Pembaca Buku ‘Hujan Gus Dur’: Sedih atas Kepulangan tapi Bersyukur atas Kehadiran Gus Dur

“Sebagai pembaca, kita akan dibuat menyadari kesedihan atas berpulangnya Gus Dur pada tahun 2009 silam. Namun, pada waktu yang bersamaan kita juga akan dibuat merasa bersyukur sebab Gus Dur pernah dihadirkan oleh Tuhan ke dunia.”

Begitulah salah satu kesan dalam resensi buku yang ditulis oleh Rahma Salsabila, kontributor NU Online Jawa Timur (Jatim), setelah membaca satu per satu cerita pendek (cerpen) hingga tamat di buku Hujan Gus Dur: Antologi Cerpen tentang Gus Dur, Selasa (09/08/2022). Resensi yang menjadi Headline di website NU Online Jatim itu berjudul “Antologi Cerpen Gus Dur: Memaknai Perjuangan Sederas Hujan”.

Lebih dari itu, Rahma pun membuat postingan status di WhatsApp-nya. Ia menyatakan bahwa buku antologi cerpen Hujan Gus Dur merupakan buku pertama yang berhasil ia baca hingga tamat.

“Urutan judul-judul cerpennya menurutku sangat menarik. Di judul cerpen pertama dan beberapa setelahnya dibuat tegang. Kemudian disajikan judul lain yang lebih ringan, tetapi tetap bermakna. Bisa napas sejenak,” ujar aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pasuruan itu kepada penulis saat ditanya mengapa baru pertama menghatamkan secara cepat sebuah buku antologi cerpen.

Ia menambahkan, beberapa cerpen berkaitan dengan peristiwa yang sama. Misalnya pada peristiwa pelengseran jahat para politisi terhadap Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Meski demikian, para penulisnya dapat berhasil dibungkus dengan alur cerita dan pesan bermakna yang berbeda.

“Gaya bahasanya juga beragam. Ada yang berat dan ada yang mudah dipahami. Jadi tidak bosan,” imbuh mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan itu.

Rahma Salsabila besama buku 'Hujan Gus Dur', buku pertama yang ia tamatkan.

Saat penulis tanya terkait judul cerpen yang paling disukai, Rahma menyebutkan dua judul cerpen. Yakni ‘Wak Takrib’ dan ‘Lambaian di Balkon Istana.’ Menurutnya, pesan dalam cerpen ‘Wak Takrib’ relate dengan pesan yang dibutuhkan saat ini. Sebab hari ini banyak yang berlomba untuk eksis. Sedangkan ‘Wak Takrib’ memilih menyembunyikan dirinya.

“Untuk alasan saya menyukai cerpen yang berjudul ‘Lambaian di Balkon Istana’, silakan dibaca sendiri ya. Hehehe,” pungkas perempuan asal Kacamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur itu.

Untuk diketahui, buku Hujan Gus Dur: Antologi Cerpen tentang Gus Dur merupakan buku cerpen yang disusun oleh Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) GUSDURian Pasuruan. Buku itu diluncurkan dalam kegiatan peringatan Haul Gus Dur yang ke-11 di Pasuruan pada tahun 2021. Hadir dalam kegiatan itu, Sahabat Gus Dur Ahmad Tohari, seseorang yang bertemu dan mengenal Gus Dur karena menyelenggarakan diskusi buku miliknya (Ahmad Tohari) yang berjudul Kubah.

 

Author

Bagikan tulisan ini: