Sastra

Cuci Tangan

Oleh: Ainun Maghfiroh

NUN, aku akan membersihkan lantai, meja, kursi, dinding, keset, dengan tanah. Semua yang tersentuh oleh Mis, hukumnya najis!” ucap Zak, kepada istrinya.

“Apalah isi dalam batok kepalamu? Kamu lebih suci dari Mis? Hey Zak, kamu suka membunuh lalat yang sedang mencari rezeki. Sisa makanan yang dicicipi lalat, tidak membuatmu mati kelaparan. Kamu juga senang memaki nyamuk, lalu membunuhnya juga. Meski nyamuk-nyamuk itu tidak sampai membuat trombositmu melemah. Satu tetes darahmu, satu nyamuk akan kenyang.” Alis Nun mengerut. Memberi kode, bahwa kompor dalam tubuhnya mulai tersulut.

“Apakah setiap hari Kamis kita akan bertengkar hanya karena Mis?”

Pertanyaan suami Cina gadungan Nun menambah aliran darahnya mengucur ke otak dengan mendidih.

“Seharusnya kamu bertanya pada nuranimu. Pada rasa perikemanusiaanmu.”

“Karena kamu sudah menjadi istriku, hentikan kebiasaanmu memberi makan Mis dan ibunya, mulai dari sekarang!”

Nun meresponnya dengan bergegas, lalu membanting pintu keras-keras. Dalam ruangan yang berbeda, paru-paru Zak dan Nun bak terikat tembikar. Ah lucu sekali, pelik rumah tangga yang baru dihadapinya bukan karena kurang romantis, atau kurang makan, tapi karena Zak dan Nun memiliki daya pro dan kontra membantu seorang Misnadin, pemuda yang dijuluki hitam, padahal sawo matang.

Lamunan Nun membentuk kabut abu-abu, menjadi lorong waktu yang membawa pada kenangan yang berubah menjadi warisan ayahnya. Setiap Kamis sore, tak ada absen merah untuk menyambangi pusara neneknya. Seluruh pintu dan jendela dibuka lebar-lebar, supaya arwah leluhur tidak bingung ketika ingin pulang dan bertamu ke kediaman mereka saat di dunia. Disediakan juga nasi serta lauk yang sudah dibacakan tahlil. Meski Nun tidak pernah mendengar pasti seperti apa dalilnya, tapi ia percaya, leluhur, terutama neneknya, akan sangat kegirangan melihat anak cucunya gemar sedekah. Urusan pahala, Nun juga tidak akan menghitung, tidak menelusuri apakah akan sampai tujuan atau malah meleset karena dosa dirinya sendiri.

“Keluarlah, Nun. Waktunya baca tahlil dan diba’ di masjid.”

“Aku tidak akan keluar sebelum kamu juga menyucikan badanku menggunakan air tujuh kali dicampur dengan tanah. Aku yang memberi makan Mis tadi, dan menitipkan nasi berkat ke ibunya.”

Zak membeku setelah melihat istrinya berbalut selimut sambil terisak. Ini sudah kali kedua mereka bertengkar masalah Misnadin. Mula-mula, Zak tidak pernah mempermasalahkan kepada siapa istrinya akan bersedekah, hanya saja sore itu melihat Mis menggendong seekor anjing lalu memandikannya.

“Anjing siapa, Mis?” tanya Zak.

“Anjing Bu Halimah, Mas. Sekarang saya bekerja mengurus anjing-anjingnya,” jawab Mis. “Kamu bisa angkat beban, ikut memetik tembakau, melintir, memupuk, kenapa harus jadi baby sitter anjing? Kamu tahu kalau anjing najis, kan?”

“Kata Bu Halimah, hanya di bagian urus anjing yang kekurangan karyawan. Saya mau, Mas, karena saya dijadikan karyawan tetap. Uangnya buat ibu saya.”

Kala itu, Mis bercerita dengan mata berbinar penuh kebanggaan. Padahal, ia tidak mengantongi ijazah. Sebelum akhirnya bekerja pada Bu Halimah, Mis hanya menjadi buruh panggilan di keluarga Nun, apa pun akan ia kerjakan. Jika sedang sepi panggilan, ia kerap berburu belalang lalu menjualnya seharga dua puluh lima ribu rupiah per botol plastik besar. Uang seadanya itu rupanya selalu cukup untuk makan berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Di tengah segala himpitan itu, Mis sungguh hebat karena ia tak pernah sekali pun memelihara hutang.

Beda dengan Zak. Ia tidak antusias. Yang diterima dan dilakukan Mis adalah pelanggaran yang tidak sesuai dengan aturan agama. Harus dihentikan, mengingat Mis sangat dekat dengan keluarga istrinya.

“Zak, semua karyawan Bu Halimah yang datang ke bengkel Pak Lik, bekas tempat duduk dan barang-barang yang mereka sentuh, langsung Pak Lik sucikan tujuh kali dan dicampur tanah. Mereka juga Pak Lik larang keras menginjak area rumah dan pekarangan. Bilang ke istrimu, jangan sekali- kali lagi membantu Mis,” ucap Hari, Pak Lik Nun.

Petuah Pak Lik Hari tersampaikan ke telinga Nun, tapi tidak menyentuh kalbunya. Hanya saja, hari itu Nun malas berdebat dengan suaminya. Cukup mengangguk. Meski akhirnya, di minggu Kamis sore pertama setelah suaminya melarang, Nun langsung melanggar.

Tak ada satupun warga yang tak kenal Bu Halimah. Taipan pendatang bos tembakau. Janda tanpa anak, yang berhasil membeli kebun mangga Pak Sanjono, yang kemudian disulap jadi pabrik. Mula-mula, Warga Sukojampit bersukacita dengan kedatangannya. Yang konon, akan membuka banyak lapangan pekerjaan dari berbagai kalangan. Lambat laun, dongengan itu benar jadi kenyataan. Hanya saja, apa yang dijanjikan tidak seindah cerita Disney, warga banyak yang merasa terjajah, dengan jam kerja yang membuat tidak lagi kenal tetangga.

“Mis, besok gas LPG mau datang lagi dari pusat. Jangan sampai datang terlambat, ya!”

Apapun yang dititahkan oleh Nun, Mis tidak pernah menolak. Ia seperti angin sore, datang tanpa diminta, pergi tanpa pamit, tapi selalu terasa. Orang-orang bilang ia setengah gila. Bukan gila yang mengamuk, bukan pula yang benar-benar hilang akal. Lebih mirip seseorang yang pikirannya tercecer di beberapa tempat, lalu lupa memungutnya kembali.

Nun banyak ditegur pelanggan dan tetangga karena masih memberi Mis pekerjaan. Pemuda itu sering datang dengan harum pahit ketiak, campuran tanah basah dan tembakau yang terlalu lama dijemur. Wajahnya dihiasi tetesan hijau keputihan dari hidung, yang kerap diusap sembarangan dengan punggung tangan. Rambutnya acak, seperti tak pernah sepakat dengan sisir. Diajak bicara, jawabannya kadang melompat- lompat. Namun di sela semua itu, ada ketulusan utuh; tidak retak, tidak dibuat-buat. Bekerja tanpa hitung-hitungan, menolong tanpa curiga.

Nun diam-diam ikut andil bertanggung jawab, dengan memberinya buah tangan sabun mandi, sabun cuci, deodoran, odol, meski sekelas murahan. Seolah-olah, lewat benda-benda kecil itu, Nun ingin merapikan dunia Mis yang berantakan. Nun juga selalu menyelipkan kalimat pelan.

“Mis, mandi dulu ya. Katanya mau punya cewek cantik.” Kalimat itu seperti mantra kecil yang diulang-ulang. Tiap kali mendengarnya, Mis terbahak-bahak sampai kadang orang lain merasa tak nyaman.

“Ah iya, Mbak. Masa saya kalah sama Mas Zak, punya istri cantik seperti Mbak Nun?” Lalu ia tertawa lagi, lebih keras, lebih panjang. Tapi di ujung tawanya, ada jeda singkat, seperti seseorang yang sadar bahwa dunia ini tidak sepenuhnya memihaknya.

Mis beberapa kali tertangkap basah melintasi lantai marmer tanpa alas, membawa lumpur di telapak kakinya. Kuku-kuku kakinya menghitam, mencoret kesucian lantai itu, milik sepasang suami istri yang hidup dalam sunyi panjang.

“Kalau aku tidak bisa seperti Nun, lihat gigi Mis, apalagi ibunya yang karang giginya sampai abu-abu hitam begitu, udah pengen muntah, apalagi piring di dapur disentuh bibirnya, amit-amit,” salah satu tetangga Nun berucap, ketika berkumpul saat rewangan.

“Nun, piring bekas Mis makan nggak dibedain apa?” tanya tetangga satunya lagi.

“Nggak tau, ya, Bu. Soalnya aku nggak pernah cuci piring. Urusan kaki Mis yang kasar dan kotor itu, aku juga nggak terlalu peduli. Soalnya Mbok Bisi kalau ngepel lantai rumah selalu bersih. Jadinya, aku nggak repot dan merasa berat hati,” jawab Nun santai.

“Duh, Nun. Coba sekali-kali pergoki ibunya Mis juga. Kudisnya menjalar dari selangkangannya. Kalau digaruk, jatuh sisiknya yang putih-putih.”

Ada tetangga yang turut memperagakan bagaimana Ibu Mis menggaruk. Mengundang gelak tawa para ibu-ibu yang berkerumun itu.

“Kemarin, suami saya sudah bawa Ibu Mis ke bidan, Bu!” Nun mempertegas. Tangannya sibuk mengupas bawang, membuat matanya perlahan memanas.

“Kalian pantes nggak dijadikan orang kaya sama Allah karena nggak bakal bisa seperti Nun dan suaminya? Repot ya, Nun. Jadi orang kaya sombong diomongin, jadi orang kaya terlalu baik diomongin juga.”

“Biar nggak repot, jangan diambil repot, Bu!”

Zak sama nasibnya dengan Nun. Bukan sekali-dua kali ia kena cecar warga dengan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.

“Mas Zak nggak ketularan kudisnya Ibu Mis? Kan diangkut ke bidan pakai mobilnya?” tanya salah satu warga di sela-sela khataman Alquran di masjid.

“Dipakai, tidak dipakai, mobil saya selalu disterilisasi setiap hari, Insya Allah selalu bersih dan antivirus,” jawab Zak. “Coba kalau si Imron, aku yakin Mis sudah diperlakukan kayak kambing.” Sebagian orang terbahak mendengar kalimat itu. “Atau jangan-jangan Mas Zak begitu baik sama Mis karena

bisa jadi penglaris dan penyukses bisnisnya, ya?”
“Mungkin doa Mis lebih didengar Allah daripada doa saya, Kang. Tapi saya kadang heran, kenapa warga kurang empati kepada keluarga Mis. Padahal, Mis orang baik. Saya lebih senang bekerja dengan orang seperti Mis yang jujur dan

disiplin, daripada orang waras yang manipulatif.”

***

Saat kabar Bu Halimah memelihara buldog mencuat, warga Sukojampit mulai resah. Desas-desus itu merayap pelan dari mulut ke mulut, seperti asap dapur yang menyelinap lewat celah-celah bambu.

“Anjing, katanya ….”
“Buldog lagi ….”
“Besar itu, galak ….”
Di warung kopi, obrolan bergulir lebih panjang. “Ini desa

apa kota?” celetuk seseorang.
“Besok-besok, jangan-jangan ada yang pelihara babi

sekalian,” sahut yang lain, disambut tawa pendek.
Tidak ada yang benar-benar tahu wujud asli buldog itu. Namun, ketidaktahuan justru membuatnya tampak lebih besar,

kotor, dan mengancam dari yang sebenarnya.
Beberapa warga akhirnya tertarik menjadi buruh di pabrik

itu, gaji yang fantastis ternyata bukan cuma omong kosong. Sementara mereka yang masih penasaran seperti apa wujud buldog, diam-diam mencuri pandang.

