Resep CINTA untuk Tumbuhkan Rasa Persaudaraan Umat Beragama

Memori saya melangkah jauh sewaktu memasuki umur lima tahun. Waktu itu saya memiliki sahabat yang sangat baik. Saya sering main ke rumahnya, berbagi hal yang saya ketahui dan saling bersenda gurau. Kami berdua berbeda agama, saya Islam dan dia Kristen. Tapi dari hal itu tak membuat saya menjauhinya, bahkan orang tua saya mendukung untuk berteman dan saling menghargai. Begitupun dengan orang tua teman saya, yang sangat menyayangi saya saat berkunjung ke rumah mereka.

Suatu waktu saya berkunjung ke rumah mereka di hari spesial, hari Natal. Mereka dengan riangnya menyambut saya. Begitupun sebaliknya, saya menyambut teman saya itu dengan senang ketika ada perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha. Kerukunan di antara kami terjadi begitu saja, alamiah. Kemudian sampai tiba saat saya dan teman mesti berpisah karena satu hal. Meski demikian saya masih mengingatnya sampai saat ini.

Kerukunan-kerukunan antara umat beragama seperti itu yang ingin dicapai oleh Danial Fery Mangin. Pak Fery sapaan akrabnya. Saya pertama kali bertemu dengannya pada kegiatan diskusi buku yang ditulisnya berjudul I’m Christian I Love Muslim, pada Sabtu (2/10/21) di Aula Kantor Sinode GPIG, Kota Gorontalo.

Ia mengenakan kameja hijau pada saat itu. Kameja khas dari komunitas yang dibentuknya di Makassar, Mahabbah Institut for Peace and Goodness (MIPG). Di tangannya memegang tumpukan buku-buku tulisannya yang telah dicetak. Ukuran bukunya terbilang kecil dan cukup tipis. Jumlah halaman berkisar seratusan. Waktu itu diskusi buku dimulai pada sore hari pukul 16.00 WITA. Para pembicara di antaranya, Djemi Radji, yang berlaku sebagai moderator, juga penggerak GUSDURian Gorontalo; Danial Fery Mangin, penulis buku; dan Samsi Pomalingo, selaku pembina GUSDURian Gorontalo, yang juga adalah pembina GUSDURian Gorontalo.

Latar Belakang Buku I’m Christian I love Muslim

Djemi Radji memulai diskusi dengan kata sambutan dan pembuka. Sejumlah pemuda lintas agama duduk bersama, membentuk sebuah lingkaran. Baik dari muslim maupun kristen duduk bersama tanpa sekat. Semua mendengarkan diskusi pada sore itu. Diskusi mulai diarahkan Djemi Radji pada pembicara awal Fery Mangin.

Fery bercerita bahwa dirinya merupakan jemaat Advent yang pada awalnya sangat tertutup pada umat beragama lain. Dalam keluarganya, ia memiliki latar belakang orang tua yang berbeda budaya. Dia mengistilahkan keluarganya adalah pembauran. Ibunya berasal dari Makassar dan ayahnya berasal dari Toraja.

“Sepuluh saudara kami masing-masing memilih agamanya. Ada tiga saudara saya memilih Islam, ada yang memilih Protestan, dan saya pilih Advent karena di situ masih tidak makan daging babi. Saya suka yang unik-unik,” tutur Fery.

Cerita latar belakang saat ia mulai terbuka terhadap orang-orang yang berbeda dari dia berasal dari sosok ibunya. Ibunya merupakan sosok yang mencoba mengikis paradigma ataupun stigma saling mencurigai dan bertolak belakang antara umat beragama, terutama antara Islam dan Kristen. Fery mengisahkan ada stigma pada orang-orang Toraja yang mengatakan bahwa, mereka pemakan anjing dan hal itu kata dia, tidak enak untuk didengar.

Ibunya mencoba mengikis hal itu. Ibunya menjembatani antara umat Islam dan Kristen. Dibuatlah rumahnya sebagai tempat menampung pasien. Baik dari agama Islam maupun Kristen semua ditampungnya. Yang paling melekat di memori Fery ialah saat ibunya menampung 40 orang dari berbagai agama di rumahnya.

“Akhirnya itu yang diturunkan ke generasinya. Pesannya ke saya sebelum ibu wafat, katanya, saya harus baik ke semua orang,” ucapnya.

Tak serta merta dirinya langsung membuka diri terhadap orang yang berbeda dengan dia. Sampai pada titik ia menyadari bahwa, kenapa selalu saja ada pertikaian antara umat muslim dan kristiani. Terutama yang terjadi di kampung halamannya. Waktu itu kejadian ada sekelompok orang yang datang mengamuk ke gereja, dan dari hal itu ia berpikir untuk berteman dengan orang-orang yang tadi.

Kemudian ia menyadari bahwa, kita harus melintasi batas agar tidak ada salah pengertian di antara kalangan umat antaragama. Harus dengan cara berjumpa. Kunci toleransi ialah perjumpaan. “Ada tembok pemisah dan ada stigma buruk jika kita tidak saling berjumpa,” menurutnya. Pada sisi teologis, umat muslim adalah saudara baginya. “Karena kita memang dari turunan yang sama yakni dari Abraham, dalam Islam dikenal dengan Ibrahim.”

Sebagai seorang guru, Fery mengharuskan dirinya untuk bisa menggunakan akal dan hati agar ia bisa memahami murid-muridnya. Ia menamainya bekal pelajaran manajemen hati dan manajemen cinta. Hal itu yang diajarkan ibunya pada dia. Dalam bukunya, ia menulis bahwa reaksi ketika ia bertemu manusia, baik yang muslim maupun yang lain, harus atas dasar cinta.

“Saya tak henti-hentinya ketika melihat wajah saudara-saudara Islam dan seluruh umat manusia lainnya bahkan daun sekalipun dengan melihat wajah Tuhan. Karena saya yakin, bagaimanapun itu pasti ada kebaikan di dalamnya. Kan melihat Tuhan itu adalah estetikanya, etikanya kita saling menolong,” tuturnya.

Sementara itu, Samsi Pomalingo atau yang akrab disapa Romo Samsi mengomentari buku tersebut. Menurutnya, buku tersebut ditulis dengan dasar cinta. Buku yang cukup kecil dan sederhana, dan ditulis berdasarkan pengalaman personal.

“Dalam buku ini selain pengalaman personal, juga berangkat dari kegelisahan bangsa yang masih bersitegang dalam persoalan hubungan antaragama, terutama antara Kristen dan Islam,” imbuh Romo Samsi.

Menurutnya, buku tersebut bisa dijadikan pedoman untuk membangun hubungan antarumat beragama, lintas iman berdasarkan cinta sesama manusia. Ia juga berpendapat bahwa, hal yang ditulis oleh Fery Mangin sangat menarik, karena menurutnya, masih sangat minim ditemukan buku-buku yang membahas tentang toleransi maupun hubungan antara umat beragama berdasarkan pengalaman pribadi.

“Lebih banyak berdasarkan teori besar, berdasarkan asumsi, bahkan apa yang dia lihat dari perspektif dia, bukan dari orang lain (sumber lain),” terangnya.

Resep CINTA oleh Fery Mangin

Banyak hal yang diungkapkan Fery pada diskusi buku tersebut. Termasuk saat ia memberi bantuan untuk pembangunan sebuah masjid di Makassar. Namun kata dia, “Ada yang bertanya kenapa saya seorang Kristen memberi bantuan pada pembangunan masjid?”. Dia hanya menjawab, “Apakah orang ‘luar’ tidak bisa memberi bantuan pada pembangunan masjid?”.

Istrinya juga memberi dukungan pada hal-hal baik yang dilakukannya. Istrinya menyediakan dana bantuan sosial dari sisihan-sisihan pendapatan mereka melalui pekerjaan. Landasan yang ia gunakan untuk saling berbagi disebutnya CINTA.

C untuk Care (peduli). Kata dia, Alkitab menyebut, “Jika engkau berada di satu kota, kau makmurkan kota tersebut”. “Kadang gaji saya itu di sekolah hanya setengah yang saya terima, karena ketika ada siswa biasa kelaparan saya bilang untuk ambil saja di kantin,” cerita Fery.

I untuk Initiative (inisiatif). Ia mengurai kata inisiatif sebagai hal yang perlu dilakukan. Fery bercerita tentang sekelompok orang yang mengamuk ke gereja. “Saya sudah hampir telpon polisi. Tapi saya berinisiatif minta maaf duluan, meski saya tak salah. Namun akhirnya mereka juga luluh,” tuturnya.

N untuk Needs (kebutuhan). Kata Fery, kita harus mengetahui hal yang menjadi kebutuhan orang lain. Seperti halnya saat ia mengajar pada anak-anak, terutama pada anak yang nakal. Dia harus mencari tahu kebutuhan anak tersebut, agar ia bisa mendekatinya.

“Kadang kebutuhan ini yang membuat orang jadi berkelakuan aneh. Jadi kita harus tahu kebutuhan orang lain,” sebutnya.

Lalu T untuk Treats (perlakuan). Menurutnya, cinta ini telah hilang karena kegelapan dunia. Jangan sampai orang-orang hilang dalam terang dan kegelapan. Hal yang miris ialah orang yang hilang dalam terang, artinya sering mengkhotbah tapi praktiknya tidak ada.

“Tidak ada saling saya, tidak ada tolong menolong,” ucapnya.

Terakhir adalah A untuk Acceptence (penerimaan). Penerimaan menurutnya ialah tingkat toleransi paling tinggi. Karena jika hanya sebatas toleransi hanya pada jangan saling ganggu, maka masih ada peluang untuk intoleransi.

“Kalau acceptence itu menerima apa adanya. Artinya terimalah karena dia sudah terlahir apa adanya,” menurutnya.

Romo Samsi memberi pendapat mengenai resep CINTA tersebut. Ia bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Mother Theresa House pada 2013 silam. Ia menemui banyak biarawati yang diterima di kalangan muslim Amerika. Kemudian ia bertanya, mengapa para biarawati tersebut cepat diterima di kalangan muslim Amerika?

“Mereka menjawab, 'We come with smile.' Jadi senyum itu sendiri adalah wujuh cinta. Jadi benar yang dikatakan bunda Theresa, segala sesuatu itu harus didasari dengan cinta,” sebut Romo Samsi.

Acceptence menurutnya juga ialah tingkat tertinggi dari toleransi. Ia memberi contoh toleransi yang dia maksudkan seperti ketika seorang memberi toleransi untuk datang paling lambat pukul 10 malam, itulah toleransi. Namun kita tidak boleh melewati batasan-batasan toleransi tersebut.

“Seorang pastor pernah berkata pada saya, 'Toleransi yang dibangun di Indonesia semata-mata menunjukan masih ada egoisme teologis. Tidak seperti orang-orang dulu yang bergotong royong merayakan hari besar dengan bersih-bersih kampung tanpa melihat latar belakangnya',” cerita dia.

Tentang Islam dan Kristen yang Sering Bertentangan

Kemudian sesi diskusi pada pembahasan buku tersebut. Ada yang bertanya mengapa ia menuliskan cintanya pada kalangan muslim, dan bukan yang lain? Dan juga ada yang bertanya mengapa umat kristiani cenderung eksklusif?

Fery Mangin menjawab, latar belakang ia menulis kaum muslim adalah karena antara Islam dan Kristen masih satu garis keturunan dari Ibrahim. Namun adanya ‘balapan’ mencari dan menambah pengikut masing-masing agama, kemudian memunculkan resistensi.

“Saya dapat fakta di lapangan itu, ada yang saling menuduh kafir. Bahkan saat saya berkunjung ke pelosok-pelosok itu, gaya dakwahnya sampai membuat saya geli,” ucapnya.

Fery menyambung, bahwa dua agama ini sejak dulu memiliki sejarah kelam. Dulu agama Kristen dibawa oleh para penjajah dengan misi penyebarannya ‘gospel’, sehingga yang tercipta ialah Kristen adalah agama penjajah.

“Padahal Kristen itu agama kasih sayang,” sebutnya.

Ia juga mengaku dirinya sering mengunjungi masjid-masjid untuk lakukan klarifikasi ketika terjadi persoalan. Yang didapatkannya ketika klarifikasi berbeda dengan konflik yang memicu.

“Kalau Abraham itu muncul ke dunia ini, pasti kepala kita diketuk satu per satu sembari ia berkata, 'Kenapa kalian berkelahi? Aku mengajarkan love for all hatered for nothing',” kelakarnya.

Kata dia, Yesus atau Isa almasih mengajarkan tentang balaslah kejahatan dengan kebaikan, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya. Yang salah ialah para pengikutnya. “Bahkan GUSDURian ini menurut saya yang paling Kristen, karena mereka mengajarkan kemanusiaan,” sebut Fery sambil tersenyum.

***

Pada pertanyaan mengenai hal yang membuat umat Kristen jadi ekslusif, kata Fery, Yesus itu mengajak. Sosoknya inklusif. Ia selalu berpergian. Yesus mengunjungi masyarakat di seluruh lapisan, baik yang kaya maupun yang miskin.

“Misinya Yesus itu pergi, tapi entah kenapa gereja tidak pergi, mereka membangun kerajaan. Sehingga menutup diri jadi hal yang bahaya, sampai timbullah prasangka,” menurutnya.

Sementara itu, Romo Samsi menyebut kecenderungan umat Kristiani eksklusif itu menurutnya, pada zaman dulu, ada sebuah putusan Konsiliasi Vatikan I 1868 yang pada intinya menyebut bahwa tidak ada keselamatan di luar gereja. Namun, kemudian terbentuk konsiliasi Vatikan II tahun 1965 yang melahirkan keputusan bahwa yang di luar gereja masih bisa mendapatkan keselamatan.

