Setiap orang yang berilmu, kata sebuah syair, akan tetap hidup abadi setelah mati, meski jasad dan tulang-tulangnya sudah hancur lebur di dalam tanah. Sepanjang hayat, mereka akan selalu menjadi bahan rasan-rasan dan rujukan umat manusia. Kemonceran mereka tidak akan pernah suram, tertimbun sejarah, dan hilang dari ingatan masyarakat. Nama orang-orang bijak dan berilmu senantiasa “hidup” dalam bentang sejarah umat manusia, kendati sudah ribuan tahun lamanya mereka meninggalkan dunia.
Salah satu sebab mengapa nama orang-orang berilmu masih memancar sampai sekarang ini, karena dedikasi dan pengaruh mereka dalam kehidupan kita. Siapa pun boleh debat dan gontok-gontokan sampai subuh mengenai nama-nama dalam buku 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah (1978) karya seorang antrofisikawan kelahiran Amerika, Michael H. Hart. Tapi kita juga harus jujur, bahwa tokoh-tokoh dalam buku itu memiliki sumbangsih besar bagi peradaban umat manusia.
Indonesia juga mempunyai segudang tokoh moncer dengan legacy dan kontribusi tidak kecil. Para tokoh besar di negeri kita, berikut dengan pemikiran, kiprah, dan karya-karya mereka, sebagian besar sudah diabadikan dengan baik. Pembacaan atas “warisan” tokoh-tokoh nasional itu bahkan masih terus dilakukan. Atau, setidaknya, pemikiran dan jejak langkah mereka tetap menjadi bahan diskursus dan rujukan masyarakat dalam momen-momen tertentu. Apalagi ketika negara berada dalam keadaan krisis seperti sekarang ini.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), adalah satu dari sekian tokoh nasional yang senantiasa dijadikan rujukan oleh masyarakat kita, terutama saat kondisi bangsa (dianggap) sedang mengalami “sakit parah”. Gagasan cucu muassis NU ini bisa dibilang kosmopolitan, dan mengandung nilai-nilai sublim. Sehingga tidak mengherankan, kalau “teks” Gus Dur itu “diperebutkan” oleh kawula muda NU di tahun 2000-an untuk melegitimasi wacana dan gerakan intelektual mereka.
Problem “Teks Eceran” Gus Dur
Hanya saja, menurut hemat saya, “teks” Gus Dur itu tidak seperti cerpen atau novel yang bisa kelar dibaca dan dipahami dengan sekali duduk. Selain kosmopolit dan rumit, “teks” Gus Dur tampaknya memang tidak bisa ditutup atau dikhatamkan. Ia menolak eksklusif, tidak mau dipasung, dan selalu membangkang ketika hendak difosilkan. Pemikiran dan jejak langkah Gus Dur, dengan demikian, sangat menganga untuk dibaca oleh siapa pun. Sebab “teks” Gus Dur bukan milik organisasi dan komunitas tertentu, bahkan juga bukan milik keluarga Ciganjur, melainkan milik seluruh umat manusia dan anak semua bangsa.
Pembacaan atas “teks” Gus Dur sudah banyak sekali dilakukan. Buku-buku tentang Gus Dur, sejak orok sampai menjelang wafat, hampir tak bisa dihitung dengan jari. Pemikiran dan sederet “akrobat” Sang Guru Bangsa itu, sebagaimana galib diketahui, sudah banyak dikaji dari berbagai aspek dan dengan beragam pendekatan. Semua kajian mengenai Gus Dur, dalam hal ini adalah buku-buku, sangat mudah kita temukan di sembarang tempat. Dengan kata lain, “di sana ada Gus Dur, di sini ada Gus Dur, di mana-mana ada Gus Dur”.
Fenomena “Gus Dur ada di mana-mana” itu, di satu sisi memang menguntungkan, tetapi di sisi yang lain, cenderung membuat sebagian orang (termasuk saya sendiri) mengalami kesulitan. Persoalan terakhir ini biasa terjadi, terutama, ketika hendak membaca tulisan-tulisan Gus Dur. Sejauh ini tulisan-tulisan Sang Guru “Liberal” NU itu masih diterbitkan secara “eceran” oleh beberapa penerbit, seperti: Leppenas, LP3ES, LKiS, Desantara, The Wahid Institute, dan lain sebagainya.
