Gus Dur yang Saya Kenal

Salah satu hal yang menarik dari mas Dur, waktu itu ke mana pun dia pergi, di tangannya selalu ada buku bacaan. Seringnya buku novel bahasa Inggris, atau paling tidak majalah (dia selalu baca Times atau Newsweek, dan The Economics). Dan dia membaca buku tanpa memandang tempat dan waktu. Di ruang tunggu bioskop, di terminal, bahkan ketika berdiri di atas bus, dia bisa asyik membaca tanpa menghiraukan kanan-kiri.

Bahkan saya –yang berjalan bersamanya– sering dianggap tidak ada ketika dia sedang asyik membaca. Sering kali saya harus menunggu seperti orang bloon, sampai dia berhenti membaca. Sehubungan dengan ini, saya harus berterimakasih kepadanya. Sebab, kemudian saya –tidak mau rugi– kemana-mana saya pun membawa buku bacaan. Jika dia membaca, saya –tidak harus bloon sendiri– juga membaca.

Selama bergaul di Mesir, saya rasa bukan saya saja yang merasakan keistimewaan mas Dur, khususnya tentang kecerdasan dan kelincahan berpikirnya. Tapi mungkin jarang yang menyadari keistimewaannya dalam memperhatikan, menganalisis, dan merekam banyak hal. Sebagai misal, dari mendengarkan pembicaraan saya yang sambil lalu tentang keluarga dan kampung halaman saya Rembang, mungkin dirangkum dengan cerita-cerita dari kawan-kawan lain yang juga dari Rembang, mas Dur bisa cerita tentang Rembang persis seperti orang Rembang sendiri, lengkap dengan nama-nama tempat dan tokoh-tokoh yang pernah saya ceritakan.

Beberapa bulan sebelum meletusnya G-30-S, dia datang ke kamar saya di asrama. Waktu itu saya anggap dia sedang meracau saja. Sebab, waktu itu Bung Karno masih jaya-jayanya, dan dia bicara soal kemungkinan-kemungkinan adanya perebutan kekuasaan. “Nggak tahu mana yang akan menang nanti,” katanya waktu itu, “entah tentara atau PKI.” Kemudian panjang-lebar dia menguraikan kemungkinan bila salah satunya menguasai Indonesia.

Ketika banyak cerita bahwa Gus Dur dalam forum-forum diskusi, sering tidur ketika penceramah sedang bicara, dia tetap bisa mengikuti dan bisa menanggapi pendapat penceramah yang bersangkutan, saya sendiri berpendapat hal ini –bila benar– bukanlah karena tokoh yang kini menjadi presiden itu mempunyai semacam ‘indera keenam’. Menurut saya –wallahua’lam– hal ini lebih dimungkinkan karena ketajaman perhatian, analisis, dan rekamannya itu tadi. Maksud saya, kemungkinan besar, sebelum datang ke forum diskusi Gus Dur sudah ‘memutar’ rekamannya tentang apa saja yang berkaitan dengan forum tersebut, termasuk para narasumber yang akan berceramah; sehingga dia sudah dapat mengira-ngira apa yang akan dikatakan si A atau si B dalam forum semacam itu.

Bersamaan dengan perjalanan waktu –seperti juga banyak orang yang lain– mas Dur mengalami banyak perubahan. Misalnya, dulu dia sangat necis dan perlente seperti Almarhum ayahnya (saat ini memang necis dan perlente lagi, tapi saya kira karena terpaksa). Pakaiannya selalu licin; dia setrika sendiri. Kalau tidak salah, mas Dur mulai berubah dalam hal ini, sejak menjadi ketua DKJ.

Dulu, dalam pergaulan, mas Dur sangat hangat dan sabar meladeni kawan-kawan hingga yang paling bebal sekalipun. Saya hampir tidak pernah melihatnya marah-marah. Telaten mendengarkan orang bicara, dan dia sendiri bila bicara, selalu jelas. Dia selalu bisa menerangkan hal-hal yang sulit dengan bahasa yang mudah diterima, dan jarang sekali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menimbulkan perdebatan. Kalau tidak salah, mas Dur mulai berubah dalam hal ini, sejak menjadi ketua PBNU.

Yang, menurut saya, tidak pernah berubah dari mas Dur –selain sifat kesetiakawanan dan humornya–  adalah komitmennya terhadap penegakan demokrasi dan obsesinya tentang kejayaan bangsanya.

(Artikel ini sepenuhnya diambil dari buku Gus Dur Garis Miring PKB)

Bagikan tulisan ini: