Peristiwa

Cangkrukan Pemikiran Gus Dur Soroti Sastra sebagai Jalan Memahami Kemanusiaan

YOGYAKARTA – Gagasan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang pendidikan agama dan kemanusiaan kembali dibahas dalam forum Cangkrukan Pemikiran Gus Dur, seri “Gus Dur dan Pendidikan”, yang digelar pada Jumat, 22 Mei 2026 di Griya Gusdurian Yogyakarta.

Diskusi pekan ini mengangkat tulisan Gus Dur berjudul Bacaan untuk Remaja sebagai Penunjang Pendidikan Agama, yang pertama kali dipublikasikan di Majalah Kiblat No. 14 Tahun 1982, dan kembali diterbitkan dalam buku Insya Allah Saya Serius (2024). Forum dipantik oleh Martinus Joko Lelono atau Romo Joko, Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang sekaligus dosen Fakultas Teologi dan Program Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, serta dimoderatori Wiji Nurasih.

Dalam pengantarnya, Romo Joko menyoroti kritik Gus Dur terhadap pola bacaan remaja dalam pendidikan agama yang cenderung bersifat indoktrinatif dan kurang menyentuh pengalaman hidup. Ia menyebut, bacaan keagamaan kerap berhenti pada “pembinaan iman” tanpa masuk pada wilayah penghayatan.

“Banyak bacaan remaja menurut Gus Dur masih bersifat kataketik (menghantarkan umat maupun seseorang kepada iman yang matang dan dewasa). Lebih ke pembinaan iman, belum menyentuh penghayatan,” ujar Romo Joko dalam forum tersebut.

Romo Joko kemudian mengaitkan gagasan Gus Dur dengan kecenderungan pendidikan agama yang terlalu hitam-putih dalam memandang kehidupan. Menurutnya, cara pandang semacam itu membuat kompleksitas manusia tereduksi menjadi sekat benar dan salah secara sederhana.

Ia menilai Gus Dur justru menawarkan cara pandang yang lebih cair terhadap kehidupan, di mana kebaikan, kegagalan, dan kontradiksi merupakan bagian dari pengalaman manusia yang utuh.

“Realitas manusia tidak ada yang sepenuhnya hitam atau putih. Selalu ada campuran niat, kelemahan, dan ketakutan,” ujarnya.

Dalam refleksinya, Romo Joko juga menyinggung fenomena sosial kontemporer yang menurutnya memperkuat kebutuhan akan validasi dan pengakuan, termasuk dalam praktik beragama. Ia menyebut, sebagian ekspresi keagamaan hari ini kerap bergeser menjadi ruang afirmasi sosial ketimbang penghayatan spiritual.

Selain itu, ia juga mengkritik kecenderungan sanitasi dalam pendidikan agama yang menghapus dimensi kemanusiaan seperti keraguan, kegagalan, dan kesedihan. Menurutnya, hal tersebut justru menjauhkan peserta didik dari pemahaman agama yang lebih manusiawi.

“Seakan-akan pengikut Tuhan itu tidak boleh gagal, tidak boleh ragu. Padahal itu justru bagian dari kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Romo Joko juga menekankan pentingnya membaca sastra sebagai pelengkap pendidikan agama. Ia merujuk pada gagasan Gus Dur bahwa bacaan remaja bersifat komplementer, bukan sekadar suplemen dalam pendidikan agama.

Menurutnya, karya sastra seperti novel dan puisi mampu menghadirkan kompleksitas kehidupan secara lebih utuh, sehingga membantu pembaca memahami realitas manusia secara lebih dalam.

“Bacaan remaja bukan suplemen, tetapi komplementer yang membentuk kepribadian utuh,” kata dia.

Diskusi juga menyinggung karya-karya sastra klasik seperti The Adventures of Tom Sawyer karya Mark Twain, Hector Malot, hingga Jules Verne, yang dipandang mampu menghadirkan pengalaman moral dan emosional secara lebih hidup bagi pembaca.

Romo Joko menilai, pengalaman membaca semacam itu membantu remaja memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan linier, melainkan penuh kejutan, kegagalan, dan pembelajaran.

Dalam penutup refleksinya, ia menekankan bahwa pendidikan agama semestinya tidak hanya meneguhkan kebenaran doktrinal, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman manusia yang kompleks. Menurutnya, kekuatan gagasan Gus Dur terletak pada upayanya memanusiakan manusia melalui cara pandang yang lebih utuh terhadap kehidupan. (SDH)

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian