Gus Dur, Pemadam Konflik

Kisah ini saya dapatkan dua kali dari salah satu guru terkasih saya, Pak Mutammam Syafi’i. Beliau mendapatkannya dari kyai saya, Allahuyarham KH Masruri Abdul Mughni (Abah Kyai). Pak Mutammam merupakan salah satu kepercayaan Abah Kyai.

Abah Kyai mengenal Gus Dur sejak lama, saat mondok di Jombang pada awal 60-an. Gus Dur hadir dalam cerita-cerita Abah Kyai sebagai seorang santri yang haus ilmu pengetahuan. Gila baca. Pada saat bersamaan beliau seorang yang egaliter. Bagaimana pun, Abah Kyai adalah santri; Gus Dur cucu Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari, pemilik pondok. Gus Dur menghilangkan sekat antara dirinya dan Abah Kyai yang santri. Tetapi, bagaimana pun, toh Abah Kyai sungkan juga. Sering, “Gus Dur itu kalau baca buku pada malam hari rela diam di depan pintu kamar agar bisa mendapatkan cahaya bulan. Santri yang lain ya tak berani masuk kamar dan mengganggu kegiatan membacanya. Akhirnya tidur di luar kamar.”

Persahabatan Gus Dur dan Abah Kyai terus berlanjut. Ketika Gus Dur dilantik sebagai presiden pada 1999, Abah Kyai sangat bangga. Dalam beberapa kesempatan beliau sering sampaikan bahwa santri bisa menjadi apa pun. “Termasuk menjadi presiden,” dawuh Abah Kyai. Dan Abah Kyai sangat sedih ketika sahabatnya di-kuyo-kuyo, difitnah, dan akhirnya dilengserkan sebagai presiden. Saat itu, Abah Kyai sering meminta santri-santri untuk mengadakan istighatsah. Tetapi, dalam untaian doa yang dipanjatkan itu adalah kebaikan untuk bangsa. Bukan untuk meminta jabatan agar Gus Dur tetap menjadi presiden. Sejarah kemudian membuktikan, beliau lengser.

Meski demikian, kontroversi masih terus melingkupi sosok Gus Dur. Acap disalahpahami. Memicu perdebatan di sana-sini. Melahirkan pencinta dan pembenci.

Sampai-sampai ada salah seorang habib yang demikian benci kepada Gus Dur. Ingat dawuh Allahuyarham Mbah Moen bahwa bagaimana pun Habib adalah dzuriyyah Nabi maka saya takkan menuliskan namanya. Tahriman wa takriman lisayyidina Muhammad (demi menghormati dan memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad). Yang paling penting dalam kisah ini adalah bagaimana respons Gus Dur atas kebencian yang menimpanya.

Saking besar kebencian kepada Gus Dur, tak pernah ada pernyataan atau apresiasi yang keluar dari Habib tersebut. Gus Dur sudah mengetahui dan sering mendengar pernyataannya. Menanggapi itu, Gus Dur malah terkesan santai menanggapinya. Bahkan ketika banyak kyai yang justru panas dan tak rela Gus Dur dihinakan sebegitu rupa.

Selepas tak lagi menjadi presiden Gus Dur masih sering silaturahmi ke berbagai pondok pesantren. Dalam silaturahmi itu Gus Dur kerap mendinginkan suasana dan membuat mbombong para kyai. Bagaimana pun, kyai juga tetap manusia.

Dalam salah satu pertemuan yang juga dihadiri Allahuyarham Abah Kyai, Gus Dur dikabari tentang betapa beliau dihina, difitnah, dan dicaci maki sedemikian rupa. Salah seorang yang ikut dalam pertemuan itu mengusulkan, “Gus, apakah perlu diturunkan santri untuk membuat Habib itu diam dan dia mendapatkan pelajaran? Jika Gus Dur berikan restu, malam ini akan ada yang turun!”

Gus Dur menghela nafas mendengar usulan itu. Alih-alih memberikan restu, Gus Dur lantas menjawab, “Buat apa? Wong saya hadiahi Habib itu shalawat seribu kali sehari kok.”

Para kyai dan semua yang hadir kaget mendengar jawaban ini. Bukan hanya sebatas melarang melakukan kekerasan, Gus Dur malah mengusulkan untuk mereka yang hadir saat itu untuk sama-sama menghadiahi Habib tersebut shalawat seribu kali dalam sehari.

Semua yang hadir saat itu tak ada lagi keinginan untuk melakukan sesuatu atau hal negatif lainnya terhadap Habib tersebut setelah Gus Dur dawuh demikian.

Kisah ini hanya satu cerita lain yang menambahkan betapa Gus Dur merupakan pemadam konflik yang jitu.

Li Gus Dur, wa li Abah Kyai, wa li Mbah Moen, alfatihah.

Sumber: Islami.co

Bagikan tulisan ini: