Jaringan GUSDURian Selenggarakan Seminar Indonesia Rumah Bersama di Makassar

Indonesia merupakan rumah bagi beribu suku, bahasa, dan agama. Bertahun-tahun keberagaman ini menjadi ciri khas dari Indonesia. Namun dewasa ini, rumah bersama itu mendapat ancaman, yaitu ekstremisme dan eksklusivitas beragama, dan juga politik identitas.

Oleh karena itu Jaringan GUSDURian bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri mengadakan seminar Indonesia Rumah Bersama dengan mengangkat tema “Merawat Kebinekaan dalam Bingkai Keindonesiaan”.

Kegiatan kali diawali oleh sambutan dari perwakilan Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian. “Kegiatan ini menjadi Ikhtiar dan iktikad baik komunitas untuk mengkampanyekan kembali narasi perdamaian dan keberagaman.”

Haibatun Nisa selaku perwakilan Seknas GUSDURian juga menyampaikan bahwa kegiatan seminar
Indonesia Rumah Bersama ini diadakan di 10 titik perwakilan se-Indonesia, dan kegiatan di Makassar ini
adalah kegiatan yang kelima.

Selanjutnya Wakil Rektor IV Universitas Islam Makassar (UIM) yang mendapat kesempatan untuk memberi sambutan mewakili pihak Rektorat UIM, Dr. KH. Ruslan Wahab, MA menjelaskan bahwasanya untuk merawat kebinekaan itu, satu-satunya jalan adalah menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam agama Islam nilai kemanusiaan menjadi prioritas dan itu harus dibumikan, karena pada dasarnya kemanusiaan adalah ajaran langit.

Sebelum memasuki diskusi, perwakilan dari agama-agama melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk komitmen dalam merawat kebinekaan dalam bingkai keindonesiaan.

Diskusi yang dilakukan di Auditorium Kampus UIM pada Senin 20/6/2022 tersebut dipandu oleh moderator Suaib Prawono (Koordinator GUSDURian Wilayah Sulawesi), sementara yang menjadi narasumber adalah Drs. Drajat Wisnu Setyawan, MM (Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum), Jay Akhmad (Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian), dan Christina J. Hutubessy (Oase Intim).

Membuka diskusi, Christina yang menjadi pembicara awal mengemukakan mengenai temuan penelitian Balai Litbang Agama tentang respons siswa terhadap radikalisme di Makassar pada tahun 2016, bahwa nalar keagamaan yang berkembang di kalangan siswa SMA adalah nalar moderat. Temuan lainnya adalah adanya gejala intoleransi, seperti menolak mengucapkan 'Selamat Hari Raya' pada agama lain, menolak pendirian rumah ibadah di lingkungannya, dan 10% menyatakan bersedia jika diajak melakukan bom bunuh diri.

Pembicara selanjutnya adalah Jay Akhmad yang secara lugas mengatakan, “Toleransi menurut saya adalah kata kerja. Jika keberagaman adalah sebuah keniscayaan, maka toleransi adalah sebuah keharusan. Karena toleransi tidak sebatas pemahaman tetapi juga pengalaman dan perjumpaan langsung dengan yang berbeda.”

Kegiatan ini dihadiri oleh banyak kalangan, dari mahasiswa, akademisi dan tak ketinggalan pula para aktivis lintas iman yang senantiasa mengawal dan selalu berkomitmen dalam merawat kebinekaan dalam bingkai keindonesiaan.


Author

Bagikan tulisan ini: