Nenilai

Budayawan Mochtar Lubis pernah menggambarkan potret Manusia Indonesia dengan sikap munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, suka takhayul, artistik, dan berwatak lemah. Setelah empat dekade, masihkah nilai-nilai tersebut yang menghidupi manusia Indonesia?

Saya membaca laporan sebuah inisiatif bertajuk Nenilai yang mencoba melakukan pemetaan nilai-nilai kini Indonesia. Bekerja sama dengan Bappenas, Nenilai menjangkau 50.452 orang dari berbagai penjuru Indonesia melalui survei daring sepanjang Juli-Desember 2020. Responden terdiri dari berbagai latar belakang, seperti pelajar, petani, dan pekerja korporat/BUMN. Sebanyak 39.053 adalah responden milenial.

Nenilai menggunakan Barret Value Model untuk mengukur kecenderungan nilai-nilai. Model ini dikembangkan oleh Richard Barret dari teori Maslow dan beberapa teori lain, yaitu PERMA besutan Martin Seligman, Self-Determination Theory, dan lain-lain. Model ini telah digunakan oleh puluhan negara untuk melakukan pemetaan nilai-nilai yang berkembang dan diharapkan dalam masyarakatnya.

Barret merumuskan kerangka 7 Jenjang Kesadaran yang dimulai dari tingkat terendah, yaitu Kelangsungan Hidup (Survival), diikuti tingkat kedua berupa Hubungan (Relationship), lalu Penghargaan Diri (Self-Esteem), Transformasi (Transformation), Menemukan Jati Diri (Internal Cohesion), Memberi Sumbangsih (Making a Difference), dan Berdarma-bakti (Service).

Sebagaimana Maslow, Barrett meyakini bahwa manusia akan berfokus pada pemenuhan setiap jenjang sebelum dapat meningkat ke jenjang berikutnya. Tiga jenjang pertama membentuk kelompok Kebutuhan Diri, sedangkan tiga jenjang teratas membentuk kelompok Nilai Kebaikan Bersama. Jenjang Transformasi berada di tengah antara dua kelompok nilai.

Responden diminta untuk memilih 10 nilai dari daftar berisi 60-70 nilai yang terbagi dalam kategori Nilai Positif dan Nilai yang Berpotensi Menghambat pertumbuhan. Ada tiga segmen nilai: Nilai Pribadi yang diyakininya untuk diri sendiri; Nilai Budaya Bangsa yang menonjol saat ini; dan Nilai Budaya Bangsa yang dianggapnya penting untuk mencapai cita-cita bangsa.

Rangkuman data dari puluhan ribu responden ini diolah untuk membaca peta kondisi Indonesia saat ini. Sungguh menarik membacanya. Pada Nilai Pribadi saat ini, muncul sesuai urutan tertinggi: tanggung jawab, hidup sederhana/bersahaja, dipercaya/percaya, adil, dan disiplin.

Pada Nilai Budaya Bangsa saat ini (Current Culture), ditemukan sesuai urutan tertinggi: Gotong Royong, Birokrasi/Aturan Berbelit-belit, Berpegang pada Aturan Agama, Korupsi, Keberagaman, Demokrasi, Diskriminasi SARA, Dominasi Kaum Elite/Golongan Atas, Berpikir Jangka Pendek, dan Hak Asasi Manusia.

Kita bisa melihat, lebih banyak budaya bangsa yang berpotensi menghambat pertumbuhan di dalam daftar budaya bangsa saat ini. Mudah bagi kita mengamininya dengan bukti anekdotal yang ada. Tetapi, tentu kita tidak bisa menganggap ini sebagai hal yang lumrah dan dibiarkan apa adanya.

Pada Nilai Budaya Bangsa yang diharapkan, ditemukan sesuai urutan tertinggi: Adil/Keadilan, Keadilan Sosial, Hak Asasi Manusia, Gotong Royong, Demokrasi, Berpikir Jangka Panjang, Bertanggung Jawab, Integritas/Kejujuran, Kemakmuran, dan Hidup yang Berkualitas.

Laporan resmi Nenilai menyimpulkan tiga poin penting. Pertama, terdapat perbedaan antara nilai yang dipegang teguh secara perorangan dan budaya bangsa saat ini. Ini mengindikasikan adanya ketidakselarasan antara nilai pribadi warga bangsa dan budaya bangsa yang terbentuk. Apabila tidak terkelola dengan baik, disosiasi ini bisa berujung pada berbagai persoalan lanjutan.

Kesimpulan kedua adalah bahwa beberapa budaya harapan bagi bangsa (nilai masa depan) telah muncul dalam nilai budaya bangsa saat ini, yaitu Gotong Royong, Demokrasi, dan HAM. Ini menjadi modal sosial yang cukup baik untuk mendorong ke pertanyaan, bagaimana kita memastikan bahwa budaya bangsa yang diidealkan tetapi belum dominan di masa sekarang, dapat mulai ditumbuhkan.

Kesimpulan ketiga terkait dengan angka Entropi Budaya yang tinggi, yang ditunjukkan oleh banyaknya budaya bangsa yang menonjol, tetapi dipandang berpotensi menghambat pertumbuhan atau kemajuan. Masyarakat disebut sehat jika angka entropi budayanya berada di bawah 13 persen, sebaliknya disebut punya masalah besar jika berada di atas 29 persen. Hasil Indonesia adalah 42 persen, yang mengindikasikan kondisi kritikal dalam budaya bangsa kita, setidaknya dalam pandangan puluhan ribu orang.

Nilai Berpegang Teguh pada Aturan Agama, yang menjadi budaya bangsa terbesar ketiga di masa kini, tidak masuk dalam 10 besar budaya harapan bangsa. Bisa jadi, ini karena pemahaman keagamaan yang berkembang akhir-akhir ini lebih menitikberatkan pada ritual keagamaan belaka, tidak pada nilai-nilai esensial agama. Misalnya, nilai keadilan dan beberapa nilai yang sejatinya adalah nilai universal yang ada pada semua agama pun menjadi lepas dari Nilai Berpegang teguh pada Aturan Agama. Ini juga dipengaruhi oleh berkembangnya praktik beragama yang eksklusif dan bahkan diskriminatif atas dasar mayoritarianisme agama.

Riset Nenilai memberikan ruang refleksi yang penting bagi kita sebagai bangsa. Disosiasi antara nilai pribadi dan budaya bangsa menjadi PR untuk kita kelola. Demikian juga PR untuk merintis budaya harapan bangsa sejak sekarang karena dari 10 harapan, saat ini baru 3 yang kita rasakan saat ini.

PR kita terbesar adalah mengikis budaya bangsa yang menghambat kemajuan, agar kemunduran budaya bangsa (entropi) tidak semakin parah. Kita perlu bersungguh-sungguh untuk melakukan upaya rekayasa sosial, untuk memastikan bangsa ini tidak bergerak mundur menjelang peluang bonus demografi dan bahkan 100 tahun Indonesia. Bagaimana mungkin menjadi Indonesia Maju jika entropi budaya bangsa kita menunjukkan arah Indonesia mundur?

(Artikel ini dimuat pertama kali di rubrik "Udar Rasa" Kompas, 5 September 2021)

Bagikan tulisan ini: