Oleh: Akhmad Vaiz Vadlly Robby
LANGIT di atas Desa Karangwungu tidak pernah benar-benar pulih sejak tanah longsor melumat separuh kampung itu empat tahun silam. Setiap kali mendung bergelayut rendah di atas punggung bukit, orang-orang tua masih menekan dada, menahan kecemasan yang tak bernama.
Trauma, kata orang-orang kota yang datang membawa berkas catatan dan formulir. Namun, warga desa menyebutnya dengan istilah yang lebih tua: luka tanah.
Sawah-sawah di lereng selatan pelan-pelan kembali menghijau. Ibu-ibu sudah berani menjemur kain di halaman, dan anak-anak mulai bercanda lagi. Namun, di balik pemulihan yang rapuh itu, ada hal lain yang tumbuh, sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan bantuan bencana mana pun.
Setahun setelah longsor, datang sekelompok orang dari kota. Mereka membawa truk bermuatan sembako, amplop tebal untuk pembangunan rumah, dan satu hal lagi yang tidak tertulis di manifes pengiriman: keyakinan bahwa merekalah pemegang kebenaran tunggal.
Mereka datang dengan jubah putih panjang, janggut yang dipelihara memanjang, dan cara bicara yang terasa seperti fatwa sebelum sempat menjadi percakapan.
Masjid baru itu berdiri megah di jantung desa. Dindingnya putih seperti kapas, menaranya meruncing ke langit seolah ingin melapor langsung kepada Tuhan. Dibangun dalam empat puluh hari, jauh lebih cepat daripada rumah-rumah warga yang masih setengah jadi. Warga yang semula hanya ingin tempat ibadah yang tidak bocor, kini mendapati diri mereka punya masjid yang terlalu megah untuk dimasuki tanpa rasa rendah diri.
“Sekarang kalian punya tempat ibadah yang layak,” kata pemimpin kelompok itu, seorang pria tinggi berkulit bersih bernama Ustaz Fauzan, dalam pidato peresmian.
“Maka jaga kemuliaannya. Jangan biarkan hal-hal yang najis merusaknya.”
Yang dimaksud najis ternyata bukan hanya kotoran dalam pengertian fikih. Pelan-pelan, daftar kenajisan itu meluas. Musik selawat dengan pengeras suara di hajatan dianggap najis, tradisi tahlilan dilarang, dan leluhur dituduh mewariskan dosa.
Lebih dari segalanya, anjing, hewan yang selama ini berkeliaran bebas di desa pegunungan itu, tiba-tiba menjadi lambang kekafiran yang harus dibasmi.
Pak Suryanto, kepala desa berusia lima puluh tiga tahun, menyaksikan semua ini dari teras balai desa dengan perasaan sesak. Ia bukan tidak taat. Shalat lima waktu ia jaga sejak muda, puasa pun tak pernah bolong.
Tetapi ada sesuatu dalam cara kelompok itu berbicara yang membuat dadanya menyempit. Seolah Islam yang ia warisi dari ibunya, Islam yang berbau tanah dan kembang setaman, Islam yang diajarkan dengan cerita dan senyum tulus, tiba-tiba menjadi barang antik yang memalukan.
***
Di ujung jalan buntu, berdiri sebuah gubuk yang luput dari proyek renovasi, atau mungkin sengaja dilewati. Atap sengnya berkarat kecoklatan, dindingnya separuh bambu dan separuh kayu mahoni sisa panen ladang juragannya.
Penghuninya adalah lelaki yang tidak diketahui pasti umurnya. Warga memanggilnya Kang Waris, atau lebih sering disebut Si Gila. Bukan karena ia berbahaya, melainkan karena ia sering bicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan tidak pernah takut pada bagaimanapun keadaannya.
Dulu, sebelum longsor, Kang Waris adalah penjaga ladang mahoni. Ia hafal setiap pohon, hafal tanaman obat, bahkan bisa membaca langit lebih akurat dari perkiraan cuaca radio. Namun, longsor mengambil segalanya.
Gubuknya hanyut, dan salah satu pohon besar roboh menimpa istrinya hingga tewas. Orang yang kehilangan dengan cara seperti itu biasanya memilih satu dari dua jalan: hancur sepenuhnya, atau menjadi sosok yang tidak bisa lagi dilukai oleh kesedihan biasa.
Kang Waris memilih yang kedua. Itu membuat orang di sekitarnya tidak nyaman, sebab tidak ada yang lebih mengganggu ketertiban ketimbang seseorang yang benar-benar bebas.
Satu-satunya makhluk yang tidak meragukan Kang Waris adalah seekor anjing bernama Jali. Hewan itu datang sebulan setelah bencana dengan kaki pincang dan bulu kusam kecoklatan. Kang Waris memberinya makan dari piring yang sama, mengizinkannya tidur di kaki ranjang bambu, dan mengajaknya bicara seperti kawan lama.
“Kau tahu, Jali,” kata Kang Waris suatu sore sambil mengusap kepala anjing itu, memandangi langit yang mulai jingga di atas bukit.
“Orang-orang di desa itu takut. Takut kepada Tuhan yang mereka ciptakan sendiri. Tuhan yang selalu marah, mencatat setiap kesalahan, dan benci kegembiraan. Mereka tidak tahu bahwa Tuhan yang sesungguhnya tersenyum ketika kamu mengibas-ngibaskan ekormu seperti itu.”
Jali mengibaskan ekornya, berputar-putar di kaki Kang Waris. Dua jiwa itu saling bercanda, menutup hari yang sebentar lagi dilumat malam, sementara sayup suara azan magrib mulai mengalun dari menara masjid putih yang baru.
***
Badai kembali datang pada pertengahan bulan ketujuh, tiba-tiba dan tanpa basa-basi. Langit yang sore harinya masih kelabu mendadak runtuh dalam hujan yang seperti tidak berniat berhenti. Kilat menyambar-nyambar di balik punggungan bukit. Guntur bergulung seperti tasbih raksasa yang sedang diputar oleh tangan yang murka.
Di dalam masjid, kajian malam sedang berlangsung. Ustaz Fauzan duduk di atas mimbar kecil, suaranya monoton tetapi penuh wibawa, membacakan teks dari sebuah kitab tebal bersampul hijau.
Sekitar tiga puluh lelaki duduk bersila dengan kepala menunduk dan wajah serius, tak memedulikan badai di luar. Pak Suryanto duduk di barisan belakang. Ia datang bukan karena yakin, melainkan karena posisinya sebagai kepala desa mengharuskannya hadir di setiap kajian rutin.
Di sampingnya duduk Hendra, pemuda desa yang dulu suka memainkan kecapi di malam Suro, kini mengenakan jubah baru dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Maka dari itu, Saudara-saudara,” suara Ustaz Fauzan mengisi ruangan, “kita harus menjaga kesucian tempat ini. Tidak hanya dari hal-hal yang secara fisik najis, tetapi dari pengaruh yang mengotori kita secara spiritual. Dan tentu saja …” ia berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan seperti sorotan lampu senter, “… hewan-hewan tertentu yang sudah jelas hukumnya dalam syariat kita.”
Tidak ada yang berbicara. Hujan terus menggebrak atap seng masjid dengan ritme yang tidak peduli pada khotbah apa pun. Kemudian, pintu berderit lirih, memecah keheningan. Semua kepala menoleh.
Di ambang pintu, berdiri Jali. Bulunya basah kuyup, kakinya yang pincang membuat posturnya miring. Matanya memantulkan cahaya lampu neon masjid. Ia mengguncangkan badan, menyebarkan butiran air ke karpet tempat mereka duduk. Jali masuk begitu saja, seolah tidak tahu ada aturan tentang siapa yang boleh berteduh dari hujan.
“Najis! Usir makhluk itu keluar!” Suara Ustaz Fauzan menyeruak ke tengah jemaah. Wajahnya merah padam. Baginya, ini bukan sekadar soal seekor anjing masuk masjid, melainkan ancaman terhadap seluruh otoritas yang telah ia bangun.
Seorang pemuda bernama Rido melompat berdiri. Ia mengambil tongkat kayu yang biasa dipakai untuk menunjuk papan tulis. Sebelum siapa pun sempat mencegah, tongkat itu mendarat keras di punggung Jali. Anjing itu memundurkan tubuh dengan lengkingan tinggi. Ia berputar, berusaha kabur, tetapi kakinya yang pincang membuatnya terjatuh. Rido menghantamnya lagi berkali-kali.
