menyatakan karena keduanya berbicara tentang isu peradaban, maka dirinya yang merupakan sosok yang memiliki perhatian dengan kajian peradaban langsung “jatuh cinta” pada buku tersebut dan sejak saat itu berupaya mendalami pemikiran Ikeda.

Lebih jauh Osman Bakar menyadari bahwa Ikeda yang berupaya membahas isu peradaban dengan berbagai lawan bicaranya ternyata juga memiliki perhatian terhadap peradaban Islam. Osman Bakar yang juga mendalami kajian filsafat dan pemikiran Islam tentu menjadi semakin tertarik untuk melihat bagaimana Ikeda mampu membangun dialog yang konstruktif dengan peradaban Islam.

Osman Bakar menggarisbawahi bahwa Gus Dur adalah pemikir kedua yang diajak berdiskusi dengan Ikeda setelah sebelumnya ia berdiskusi dengan salah satu pemikir Islam asal Iran bernama Majid Tehranian. Dengan kata lain di mata Osman Bakar, Gus Dur adalah salah satu pemikir penting dari dunia Islam yang mampu menempatkan Islam dalam kerangka kajian peradaban sebagaimana Tehranian. Dapat dikatakan dari dialog Ikeda dan Gus Dur itulah Osman Bakar mengagumi Gus Dur sebagai salah satu pemikir Islam penting tidak hanya dalam konteks Indonesia tetapi juga dunia.

Terkait dengan refleksi Osman Bakar terhadap isi dari dialog Gus Dur dan Ikeda sekiranya dapat terangkum dari istilah yang dicetuskan oleh Osman Bakar, yakni buku tersebut mampu memberikan inspirasi untuk mengembangkan art of living peace (seni untuk hidup berdampingan/penuh kedamaian). Istilah art of living peace sendiri merupakan counter/respons terhadap tesis yang terkenal dari Huntington dan akademisi yang sejalan dengannya tentang munculnya konflik antara peradaban. Dengan kata lain Ikeda dan Gus Dur alih-alih mengafirmasi tesis tersebut, keduanya justru menginginkan agar dunia tidak dipenuhi oleh konflik namun perdamaian. Art of living peace inilah yang sekiranya menjadi kunci masa depan peradaban global yang “baru” di mana tidak ditandai dengan konflik tetapi dialog.

Osman Bakar kemudian menyoroti apa fondasi dari art of living peace yang diyakini oleh Ikeda dan Gus Dur? Bisa dikatakan keduanya sepakat bahwa agama, khususnya dalam pembicaraan ini adalah Islam dan Buddhisme, merupakan fondasi metafisik dari art of living peace tersebut. Alasannya tidak lain ialah Ikeda dan Gus Dur memahami bahwa intisari dari ajaran Islam dan Buddhisme adalah kedamaian, rahmat, dan welas asih (atau jika meminjam judul buku dalam edisi Malaysia: kepemurahan dan kedamaian).

Dengan kata lain ajaran agama (dalam hal ini Islam dan Buddhisme) merupakan kekuatan moral yang positif bagi perdamaian dunia dan juga kunci bagi masa depan peradaban global lebih baik. Etika Islam dan Buddhisme yang menekankan pada kedamaian, rahmat, dan welas asih bagi sesama makhluk (tidak terbatas manusia) inilah yang sekiranya dibutuhkan untuk mentransformasikan tata dunia saat ini yang dipenuhi dengan “ketidakadilan” baik bagi sesama manusia dan juga alam menjadi dunia yang dipenuhi nilai-nilai kedamaian dan kepemurahan.

Pendekatan etiko-spiritual inilah yang bagi Osman Bakar juga menjadi kunci bagi masa depan ASEAN, di mana menurutnya agama Buddhisme dan Islam merupakan agama paling besar di kawasan ASEAN. Sehingga ketika pendekatan etiko-spiritual ini dapat dikembangkan sedemikian rupa sebagai basis bagi art of living peace di wilayah ASEAN, maka berbagai konflik yang hari ini melanda wilayah ASEAN dan melibatkan pemeluk Islam dan Buddhisme sebagaimana terjadi di Myanmar dan Thailand misalnya dapat diatasi.

Permasalahnnya bagi Osman Bakar ialah masing-masing pemeluk agama mesti memahami intisari agamanya dan juga perlu untuk menjadikan landasan etiko-spiritual tersebut sebagai fondasi untuk hidup, bekerja, dan juga berpikir bersama (live, work, think together) di antara pemeluk Buddhisme dan Islam di ASEAN. Dengan cara itulah maka ASEAN dapat menjadi wilayah “percontohan” di mana kedamaian dan kepemurahan dapat menjadi ciri dari kawasan tersebut.

Selain ASEAN, Osman Bakar juga menggarisbawahi bahwa pendekatan etiko-spiritual yang menjadi intisari dari ajaran Islam dan Buddhisme tersebut dapat menjadi landasan etika global tata dunia saat ini. Bagi Osman Bakar, saat ini dunia amat membutuhkan landasan etika yang mampu menjunjung tinggi human dignity (martabat manusia), tolerance (toleransi), dan juga spiritualy based culture (budaya yang berlandaskan pada asas spiritual); bukan logika benturan peradaban (clash of civilization) yang dapat dikatakan merupakan ekstensi dari logika Perang Dingin yang membayangkan dunia sebagai “medan pertempuran” tanpa henti. Satu logika yang tentunya menyengsarakan umat manusia dan juga makhluk hidup lain akibat nalar konfliktual semacam itu. Osman Bakar menyatakan bahwa baik Ikeda dan Gus Dur sama-sama sepakat bahwa bukanlah art of war yang dibutuhkan dunia saat ini, tetapi art of living peace.

Dalam skala yang sangat mikro, dialog Gus Dur dan Ikeda yang dapat dikatakan merepresentasikan peradaban Islam dan Buddhisme mampu menghasilkan berbagai kesepahaman, saling pengertian, dan juga “saling mengisi” antara satu dengan lainnya. Dengan kata lain dialog antarperadaban atau art of living peace bukan suatu hal yang abstrak, melainkan suatu yang konkret dan dapat dimulai dari level terkecil dari pembentuk peradaban itu sendiri, yakni di level individu.

Agama yang menjadi identitas penting suatu peradaban dalam hal ini justru bukan dilihat sebagai pemicu konflik sebagaimana dipahami dalam lensa Huntingtonian. Agama yang dalam kajian peradaban diposisikan sebagai worldview ternyata justru dapat berfungsi sebagai jembatan untuk membangun kerja sama antara peradaban satu dengan yang lain tanpa mesti menegasikan salah satu worldview atau “meleburkan” kedua worldview tersebut.

Menggunakan istilah Osman Bakar yakni meeting point, bisa dikatakan bahwa dialog memungkinkan peradaban yang berbeda secara worldview untuk menemukan meeting point yang sekiranya memungkinkan kerja sama di antara mereka. Dalam konteks Ikeda dan Gus Dur, kedua pemikir yang dibesarkan dalam peradaban Islam dan Buddhisme melihat bahwa gagasan tentang etika atau moralitas yang sifatnya transendental menjadi meeting point keduanya dalam upaya merekonstruksi nalar peradaban kontemporer agar tidak lagi didominasi oleh nalar konfliktual, tetapi justru nalar kepemurahan dan kedamaian.

Satu poin yang sekiranya signifikan dalam pemaparan Osman Bakar ialah mengenai bias atau miskonsepsi mengenai peradaban tertentu yang sekiranya dapat dipakai untuk tujuan politis-konfliktual oleh pihak-pihak tertentu atas nama “civilizing mission” (misi pemberadaban). Osman Bakar misal menggarisbawahi soal isu gender yang juga menjadi pembahasan penting dalam buku tersebut. Sering kali isu gender misalnya, menjadi “senjata” untuk menyudutkan peradaban tertentu -termasuk dalam hal ini Islam.

Namun berbeda dengan pendekatan konfliktual yang termanifestasi dari upaya “civilizing mission” (misi pemberadaban), pendekatan dialog sebagaimana dilakukan Ikeda dan Gus Dur dapat menjadi sarana penting untuk memudarkan bias-bias tersebut. Menurut Osman Bakar melalui forum dialog tersebut, Gus Dur mengkarifikasi miskonsepsi yang sering kali melekat terkait dengan peradaban Islam dalam soal isu perempuan.

Satu hal yang mesti ditekankan dalam konteks ini upaya untuk menepis miskonsepsi terkait posisi perempuan dalam peradaban Islam bukan dalam rangka “apologetik” dan menutup mata atas berbagai realitas yang terjadi di sebagian negara Muslim. Akan tetapi dialog menjadi penting untuk menghilangkan prasangka terhadap Islam misalnya, yang dianggap inheren sebagai agama yang anti-perempuan. Narasi semacam ini pada gilirannya bukan berujung kepada perbaikan kondisi perempuan di wilayah negara Muslim tertentu misalnya, tapi menyuburkan rasisme gaya baru yakni islamofobia. Suburnya islamofobia justru menjadikan kalangan perempuan itu sendiri rentan menjadi korban “persekusi” atas nama “civilizing mission” sebagaimana terjadi baik di negara-negara Barat atau juga belahan dunia lain akibat narasi-narasi bias semacam ini.

Salah satu tindakan intoleransi bercorak islamofobia misalnya nampak ketika sejumlah perempuan Muslimah di negara Barat dipaksa untuk melepas hijabnya. Fenomena ini terjadi ketika ramai terjadi demonstrasi di negara Barat mendukung Masha Amani yang tewas di tangan aparat keamanan Iran. Perempuan muslimah yang tidak melepas hijabnya dianggap sebagai pro-rezim Iran dan tidak bersimpati kepada Masha Amini. Tindakan islamofobik semacam ini dapat terjadi karena memandang bahwa Islam dan hijab adalah sama dengan rezim Iran yang anti perempuan sehingga perlu untuk ditanggalkan atau bahkan dibakar di depan publik. Padahal seorang dapat membedakan antara kesalahan rezim Iran tanpa menggeneralisasi bahwa hijab adalah wujud opresi terhadap perempuan muslimah misalnya. 