Seluruh tulisan Gus Dur di berbagai media massa selama ini kerap kali diterbitkan dalam bentuk antologi—yang dikelompokkan sesuai tema-tema tertentu. Meski sudah dikemas dalam bentuk buku, namun tetap saja karya-karya Gus Dur belum disajikan secara utuh. Sebab buku-buku tersebut bersifat tematik, sehingga tidak menampilkan pemikiran Gus Dur secara keseluruhan.
Mengabadikan “Teks” Gus Dur Secara Utuh
Sejak 2001, di kalangan “santri-santri” Gus Dur memang sudah muncul gagasan inovatif: menghimpun dan mendigitalisasi semua tulisan Gus Dur ke dalam website GusDur.Net. Situs resmi ini menjadi media sangat vital dalam rangka menyebarkan informasi tentang Gus Dur, terutama bagi generasi kiwari dan mendatang. Hanya saja, kita juga tidak boleh menafikan perkembangan mutakhir, bahwa riset belakangan menyebutkan media digital mulai dianggap menjadi salah satu penyebab masyarakat mengalami kebosanan, kejenuhan, dan bahkan terjerembab ke dalam burnout.
Oleh karena itu, kita tidak mungkin sekadar mengandalkan GusDur.Net sebagai media kumpulan tulisan sekaligus media “dakwah” nilai-nilai Gus Dur dalam konteks kekinian. Peran GusDur.Net tersebut lebih kepada memberikan kemudahan akses bagi masyarakat untuk mencari tahu tentang Gus Dur belaka. Sedangkan untuk mendiseminasi pemikiran, nilai-nilai perjuangan, dan membaca karya-karya beliau, website GusDur.Net cenderung kurang efektif. Lagipula, menurut catatan GoodStats (2025) sebagian besar generasi muda kita masih menggandrungi buku-buku fisik ketimbang buku elektronik (e-book).
Setelah mencermati masalah-masalah di atas, lantas bagaimana “jalan keluar”-nya? Jika saya boleh usul, seluruh tulisan Gus Dur di berbagai media massa dan penerbit tersebut dikumpulkan, dikurasi, dan diterbitkan ulang dalam satu buku. Seperti buku Di Bawah Bendera Revolusi (2 jilid), Karya Lengkap Bung Hatta (10 jilid), Capita Selecta (M. Natsir, 3 jilid), Karya Lengkap Nurcholis Madjid (5 jilid), dan seterusnya.
Paling tidak ada beberapa alasan, mengapa tulisan-tulisan “eceran” Gus Dur itu penting diterbitkan kembali dalam bentuk “buku karya lengkap”. Pertama, masih banyak teks-teks (artikel, esai, kata pengantar, hasil wawancara, dan lain-lain) Gus Dur yang belum diketahui publik, terutama generasi mutakhir. Kedua, selama ini pembacaan terhadap Gus Dur masih cenderung berbasis pada permukaan teks, sehingga perlu menghadirkan tulisan-tulisan Gus Dur sesuai asbabun nuzul-nya (konteks historis dan sosial-politik). Ketiga, memberikan kemudahan bagi generasi mendatang (para pembaca dan peneliti) untuk menggali nilai-nilai sublim dalam pemikiran dan perjuangan Gus Dur.
Last but not least, agenda menerbitkan seluruh karya Gus Dur ke dalam satu buku urgen dilakukan dalam konteks saat ini. Selain sebagai ikhtiar untuk “membumikan” Gus Dur, menghadirkan karya lengkap dengan memberikan catatan pengiring (hasyiyah) tersebut merupakan langkah efektif untuk menampilkan Gus Dur secara utuh. Dengan demikian, kita bisa membaca dan memahami pemikiran dan jejak langkah Gus Dur secara lengkap, komprehensif, dan kontekstual. Atau, dengan kata lain, “membaca Gus Dur secara utuh” sangat mungkin ditempuh, dan kemudian dapat melahirkan interpretasi baru dan segar terhadap pemikiran dan perjuangan Gus Dur.
Namun, saya juga memahami, menghimpun dan memberikan hasyiyah terhadap karya-karya Gus Dur tidak mudah dilakukan. Sudah barang tentu, menggarap proyek semacam ini membutuhkan waktu bertahun-tahun, memakan biaya tidak sedikit, dan melibatkan banyak pihak. Jika toh “proyek peradaban” ini belum bisa direalisasikan karena kendala-kendala tertentu, setidak-tidaknya discourse tentang “mengabadikan teks-teks Gus Dur secara utuh” sudah menyembul ke permukaan. (SDH)