Karawang – Di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan di Kabupaten Karawang, puluhan anak muda memilih menghabiskan Sabtu malam dengan cara yang berbeda. Mereka berkumpul di Perantau Kopi, bukan sekadar untuk menonton film, melainkan berdiskusi mengenai hubungan manusia dengan alam serta mencari gagasan bersama untuk merawat lingkungan.
Suasana tersebut hadir dalam kegiatan Bedah Film Semesta bertajuk “Merawat Alam, Merawat Kehidupan” yang diselenggarakan Aktivis Kampung, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan ini didukung oleh berbagai komunitas, di antaranya Karawang Maca (KaCa), GUSDURian Karawang, Sahayawana, dan Mahapala Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang.
Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter Semesta karya Chairun Nissa, yang mengangkat kisah masyarakat dari tujuh provinsi di Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pendekatan budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal. Film tersebut memperlihatkan bagaimana tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat berkolaborasi mempertahankan nilai-nilai budaya sebagai fondasi pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Usai pemutaran film, diskusi menghadirkan Dino Robika Patardo (Aktivis Kebijakan Publik) dan Wardiansyah (Mahasiswa Magister Lingkungan). Keduanya mengajak peserta melihat bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan alam, tetapi juga menyangkut kebijakan, tata ruang, serta kesadaran masyarakat.
Dalam pemaparannya, Dino Robika Patardo mengajak peserta merefleksikan amanat Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
Menurut Dino, amanat konstitusi tersebut tidak boleh berhenti sebagai teks hukum semata. Gerakan masyarakat harus mampu mendorong lahirnya kebijakan daerah yang berpihak pada perlindungan lingkungan sehingga memiliki dampak yang berkelanjutan.
“Gerakan masyarakat jangan berhenti pada aksi simbolik. Ia harus mampu mendorong lahirnya kebijakan yang melindungi lingkungan sehingga memiliki dampak jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa berbagai inisiatif masyarakat dalam menjaga lingkungan dapat menjadi pijakan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat regulasi, termasuk mendorong lahirnya peraturan daerah yang memberikan perlindungan lebih baik terhadap lingkungan serta penegakan hukum bagi pelaku perusakan alam.
Sementara itu, Wardiansyah mengajak peserta memandang persoalan lingkungan melalui pendekatan ekologi manusia, yakni cara memahami hubungan timbal balik antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang saling memengaruhi.
Menurutnya, film Semesta menunjukkan bahwa pembangunan dan kemajuan teknologi tidak harus mengorbankan lingkungan. Salah satu kisah yang menarik berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, saat sebuah keluarga menerapkan konsep sustainable living melalui pengelolaan sampah secara mandiri, pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, serta pertanian berkelanjutan.
Baginya, praktik-praktik tersebut membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep, melainkan dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Wardiansyah kemudian mengajak peserta merefleksikan kondisi Kabupaten Karawang yang masih menghadapi berbagai persoalan ekologis, seperti banjir yang berulang pada musim hujan dan kekeringan di sejumlah wilayah ketika musim kemarau. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan tata guna lahan, berkembangnya kawasan industri, serta berkurangnya kawasan resapan air.
“Kesadaran terhadap lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Dari sanalah perubahan bisa tumbuh dan menggerakkan orang lain,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan penataan ruang yang konsisten dengan rencana tata ruang agar pembangunan tetap berjalan tanpa melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Bagi GUSDURian Karawang, keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Koordinator GUSDURian Karawang, Dafa, mengatakan bahwa perubahan lingkungan tidak mungkin dicapai tanpa kolaborasi berbagai pihak.
“Semakin sadar, langkah konkret gotong royong dari para tokoh agama akan membawa dampak perubahan lingkungan yang nyata,” ujarnya.
Menurut Dafa, tokoh agama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Ketika nilai tersebut dipadukan dengan semangat gotong royong lintas komunitas, upaya menjaga alam tidak lagi menjadi tanggung jawab segelintir orang, melainkan menjadi gerakan bersama.
Bagi peserta, forum seperti ini membuka ruang pembelajaran baru. Nuri Tsania, peserta dari Mahapala UBP Karawang, mengaku memperoleh banyak wawasan baru setelah mengikuti pemutaran film dan diskusi.
“Kegiatan ini menambah insight bagi saya untuk terus berkontribusi terhadap lingkungan, baik melalui program-program yang kami jalankan maupun dengan memperbanyak kolaborasi bersama komunitas lain,” katanya.
Lebih dari sekadar pemutaran film, Bedah Film Semesta menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan gagasan mengenai tantangan ekologis yang dihadapi Karawang. Film menjadi medium refleksi, sementara diskusi menjadi jembatan yang menghubungkan kesadaran dengan aksi nyata.
Sejalan dengan salah satu isu prioritas Jaringan GUSDURian, yakni Keadilan Ekologi, kegiatan ini mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan alam, melainkan juga persoalan keadilan sosial. Kelompok masyarakat yang paling rentan sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya, sehingga menjaga lingkungan pada hakikatnya juga berarti menjaga martabat dan kualitas hidup manusia.
Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa merawat bumi tidak cukup dilakukan melalui seruan moral atau kegiatan sesaat. Dibutuhkan kesadaran, kolaborasi, serta keberanian menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata agar pembangunan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Sebab, sebagaimana tema yang diusung dalam kegiatan ini, merawat alam pada akhirnya adalah merawat kehidupan. (SDH)