YOGYAKARTA – Diskusi yang mungkin tampak santai dari luar, namun berhasil memantik dialektika yang tajam. Bertajuk Cangkrukan Pemikiran Gus Dur, forum yang difasilitasi oleh Gusdurian Jogja ini membedah buku Marx and the End of Orientalism karya Bryan S. Turner. Kegiatan yang berlangsung di Griya Gusdurian, Yogyakarta, Jumat (12/6/2026) malam, ini menarik minat puluhan anak muda, mahasiswa, santri, hingga pegiat literasi untuk menelaah kembali nilai-nilai perjuangan Gus Dur.
Sesi Cangkrukan kali ini secara khusus mengangkat esai Gus Dur berjudul “Antara Marx dan Orientalis” yang pertama kali dipublikasikan di Majalah Tempo pada 16 Mei 1981. Kegiatan berlangsung pukul 19.30 hingga 21.30 WIB dengan menghadirkan Pandu sebagai moderator, serta Wiwin SA (Dosen UIN Ciamis) dan Farid (Gusdurian Jogja) sebagai pemantik diskusi.
Di Balik Stigma Timur yang Statis
Karl Marx dikenal dengan pisau analisisnya yang tajam terhadap kapitalisme. Marxisme di berbagai belahan dunia kerap dipandang sebagai kunci emansipasi yang menginspirasi banyak gerakan progresif. Namun, bagaimana jika stereotip terhadap Marx sendiri ternyata tidak luput dari bias Orientalisme? Ketika Barat berbicara tentang Timur, apakah yang ditawarkan benar-benar bersifat emansipatoris, atau justru mengandung pandangan peyoratif yang merendahkan?
Bryan S. Turner, yang mulanya berpijak pada sudut pandang Orientalis, perlahan mengoreksi perspektifnya setelah mengkaji masyarakat Muslim secara mendalam. Menurut Turner, banyak pandangan Barat terhadap Timur dibangun atas asumsi yang keliru.
Barat cenderung melakukan generalisasi menyeluruh tanpa memahami realitas kehidupan di akar rumput. Narasi yang dipusatkan pun kerap terbatas pada konflik yang melibatkan elite kekuasaan, seperti ulama, militer, maupun birokrasi negara. Akibatnya, pengetahuan sejarah yang dihasilkan cenderung elitis dan gagal menggambarkan kompleksitas masyarakat Timur yang sebenarnya.
Masyarakat Timur sering dinarasikan sebagai kelompok yang sulit berkembang dan stagnan, berbeda dengan masyarakat Barat yang dianggap mampu menghadirkan perubahan besar, seperti Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika. Namun, anggapan tersebut tidak sesuai dengan realitas. Sejarah membuktikan bahwa masyarakat Timur pun mengalami berbagai transformasi sosial.
“Nabi Muhammad adalah sosok revolusioner yang memberantas penindasan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Wiwin.
Ia menegaskan, Nabi Muhammad membawa perubahan besar bagi masyarakat Arab yang saat itu diliputi ketimpangan sosial dan praktik yang merendahkan martabat manusia.
Gus Dur mengajak kita untuk tidak serta-merta mengklaim suatu pandangan sepenuhnya benar atau salah. Perspektif Barat, menurut Gus Dur, tetap dapat memberikan sumbangan pemikiran yang relevan selama dipahami sesuai konteks kemunculannya. Sikap kritis diperlukan agar kita tidak menerima atau menolak gagasan secara mentah, melainkan mampu menempatkannya secara proporsional.
Senada dengan hal itu, Farid menyimpulkan bahwa penggunaan perspektif Barat harus mempertimbangkan konteks agar tidak terjadi kekeliruan dalam penerapan. “Jika kita ingin mengambil perspektif Barat, kita harus melihat konteks penggunaan pandangan tersebut agar tidak keliru dalam menempatkannya,” ujar Farid. (SDH)
Penulis: Rihayatun Nafilah (Mahasantri Ma`had Aly Kebon Jambu)