Opini

Menjelang Pameran dan ‘Bismillah’ Tanpa Habis dari Nasirun

Berita meninggalnya Mas Nasirun membuat ingatan-ingatan pertemuan dengannya muncul kembali. Saya jadi ingin bercerita betapa berkesannya pertemuan kami dengan Mas Nasirun. Mas Nasirun, nama yang luar biasa besarnya bagi seorang mahasiswa seni seperti saya. Saat itu tidak ada bayangan sama sekali akan bertamu di rumahnya. Biasanya saya hanya melihat dari kejauhan saat ada pameran di galeri seni. Kalaupun bertemu tak kubayangkan akan bisa semenyenangkan itu. Pokoknya terasa jauh dan berjarak sekali.

Namun, prasangka itu runtuh total pada awal 2019. Saat itu, selain berkuliah di kampus ISI Yogyakarta, saya juga nyantri di Pondok Psantren Krapyak. Di akhir masa kuliah, salah seorang teman, Indah Fikriyyati namanya, menawari untuk membuat pameran di Kandang Menjangan. Kami, 5 Santriwati Krapyak yang berkuliah di jurusan seni mencoba unjuk gigi.

Gaya kami saat itu. Bukan maksud gimana-gimana, jurusan kami ini seringkali dipandang jurusan yang jauh dari ke-akhirat-an, alias haha hihi duniawi aja. Setidaknya oleh para pengurus pondok kami. Kami sering mendapat teguran, hukuman atau ta’zir karena ketidakmampuan kami membagi waktu antara tugas-tugas kesenian dan kepesantrenan.

Efeknya beberapa dari kami juga mendapatkan “waskat” dari pengurus pondok alias pengawasan ketat. Si paling sok nyeri ini kira-kira ingin lah untuk sekali saja menampilkan hasil refleksinya selama menjalani dua kehidupan yang nampak agak kontradiktif ini melalui pameran kecil-kecilan tapi bermakna sangat dalam bagi kami.

Nah, menjelang persiapan pameran, kami kebingungan sendiri. Mau mengangkat dari sisi apanya? Kami takut sekali blunder dan malah membuat citra pesantren buruk. Dan banyak ketakutan lain seperti bagaimana jika tidak diterima? Bagaimana jika diprotes? dan lain sebagainya.

Wong pameran tinggal pameran kok malah dadak kebanyakan pikiran. Kira-kira begitulah yang akhirnya memantapkan hati kami untuk gass aja terus. Namun, untuk meredakan kegelisahan-kegelisahan itu kami memutuskan untuk sowan ke para tokoh yang kami anggap relevan untuk kami mintai nasehat. Kami sowan ke Mbak Kalis Mardiasih, Mas Harus Salim, Pakde Uyun, dan terakhir adalah sowan ke Mas Nasirun.

Melalui teman kami, Mas Mukhib, si pakar silaturahmi ini, kami 5 santriwati masuk ke rumah Mas Nasirun yang masya Allah luasnya bukan main. Kami duduk dan disuguhi tahu walik yang enak sekali, saya masih ingat bahkan sampai 7 tahun setelahnya. Saya sudah lupa apa yang dibicarakan Mas Nasirun saat itu, ia duduk sambil ngeroyok, rambutnya terurai rewo-rewo, pakai kaos lusuh dan saringan.

Meski begitu saya masih teringat jelas bagaimana ia sepanjang obrolan terus tertawa dan tersenyum. Seakan-akan semua hal di dunia ini adalah hal menyenangkan dan ia mengajak kami untuk santai dan menertawakannya. Dinding kecanggungan dan inferioritas kami runtuh seketika menghadapi keterbukaan Mas Nasirun menerima kami.

Ia dengan santai menceritakan lukisan yang sedang ia garap namun sudah ada yang beli dengan harga 1 Miliar. Setelah itu kami diajak berkeliling rumahnya yang sangat estetik itu. Setiap jengkal kalau tidak lukisan ya patung atau produk seni lainnya. Kami jalan dengan thimik-thimik karena ga tau mau ngganti berapa duit kalau tidak sengaja nyenggol dan memecahkan barang di sana. Tapi Mas Nasirun mengajak kami berkeliling dengan ringannya, kami merasa sangat diterima. Ia menjelaskan lukisan yang ia buat sambil menatap kami satu persatu.

Kami dibawa ke lantai 2 rumahnya yang berlantai kayu. Hampir semua lantainya ia lukis. Sangat colorful sekali. Ia berkelakar menyelesaikan lukisan itu dengan cepat karena sedang marah dengan keluarganya. Kemarahan ia wujudkan dalam lukisan yang sangat berwarna dan membuat orang tersenyum melihatnya, bagaimana bisa? Sampai saat ini pun saya bertanya-tanya.

Tentu tak semua lukisan saya ingat, namun kesan bahwa ia adalah orang yang memiliki tingkat spiritualitas tinggi sangat bisa kami rasakan. Kedekatannya dengan Tuhan ia terjemahkan dalam beberapa lukisan yang ditunjukkannya kepada kami. Tak hanya itu, ada satu lukisan yang masih melekat dalam benakku pribadi: ia memvisualkan ibunya yang sedang melahirkannya dengan wujud yang mungkin tak seorang pun membayangkan.

Saya tidak bisa mendeskripsikan seperti apa lukisannya, namun emosi yang saya tangkap saat melihatnya masih teringat sampai sekarang. Saat itu saya menangkap kesan betapa dalamnya makna seorang ibu bagi Mas Nasirun. Usut punya usut Mas Nasirun pernah berkata: “Saya dibekali ibu saya Bismillah yang tidak pernah habis.”

Tak cukup sampai di situ, Mas Nasirun membawa kami ke bangunan di depan rumahnya yang seperti museum. Di sana ada patung Gus Dur sedang duduk di kursi panjang, mengenakan kaos oblong pendek dan celana pendek dengan ekspresi tertawa. Dua manusia ini seperti punya kesamaan, suka sekali tertawa dan membuat orang lain tertawa.

Semua hal terasa mudah dihadapi dalam hidup. Mereka berdua wujud manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Di atas patung Gus Dur ada juga lukisan Gus Dur yang sedang dibisiki malaikat bersayap warna warni. Sama malaikat aja Gus Dur bisa guyonan.

Bagi kami hal tersebut adalah pengalaman yang sangat luar biasa mahalnya. Beliau, seorang seniman besar, dengan hangat menerima kedatangan kami ke rumahnya. Ia tak memberi banyak nasehat dan saran, tak satupun yang saya ingat. Namun, keterbukaan hatinya menerima kami, saya anggap sebagai dukungan atas sesuatu yang sedang kami usahakan. Hati kami benar-benar dibesarkan. Terima kasih, Mas Nasirun. (SDH)

Adin Fahima Zulfa

Komandan Media Sosial Jaringan GUSDURian.