Sebut Romo Samsi, dalam Islam juga sama. Ia menyebut bahwa yang dicintai Tuhan itu adalah agama Islam. Kemudian ada penafsiran bahwa yang dimaksud ayat tersebut setiap agama yang mengajarkan keselamatan berada di sisi Tuhan.

“Kenapa muncul ekslusivisme? Karena ada penafsiran teks-teks suci, sehingga muncul penafsiran berbeda,” lanjutnya.

Kemudian ia mengatakan bahwa, jika seandainya dapat dipahami bahwa semua agama pada substansinya mengajarkan perdamaian, maka tidak ada alasan untuk berkonflik. Kata dia, kita dapat berasumsi bahwa konflik agama itu didesain secara sistematis. Boleh jadi karena ada kelompok yang tidak ingin adanya perdamaian terjadi.

“Kenapa sampai ada kasus penutupan gereja dan penolakan pembangunan? Ini semua karena kurangnya komunikasi. Kita senantiasa berdiri dengan persepsi kita dan apa yang kita pahami, tetapi kita tidak pernah bersentuhan dengan orang lain,” tuturnya.

Romo Samsi mencontohkan di Gorontalo masih ada ustaz atau pemuka agama Islam yang menyebut umat muslim datang ke gereja untuk membantu itu adalah perbuatan kafir. Padahal, sebutnya, hal itu dilakukan semata sebagai hubungan sesama manusia “Hablumminannas”.

“Jadi kita di GUSDURian merancang sebuah bangunan relasi kemanusiaan. Bahwa yang kita lakukan semata untuk harmonisasi umat Kristen dan Islam. Itu yang harus kita lakukan di Gorontalo, sehingga tidak ada ekslusivitas baik dari Kristen maupun Islam,” ucap dia.

Giat Toleransi di MIPG

Fery Mangin merupakan salah satu pendiri MIPG (Mahabbah Institute for Peace and Goodness) di Makassar. Fery bercerita tentang inisiasi kegiatan yang dibuatnya yakni Peace Santren atau Peace Camp. Tujuan dari kegiatan tersebut yakni meleburkan antara anak-anak Kristen dan Islam agar bisa saling memahami.

“Pada awalnya itu banyak orang tua dari anak-anak Kristen yang menentang, karena dulu ada anggapan bahwa pesantren itu adalah tempat mendidik teroris,” sebutnya.

Namun, Fery bersama umat Islam, ustaz dan tokoh agama berusaha menenangkan kedua pihak. Bahkan kata dia, polisi sempat berjaga di tempat Peace Santren yang dibuatnya di salah satu pesantren di Makassar.

Pada hari pertama di Peace Santren kata Fery, antara anak-anak Kristen dan Islam terbentuk sebuah gap (pemisah). Dibuatlah family group, di mana anak-anak Kristen yang terbiasa hidup di kalangan kaya itu memakai sarung dan tidur beralaskan alakadarnya.

“Di hari terakhir itu anak-anak Kristen tak mau pulang. Akhirnya mereka bersaksi bahwa pesantren bukan sarang dari teroris. Namun untuk membuat hal itu butuh pengorbanan,” menurutnya.

Fery bersama para pengurus di MIPG juga mendirikan sebuah rumah singgah di Makassar. Rumah tersebut diperuntukkan bagi siapa saja, baik Kristen, Islam, Hindu, Buddha dan lain sebagainya. “Di sana teman-teman Islam shalat, kami beribadah. Ada yang mengaji dan kami baca alkitab. Kalau ada isu-isu berkembang mengenai toleransi atau hal lainnya kami langsung diskusikan. Di rumah singgah itu ramai,” kata dia.

Cerita menariknya ketika rumah singgah tersebut kedatangan perempuan yang bercadar, Kata Fery, banyak yang ingin menolaknya. Namun ia menjelaskan bahwa, nama institut mereka adalah ‘Mahabbah’ yang artinya cinta. Di Kristen ada kata Agape yang artinya mencintai orang yang tidak pantas dicintai.

“Artinya jangan memakrokulturkan orang,” menurutnya.

“Jadi setelah saya terima orang itu, saya langsung tanya ke dia alasan dia pakai cadar. Dia jawab, dia memakai cadar bukan karena mengikut di satu golongan tetapi itu riwayat neneknya. Jadi kita ini kadangkala sering menghakimi sebelum kita klarifikasi,” jelasnya.

Bagikan tulisan ini: