Oleh: Sarjoko S.
SEJAK 2025 kami mulai mengaktivasi rubrik sastra di Kampung Gusdurian (gusdurian.net). Kampung Gusdurian kami anggap perlu memberi ruang bagi warga, khususnya para Gusdurian, yang suka menulis sastra. Kami memulai dengan cerpen. Rubrik yang baru kami buka setelah kurang lebih 15 tahun website diluncurkan ini pun mendapat beragam tanggapan positif.
Namun mengelola sebuah rubrik ternyata sangat menantang. Salah satunya adalah kiriman tulisan cerpen yang masih angin-anginan—kadang bisa dimuat untuk beberapa minggu, kadang nihil sama sekali. Sementara niat awal rubrik sastra sebisa mungkin terbit setiap hari Minggu. Kami pun berikhtiar dengan mengundang penulis cerpen melalui sebuah poster sederhana. Alhamdulillah, puluhan tulisan dikirimkan meski tidak semuanya benar-benar sesuai dengan kriteria yang kami tetapkan. Misalnya, ada penulis yang mengirimkan makalah, opini, dan hal-hal yang genrenya bukan sastra. Meski demikian kami tetap mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas kiriman tulisan-tulisan tersebut.
Setelah melakukan seleksi, kami memilih 22 naskah cerpen yang kami anggap sesuai dengan ketentuan dan secara topik menarik. Cerpen terpilih kemudian dibukukan dalam sebuah buku antologi yang ada di tangan Anda. Secara berkala, kami juga akan terbitkan di laman gusdurian.net, dimulai dari peringatan hari lahir Gus Dur pada 4 Agustus-7 September hingga minggu-minggu berikutnya. Harapannya, penerbitan cerpen ini menjadi salah satu upaya dalam menjaga tradisi sastra di kalangan Gusdurian.
Jika ditilik, sastra dan Gus Dur sangat dekat. Selain kuliah di jurusan sastra, beberapa aspek kehidupan Gus Dur lekat dengan karya sastra. Misalnya, nama putri sulungnya Alissa diambil dari tokoh kunci novel karangan Andre Gide, pemenang hadiah Nobel untuk sastra dari Perancis, berjudul La Porte Etroite, Gerbang Yang Sempit. Melalui sastra pula, Gus Dur bersama koleganya melakukan pertunjukan ‘Malam Solidaritas untuk Palestina’ pada 1982 untuk menggalang dukungan kemerdekaan Palestina. Konon, The Old Man and the Sea karangan Ernest Hemingway adalah bacaan Gus Dur saat antri mengaji di Pesantren Ali Maksum, Krapyak.
Selain pembaca sastra yang ‘rakus’, Gus Dur merupakan sosok yang begitu kuat membela sastra dari intervensi rezim kekuasaan apapun. Misalnya, ketika jutaan orang mengutuk Salman Rushdie setelah menerbitkan ‘Ayat-Ayat Setan’ (The Satanic Verses), Gus Dur justru membelanya dan mengatakan agar novel karangan Rushdie itu diperlakukan sebagai sastra. Terlepas setuju atau tidak setuju, karya sastra tidak perlu membuat seseorang harus menerima kekerasan dalam bentuk apapun, apalagi sampai vonis hukuman mati.
Indonesia pernah punya pengalaman bagaimana sastra direcoki. Kasus cerpen ‘Langit Semakin Mendung’ karangan Ki Pandji Kusmin pada tahun 1968 menjadi catatan sejarah bagaimana kekuasaan menikam kebebasan atas nama penistaan. Cerpen legendaris yang nama penulisnya tidak pernah diketahui hingga hari ini menyebabkan pemred Majalah Sastra HB Jassin dipenjara atas kasus penistaan agama. Ini adalah kasus penistaan agama yang pertama di Indonesia. Sastra pula yang membuat Pramoedya Ananta Toer diawasi oleh Orde Baru.
Sederet peristiwa itu meneguhkan sebuah hal: sastra adalah kekuatan. Ia punya daya untuk mengawasi sekaligus diawasi oleh kekuasaan. Kini, dalam situasi di mana kekuasaan terasa serba terpusat, sastra bisa menjadi penopang untuk menghadirkan kekuatan penyeimbang di pinggiran. Ia menjadi apa yang disebut Nancy Fraser sebagai counterpublics, ruang publik alternatif yang menghadirkan perlawanan. Di titik inilah gusdurian.net mengambil perannya.
Itu adalah tujuan besarnya. Namun kami juga tidak selalu ndakik-ndakik. Tujuan kecilnya adalah kami ingin merawat sastra yang menceritakan tentang kehidupan liyan. Kehidupan sehari-hari yang mungkin bagi sebagian orang dianggap biasa saja dan bahkan cenderung diremehkan. Nah, cerita semacam itu justru yang ingin kami hadirkan. Lebih-lebih, cerita yang berasal dari masyarakat akar rumput yang jauh dari hiruk pikuk perbincangan arus utama. Sebagian besar cerpen dalam buku ini sudah memenuhi harapan ideal kami.
Kami berterima kasih kepada para penulis yang terlibat dalam gerakan menulis ini. Kepada pembaca, selamat menikmati kumpulan tulisan sastra edisi perdana di Gusdurian.
Yogyakarta, 4 Agustus 2026