Pak Suryanto bangkit setengah berdiri, mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Di sekelilingnya, tidak ada seorang pun yang bergerak untuk menghentikan itu. Beberapa bahkan mengangguk setuju.
Jali akhirnya berhasil diusir keluar, berlari terseok-seok menembus gelap. Kajian malam ditutup. Ustaz Fauzan merapikan jubahnya, membersihkan tenggorokan, lalu berkata dengan tenang, nada yang terasa lebih mengerikan daripada amarahnya tadi. “Itulah mengapa kita harus tegas. Kelembutan kepada yang najis adalah pengkhianatan kepada yang suci.”
***
Amarah yang tidak selesai di malam hari biasanya mencari penyelesaian di pagi hari. Sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kerumunan sudah menyemut di depan gubuk Kang Waris. Dua puluh orang, mungkin lebih.
Beberapa membawa tongkat, seutas tali, dan Rido dengan parang di pinggangnya. Wajah-wajah mereka mengeras, menyimpan keputusan semalam yang sengaja dijaga agar tidak mengendur. Ustaz Fauzan sendiri tidak tampak di sana.
Jali tidak sempat lari. Orang-orang menemukannya di bawah pohon rambutan di samping gubuk, masih menjilati luka di punggungnya. Tali dijeratkan ke lehernya sebelum anjing itu sempat berdiri. Jali tidak menggigit, tidak melawan. Ia hanya merengek, sebuah suara kecil yang lebih menyedihkan daripada perlawanan mana pun.
Kang Waris keluar dari gubuk ketika kegaduhan itu membangunkannya. Ia berdiri di ambang pintu dengan sarung lusuh dan mata mengantuk, menyaksikan adegan yang bergerak cepat dari bingung menjadi ngeri.
“Hei! Lepaskan dia!” teriaknya, melangkah maju.
“Minggir, Gila!” Seorang pria mendorongnya mundur. “Ini urusan desa, bukan urusanmu!”
“Itu anjingku!”
“Anjingmu adalah najis desa ini!” teriak yang lain. “Sudah lama kami bersabar dengan kelakuanmu!”
Kang Waris tidak bisa menembus keramaian itu. Tubuhnya terlalu kurus, tangannya tidak cukup banyak. Ia hanya bisa tersungkur di tanah, menangis terisak, menyaksikan kilatan besi di pagi yang berkabut. Tangannya menggapai-gapai udara, berusaha meraih kawan baiknya dengan pandangan mata yang buram oleh air mata.
“Pergi kau dari desa ini, Gila! Bawa najismu bersamamu!” teriak massa, suaranya menggema di antara pohon-pohon yang masih basah. Kang Waris berusaha bangkit perlahan. Matanya basah, walau sebetulnya sudah terlalu banyak hal yang ia tangisi sepanjang hidupnya.
Langkah-langkah pendek Bagas, putra tunggal Pak Suryanto yang baru berusia delapan tahun, membelah kerumunan. Anak itu langsung menjatuhkan lututnya ke bumi, memeluk bangkai Jali tanpa memedulikan darah, najis, ataupun tatapan ganjil orang-orang dewasa di sekelilingnya.
“Kalian membunuh malaikatku!” tangisnya pecah, menyayat sunyi pagi. “Kalian membunuh malaikatku!”
Pak Suryanto tiba dengan napas tersengal. Menyaksikan anaknya memeluk bangkai itu, sekat ingatan di kepalanya mendadak jebol. Empat tahun lalu, saat badai melanda dan ia sedang berada di kota, seekor anjing pincang menyelinap ke kamar Bagas yang masih balita. Bukan untuk merusak, tapi untuk bertarung mati-matian dengan seekor ular kobra yang merayap di bawah kelambu. Jali menang, dengan leher tercengkeram taring racun yang untungnya meleset, ia menyeret ular itu keluar halaman.
Pak Suryanto menelan ludah getir. Matanya bergerak lambat menatap tubuh Jali, lalu beralih ke wajah-wajah kaku di sekitarnya.
“Bapak tahu?” suara Bagas memotong keheningan. Matanya basah, tetapi tatapannya menghujam lurus kepada kerumunan. “Waktu Bagas masih kecil, ada ular mau gigit Bagas. Jali yang menghalau ularnya. Jali bukan hanya hewan, Jali malaikat Bagas.”
Kang Waris melangkah maju dengan tenang. Tubuhnya kurus dan pakaiannya lusuh, tetapi ada wibawa aneh yang membuat massa mendadak tertunduk.
“Kalian tahu,” suaranya rendah namun jernih seperti air pegunungan, “ada hadis tentang seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan di padang pasir.”
Tidak ada satu pun jemaah yang berani menyela.
“Kalian hafal betul tata cara bersuci. Tujuh kali cuci, sekali dengan tanah,” Kang Waris menjeda, menatap satu per satu mata di hadapannya.
“Tetapi batas suci dan najis yang kalian jaga ketat itu sudah lama tidak lagi berbicara tentang air dan tanah. Batas itu sekarang berbicara tentang siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus kalian usir.”
“Kamu gila!” ketus Rido, mencoba bertahan.
“Mungkin,” Kang Waris tersenyum hambar. “Tetapi seekor anjing pincang menyelamatkan nyawa anak kepala desa kalian, dan kalian memenggal kepalanya sebagai hadiah. Kalian bisa mencuci najis dari karpet masjid dengan tujuh kali air dan sekali tanah. Tetapi dengan apa kalian akan mencuci hati yang membusuk karena kebencian? Dengan tanah apa? Dengan air sumur yang mana?”
Hening yang menyusul terasa begitu pekat di dada masing-masing orang.
“Iman yang sesungguhnya,” lanjut Kang Waris lebih pelan, “tidak takut kepada anjing basah yang hanya ingin berteduh dari hujan. Iman yang sesungguhnya bisa duduk bersama yang dianggap najis tanpa merasa ternodai, karena ia tahu di mana letak kesuciannya yang sejati.”
Pak Suryanto melangkah maju, merengkuh Bagas ke dalam pelukannya. Sesuatu di dalam dadanya yang selama ini ditekan demi posisi dan kewajaran politik desa, kini runtuh sepenuhnya.
Ustaz Fauzan muncul di tepi kerumunan dengan tangan bersedekap. Wajahnya sempat menegang, ada riak kecil yang berkecamuk di matanya sebelum akhirnya ia memalingkan muka dan berjalan pergi. Para pengikutnya pun satu demi satu mengekor di belakang, meninggalkan pagi yang berkabut bersama sebuah pertanyaan yang tak sempat terjawab oleh kata-kata.
***
Desa Karangwungu tidak berubah dalam semalam. Namun, perlahan seperti erosi, segalanya mulai bergeser. Pak Suryanto mulai berani memanggil satu per satu tokoh desa yang selama ini diam karena takut atau nyaman dengan aliran bantuan. Ia berbicara kepada mereka bukan lagi sebagai kepala desa, melainkan sebagai seorang tetangga yang pernah keliru.
Hendra, pemuda berjubah baru itu, suatu malam duduk di teras rumahnya. Jari-jarinya kembali memetik dawai kecapi yang telah dua tahun berdebu. Alunan nadanya mengalun liris dan ragu-ragu. Tetangga-tetangganya tidak ada yang melaporkannya ke masjid. Mereka hanya mendengarkan dari balik jendela, mengangguk pelan mengikuti irama tradisi yang sempat dianggap dosa.
Ustaz Fauzan tidak pernah meminta maaf secara terbuka. Kelompoknya sudah jarang melakukan razia yang disebut sebagai amar ma`ruf itu.
Namun, dalam sebuah kajian beberapa bulan kemudian, untuk pertama kalinya ia membacakan hadis tentang pelacur dan anjing yang kehausan itu. Ia membacanya datar, tanpa tambahan fatwa ataupun tafsir ego, membiarkan kata-kata itu berbicara sendiri langsung ke dalam hati jemaahnya.
***
Cerpen ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerpen “Tuhan di Rumah Kardus” (Terbit, 2026). Seluruh rangkaian cerpen dimuat secara berkala di laman gusdurian.net dari tanggal 4 Agustus 2026 hingga 7 September 2026 dalam rangka menyemarakkan Harlah Gus Dur.