Lebih jauh, adanya bias semacam ini tidak hanya menyuburkan rasisme-islamofobik terhadap kaum perempuan misalnya, tetapi juga memperkokoh nalar konfliktual dalam melihat peradaban lain. Sebagaimana disampaikan sejumlah aktivis perempuan, narasi semacam ini kemudian dipakai untuk mendorong “civilizing mission” terhadap perempuan Iran melalui jalan perang. Padahal terbukti bahwa perang yang dilakukan oleh negara Barat atas nama “civilizing mission” ini tidak menyisakan kecuali problem baru yang bahkan lebih akut. Perempuan Iran misalnya rentan menjadi korban perang tanpa henti sebagaimana telah terjadi di sejumlah negara Muslim semacam Afghanistan, Irak, Suriah, dan Libya akibat penerapan “civilizing mission” tersebut.

Dengan kata lain dialog dan juga penghayatan atas intisari dari ajaran agama yang dianut itulah kunci untuk menyelesaikan problem peradaban semacam ini dan bukan menggunakan logika konfliktual ala Huntingtonian yang bertentangan secara diametral dengan logika dialog yang diwacanakan oleh Ikeda, Gus Dur, dan kalangan lain yang sepemikiran dengannya. Sebagaimana dalam kasus ASEAN di mana konflik masih terjadi di antara pemeluk agama Buddha dan Islam, maka justru ruang-ruang dialog semacam ini perlu untuk terus didorong dan bukan menutup ruang dialog dengan memperkuat logika konflik, benturan, dan akhirnya perang antarperadaban. 

Terakhir, Osman Bakar menggarisbawahi strategi praktis yang disepakati oleh Ikeda dan Gus Dur tentang bagaimana membumikan art of living peace tersebut baik di tingkat global, regional, dan nasional. Strategi yang dimaksud ialah strategi pendidikan. Pendidikan yang dimaksud oleh keduanya ialah pendidikan yang mampu membentuk manusia secara utuh, manusia yang berdimensi material dan spiritual. Manusia yang berilmu sekaligus beretika. Bagi Ikeda dan Gus Dur pendidikan holistik inilah yang kini semakin sirna dan digantikan pendidikan yang menekankan aspek teknis belaka. Keduanya sepakat bahwa penguasaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan namun tanpa diimbangi dengan etika maka yang terjadi justru destruktif.

Bisa dikatakan nalar teknis dan pragmatik inilah yang juga menjangkiti umat beragama secara luas akibat sistem pendidikan semacam itu. Maka tidak dipungkiri kemudian muncullah sifat-sifat negatif yang bertentangan dengan etika-spiritual kepemurahan dan kedamaian yang diperjuangkan oleh Ikeda dan Gus Dur. Konflik di ASEAN atau belahan dunia lainnya -termasuk ide civilizing mission- misalnya sedikit banyak juga dipicu oleh sirnanya etika dan sebaliknya dominasi logika pragmatisme dan teknikalitas di mana melihat sesama manusia dan juga alam sekedar obyek yang mesti ditundukkan. Manusia dan alam bukan lagi diposisikan sebagai “kawan” dialog yang dengannya seorang dapat memperkaya cakrawalanya.

Maka tidak mengherankan bagi keduanya, reformasi pendidikan dan juga akses pendidikan yang mampu menjangkau semua kalangan (baik perempuan dan laki-laki) merupakan kunci untuk membentuk pribadi baru yang mampu membangun peradaban ke depannya secara lebih baik, termasuk dalam hal ini memastikan peradaban ke depannya adalah peradaban yang dimotori oleh etiko-spiritual falsafah kepemurahan dan kedamaian dan bukannya nalar konfliktual sebagaimana dipahami oleh Huntington dan pengikutnya.

Sebagai penutup, bisa kita simpulkan bahwa Osman Bakar mampu mengurai poin-poin kunci yang sekiranya terkandung dalam dialog Ikeda dan Gus Dur tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Osman Bakar kedua pemikir tersebut mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat secara luas -tidak mesti pemeluk Islam dan Buddha atau publik Indonesia dan Jepang- tentang bagaimana pentingnya transformasi peradaban saat ini berbasiskan spirit etika transendental yang sekiranya menjadi elemen penting dari peradaban Islam dan juga peradaban Buddhisme. Absen atau defisitnya etika pada hari inilah yang menyebabkan kuatnya nalar konfliktual yang sekiranya menjadi ruh dari tata dunia kontemporer saat ini.

Maka dalam konteks ini peran pemeluk agama (termasuk dalam hal ini Islam dan Buddha) yang didirikan dengan falsafah kepemurahan dan kedamaian mestilah terlibat aktif dalam mengenalkan dan memasyarakatkan art of living peace kepada komunitas global. Inilah satu tawaran model peradaban yang ideal yang sekiranya dapat menjadi alternatif dari logika Perang Dingin yang bermetamorfosis menjadi model clash of civilization yang terus menyemai konflik, perang, pertumpahan darah, kecurigaan, bias, dan juga kerusakan alam yang begitu parah di berbagai belahan dunia.

Author

Bagikan tulisan ini: