Ceng Beng Gus Dur 2026: Ziarah Kebangsaan dan Perayaan 150 Tahun Boen Hian Tong Berlangsung Khidmat

SEMARANG-JOMBANG — Kegiatan Ceng Beng Gus Dur 2026 sukses diselenggarakan selama dua hari, 18–19 April 2026, dengan rangkaian acara yang sarat nilai spiritual, budaya, dan kebangsaan. Agenda ini sekaligus memperingati 150 tahun berdirinya Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, komunitas Tionghoa tertua di Semarang yang didirikan pada 9 Februari 1876 dan berfokus pada aktivitas sosial.

Sebanyak 40 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang keyakinan turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka mencerminkan semangat lintas iman yang menjadi ciri khas ziarah Ceng Beng Gus Dur.

“Peserta datang dari berbagai kelompok keyakinan, ada yang jauh dari luar kota, dari yang muda sampai yang sudah sepuh, semuanya berziarah untuk menyampaikan kerinduan akan sosok Gus Dur,” ujar Ling-ling selaku panitia.

Hari pertama diawali di Gedung Boen Hian Tong, Semarang, dengan registrasi, sembahyang penghormatan leluhur, serta persiapan membawa sinci Gus Dur menuju Jombang.

Rombongan kemudian bertolak menuju Jombang, dengan singgah di beberapa lokasi bersejarah seperti Candi Arimbi dan GKJW Mojowarno. Setibanya di Klenteng Hong San Kiong, Gudo, peserta disambut pertunjukan Wayang Potehi dan ramah tamah.

Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan menyaksikan matahari terbit di Bendungan Rolak 70, mengunjungi Musem wayang Potehi masih di Klenteng Gudo, kemudian meneruskan perjalanan menuju Kompleks Makam Tebuireng. Prosesi ziarah berlangsung khidmat dengan doa lintas agama, prosesi “Sapu Jagad”, hingga tabur bunga di makam Gus Dur.

Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pengalaman spiritual yang mendalam. Hong Ifen, peserta berusia 59 tahun yang telah dua kali mengikuti kegiatan ini, mengungkapkan rasa harunya saat berziarah.

“Karena jujur saya memang pengagum Gus Dur, jasanya banyak, saya selalu ingin ke makam Gus Dur,” ujarnya.
Ia juga mengaku terharu saat memimpin doa lintas iman. “Pas berdoa di makam Gus Dur berbeda, saya sampai gemetar dan sujud tiga kali sebagai bentuk hormat,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Testimoni serupa disampaikan Lim Hogan Kusnadi, peserta asal Jakarta berusia 67 tahun, yang menilai sosok Gus Dur memiliki jasa besar bagi masyarakat Tionghoa Indonesia.

“Saya sudah lama ingin ke makam Gus Dur, guru bangsa yang melihat bangsa sebagai keseluruhan. Dalam perjalanan ini kami merasakan kesetaraan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi masyarakat Tionghoa saat ini tidak lepas dari perjuangan Gus Dur dalam memperjuangkan hak-hak minoritas.

Ferron, peserta lain dari Jakarta, juga mengungkapkan rasa syukur setelah mengikuti ziarah ini. “Saya merasa utang saya lunas. Ini obsesi saya untuk ziarah, dan ketika akhirnya ikut, saya benar-benar bersyukur,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Pakuamudin, salah satu penggerak GUSDURian Semarang, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar ritual.

“Ceng Beng Gus Dur ini bukan sekadar ritual, tapi pengingat bagi generasi muda bahwa keberagaman adalah kekuatan Indonesia. Gus Dur telah meletakkan fondasinya, dan kita bertugas merawatnya,” ujarnya.

Selain ziarah, peserta juga mengunjungi Museum Islam Indonesia, mengikuti kegiatan budaya bersama komunitas lokal, serta singgah di kawasan bersejarah Trowulan sebelum kembali ke Semarang.

Dengan antusiasme peserta dan kekhidmatan rangkaian acara, Ceng Beng Gus Dur 2026 kembali menegaskan pentingnya merawat nilai toleransi, kemanusiaan, dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.