“Mau ikutan lihat Ringgo? Buldog-nya Bu Halimah. Ayo, mau aku antar sambil digendong?” Zak sekali-kali memang suka menggoda istrinya.

“Kalau cuma bentukan anjing buldog, waktu kuliah aku tiap hari ketemu. Ingat sama rumah cat merah dekat kosanku, nggak? Nah, dia pelihara anjing. Tiap pagi biasanya dibawa jalan-jalan sama pembantunya.”

“Karena sering melihat anjing, jadi nggak takut?”

“Ngapain takut? Anjingnya tidak menggigit. Atau jangan- jangan kamu sendiri yang penasaran sama anjingnya Bu Halimah, ya?”

“Aku paling anti sama hal-hal yang dihukumi najis. Bahkan tanah di area rumah Bu Halimah yang dilintasi anjingnya saja sudah nggak suci.”

“Allahu akbar! Coba bayangkan kalau aku mengiyakan ajakanmu tadi. Bisa-bisa aku overthinking karena kamu ternyata berbohong.”

Sejak kecil, Zak dikenalkan pada dunia yang penuh batas. Ia ingat betul rasanya diawasi. Ibunya tak pernah lelah mengingatkan. Sedikit saja ragu, ulang. Sedikit saja curiga, bersihkan. Lama-lama, Zak tidak lagi butuh diingatkan. Sementara Nun justru tumbuh di rumah yang pintunya jarang tertutup rapat. Nun kecil tidak diajari tentang batas, melainkan tentang ruang.

“Ayolah, Nun. Sekarang waktunya baca tahlil dan diba’ di masjid.” Entah sudah keberapa kalinya kalimat itu terucap, sementara Zak memeluk tubuh istrinya yang hangat, meraba wajah yang ternyata sudah basah oleh air mata.

“Andai saja aku tidak melihatnya menggendong anjing itu,” gumam Zak kemudian.

“Apakah anjing itu langsung menyerang dan menggigitmu? Membuatmu menjadi najis? Kenapa tidak kamu dahulu yang membersihkan diri dari najis itu?”

“Anjing itu najis, Nun. Cara menyucikannya berbeda. Kalau bulu atau liurnya sampai menempel pada kita, apa sah kita beribadah?”

“Aku tidak berbicara tentang agama. Aku berbicara tentang manusia.”

“Tapi Mis adalah manusia yang tidak paham agama. Kita yang punya pemahaman lebih baik, wajib hukumnya waspada dan meluruskan.”

Nun menghela napas panjang. “Meluruskan itu tidak selalu harus menjauhkan, Zak,” ucapnya pelan. “Kadang orang bisa lurus karena didekati, bukan dijauhi.”

“Dengan memilih bekerja di sana, dia sudah tidak menghargai keluarga kita yang selama ini membantunya dengan tulus. Ini mengecewakan, Nun. Baik, aku memang pendatang di desa ini. Tapi bagaimana dengan kamu? Dengan kebaikan ibu, kebaikan ayah?”

Di luar rumah, suara jangkrik mulai mengambil alih. Malam yang biasanya dipenuhi ketenangan doa dan tahlil, kini justru menyisakan dengung debat yang belum selesai. Zak tetap memilih berangkat ke masjid meski terlambat. Untuk pertama kalinya, ia berjalan tanpa beriringan dengan istrinya.

***

Kabar tentang Bu Halimah tidak berhenti pada seekor

buldog bernama Ringgo. Halaman belakang pabrik tembakau segera berubah menjadi penangkaran anjing yang mewah. Pagar besi kokoh dipasang rapat. Dari luar, hanya terdengar suara gonggongan yang saling sahut-menyahut.

“Ini sudah kelewatan,” gerutu seseorang di warung kopi.

Namun, di balik semua keresahan itu, ada pula yang diam- diam semringah karena lapangan kerja bertambah. Mis seperti menemukan dunianya sendiri. Setiap pagi ia datang lebih awal. Tangannya tidak lagi hanya berbau tanah dan tembakau, melainkan juga bau sabun anjing.

Suatu siang, kabar yang lebih menghebohkan mencuat, Bu Halimah hendak menggelar pesta ulang tahun untuk anjingnya. Awalnya orang-orang mengira itu lelucon. Sampai akhirnya spanduk besar terpampang di depan pabrik: Happy Birthday Ringgo.

Malam pesta itu pun tiba. Lampu-lampu dipasang terang benderang. Musik dangdut mulai terdengar sejak magrib. Beberapa warga berdatangan, karena diundang, tapi karena penasaran. Mis berdiri di dekat panggung, mengenakan kemeja yang jarang sekali dipakainya. Ia tersenyum ke sana kemari, sementara Ringgo, si buldog, duduk di kursi khusus.

“Dunia sudah terbalik,” gumam seorang bapak. “Manusia susah makan, ini anjing dikasih kue.”

Nun datang, tetapi memilih tidak mendekat. Ia berdiri di kejauhan, berlindung di balik bayangan pohon mangga. Zak menyusul, berdiri di sampingnya dalam diam. “Aneh, ya,” ucap Nun pelan. “Kamu lihat cara Mis memegang anjing itu? Ia tidak jijik. Tidak takut. Tidak juga berlebihan. Biasa saja, tapi penuh hati-hati.”

“Ya, karena dia kerja di situ,” jawab Zak singkat. Nun menggeleng pelan. “Bukan. Karena dia merasa punya tanggung jawab.” Di bawah panggung, manusia dan prasangka berbaur tanpa jarak.

“Zak,” suara Nun kembali memelan, “menurutmu, lebih najis mana? Tangan yang pernah menyentuh anjing atau hati yang senang merendahkan orang lain?”

Zak menatap ke arah Mis lagi. Orang yang pernah ia anggap perlu diluruskan, kini berdiri tegak, bekerja, bertanggung jawab, bahkan tampak bahagia. Zak menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mencari dalil di kepalanya. Ia hanya melihat. “Kalau menurut hitunganmu, mungkin tidak,” jawab Zak pelan. “Tapi entah kenapa, aku justru merasa yang lebih mengotori manusia sering kali bukan anjing, melainkan isi kepalanya sendiri.”

Nun menoleh, sedikit terkejut. “Wah, akhirnya batok kepalamu ada isinya juga.”

Zak mendecih kecil. “Jangan senang dulu. Aku masih percaya hukum tetaplah hukum. Najis tetap najis, aku tidak sedang mengubah itu. Mis juga paham cara memperlakukan anjing dengan baik, tapi dia tetap salah karena tidak berpamitan dengan baik kepada kita.”

“Aku juga tidak memintamu mengubah hukum,” kata Nun. “Aku hanya ingin kamu melihat, kadang manusia terlalu sibuk mencuci tangan, tetapi lupa membersihkan hati.”

Zak diam. Ia teringat betapa sering akhir-akhir ini ia memarahi Nun karena masih mengantarkan makanan pada Mis dan ibunya. “Kalau seseorang menjaga kesucian tapi kehilangan belas kasihan, apa itu masih bisa disebut bersih?”

Nun menatap suaminya lama, lalu tersenyum kecil. “Kadang yang paling sulit dibersihkan memang bukan lantai rumah, Zak. Tapi kesombongan yang diam-diam tinggal di dada.”

Angin malam berhembus pelan. Lampu warna-warni masih berkedip, dan musik dangdut masih bernyanyi. Di tengah pesta ulang tahun seekor anjing itu, Zak merasa ada sesuatu dalam dirinya yang runtuh. Bukan iman, bukan pula keyakinan, melainkan tembok keras yang selama ini membuatnya terlalu mudah menghakimi manusia lain.

“Ini pelajaran buat kita untuk jangan terlalu larut memikirkan, apalagi ikut campur hidup orang lain. Kalau urusan membantu boleh-boleh aja.”

“Buat kamu, bukan buat aku!”

“Ah, Nun ayo pulang, sudah mau larut malam. Kita masih belum punya anak!”

***

Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 4 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian