Dalam sebuah program kepemimpinan di tahun 2015, saya sowan menemui Frances Hesselbein, pemimpin Peter F. Drucker Foundation yang masuk dalam daftar Fortune’s 50 World Greatest Leaders.
Nama Hesselbein saya temukan dalam buku Good to Great and The Social Sectors: A Monograph to Accompany Good to Great, karya Jim Collins (2011). Saat itu saya sedang merintis Jaringan GUSDURian, dan sangat perlu belajar tentang bagaimana mengembangkan sebuah gerakan sosial nirlaba tanpa memiliki sumber daya finansial.
Buku ini mengangkat prinsip-prinsip yang membedakan antara organisasi sosial yang luar biasa dan organisasi yang medioker atau bahkan organisasi gagal. Bahasan ini merupakan kelanjutan dari buku Good to Great (2001) yang membahas prinsip-prinsip penentu keberhasilan luar biasa organisasi sektor bisnis.
Hesselbein diangkat dalam buku itu karena keberhasilannya memimpin Girl Scout USA di periode tahun 1976-1990, saat mereka sedang kehilangan popularitas, terpuruk dan anggotanya terus berkurang. Di tangan Hesselbein, Girl Scout melesat kembali menjadi gerakan sosial nirlaba yang masif dan kuat.
Menurut Collins, Hesselbein berhasil membangun kepemimpinan di tengah jaringan sosial yang kompleks, egaliter, dan tidak top-down. Dan itu diawali dengan kemampuan untuk mengakui, menerima, dan menghadapi kenyataan pahit yang ada. Kemampuan ini yang dalam observasi Collins menjadi penanda khusus keberhasilan para pemimpin besar.
Collins menyebut hal ini sebagai prinsip ”Confront the Brutal Facts” (Bertarung dengan Kenyataan Pahit) dari konsep ”The Stockdale Paradox”. Konsep ini menunjukkan bagaimana para pemimpin besar selalu punya visi besar dan jangka panjang, tetapi tidak terlena oleh visi dan idealisme tersebut, dan justru berpijak pada peta realita sesungguhnya, diikuti dengan pengakuan dan penerimaan terhadap kenyataan pahit yang ada. Sikap terlalu optimistis dan menafikan kenyataan pahit justru menjadi jebakan yang membuat banyak pemimpin gagal mewujudkan idealismenya.
Paradoks Stockdale merujuk pada kisah Jim Stockdale, tentara AS yang menjadi tahanan perang di Hanoi Vietnam selama enam tahun dan mengalami penyiksaan fisik-psikis. Stockdale menjadi salah satu penyintas, sementara banyak rekannya tidak mampu bertahan sampai mereka dibebaskan. Stockdale bertahan dengan terus menghidupkan keyakinan bahwa suatu ketika ia akan bebas dan kembali bertemu istri dan keluarganya, tetapi di saat yang sama ia mengakui dan menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak punya jaminan kepastian dan harus siap menghadapi situasi apa pun.
Ketika Collins bertanya mengapa tidak semua tahanan militer bisa bertahan dan siapa saja yang menyerah, Stockdale menjawab singkat: mereka yang optimislah yang gagal bertahan. Optimisme itu menjebak mereka untuk berandai-andai, dan terempas saat realitas berkata lain. Dan ketika terjadi berulang kali, maka beban psikisnya pun menjadi berlipat ganda.
Fenomena ini yang ditemukan Collins dari sejumlah perusahaan dan organisasi sosial yang tumbuh menjadi legenda karena melampaui standar rata-rata, tidak hanya dalam capaian, tetapi juga dari keberlanjutan jangka panjang. Semua institusi legendaris ini berangkat dari kepemimpinan yang melampaui Paradoks Stockdale dan piawai memenangi pertarungan dengan kenyataan pahit.
Tugas terberat pemimpin adalah mengakui dan menerima fakta yang tidak menyenangkan dalam ruang kepemimpinan mereka. Mengakui adalah langkah pertama menuju penyelesaian. Sebaliknya, mengingkari dan defensif terhadap kenyataan pahit justru membuat para pemimpin terjebak dengan retorika abstrak dari idealisme dan optimisme semu.
Ketika tujuan tidak kunjung tercapai, bahkan ketika problem kecil meningkat menjadi problem besar dan berujung menjadi problem raksasa dan sistemik, pemimpin yang baik perlu untuk melihat dan menyelami dengan pikiran yang terbuka, hati yang terbuka, dan tekad yang membulat untuk menerima data yang faktual. Data sepahit apa pun dapat menjadi bahan mendorong perubahan, sebagaimana dialami Frances Hesselblein.
Sayangnya, hari-hari ini bangsa kita lebih banyak menyaksikan kebalikannya. Berbagai kebijakan publik menyerap perhatian warga bangsa seperti tantangan kesejahteraan warga, program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Reformasi Polri, performa Parlemen, KPK, BPJS, dan berjibun catatan program lainnya.
Namun, data para akademisi dan suara warga tidak diperlakukan sebagai umpan balik bagi perbaikan, tetapi kerap dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap tidak ada. Masukan kritis warga dipandang bermuatan politik dan karena itu perlu diperlakukan sebagai musuh yang ingin merusuh.
Ini sungguh menyedihkan. Bukan hanya karena tidak sepatutnya para pejabat publik dari pusat sampai daerah bersikap demikian kepada rakyat sebagai pemangku kepentingan utama bangsa ini. Yang lebih penting adalah pengingkaran dan sikap defensif sedemikian justru akan semakin menjauhkan para pemimpin bangsa ini dari idealisme yang justru sedang mereka perjuangkan.
Semakin diingkari, semakin menjadi-jadi. Menjadi lebih besar, menjadi lebih rumit, menjadi lebih kompleks, dan menjadikan negara ini lebih rapuh. Dan ini karena persoalan faktualnya tidak teratasi, akibat data dan fakta yang tidak diakui dan diterima sebagai kenyataan pahit yang harus dicari jalan keluarnya.
Tidak mudah menjadi pemimpin dan pejabat publik. Seandainya para pemimpin kita mau belajar untuk mendengar, untuk membuka diri, untuk melatih diri menguasai Paradoks Stockdale, mungkin sebagian besar persoalan tersebut bisa segera teratasi.
Sayang sekali Frances Hesselblein sudah wafat beberapa tahun lalu. Apabila saja kita sempat mengundangnya dan Jim Collins untuk memberikan pencerahan kepada para pemimpin kita, mungkin keramaian publik yang terus terjadi terkait nasib bangsa dapat segera diurai dan tidak semakin berkelindan.
Sebab, kita semua ingin yang terbaik untuk bangsa ini.
_______________
Artikel ini dimuat pertama kali di rubrik “Analisis Budaya” Kompas.id, 23 April 2026