Peringati Haul Gus Dur, Diskusi ke-16 “Berbincang Kemanusiaan” Digelar di IAIN Pontianak

PONTIANAK — Diskusi ke-16 dengan tema “Berbincang Kemanusiaan Menurut Gus Dur” diselenggarakan di Gedung Fakultas Ushuluddin dan Adab, IAIN Pontianak, pada Rabu, 17 Desember 2025. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas GUSDURian Pontianak bekerja sama dengan Lembaga Studi Islam dan Masyarakat (eLSIM Kalimantan Barat), Meja Interaksi, serta Kelompok Studi Mahasiswa (KSM). 

Diskusi dibuka oleh pemaparan Zulkifli Abdillah, dosen sekaligus Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Adab. Dalam pengantar diskusinya, Zulkifli tidak hanya memaparkan pemikiran Gus Dur secara konseptual, tetapi juga berbagi pengalaman personalnya ketika pertama kali membaca tulisan-tulisan Gus Dur dan saat berjumpa langsung dengan sosoknya ketika berkunjung ke Pontianak.

“Gus Dur itu bicara tanpa beban,” ujar Zulkifli, sambil mengenang salah satu ungkapan Gus Dur yang fenomenal, “Anggota DPR itu seperti anak TK.” Meski dikenal berani mengkritik kekuasaan, termasuk ketika berseberangan pandangan dengan Soeharto, Gus Dur, menurutnya, tidak pernah menggunakan kata-kata kotor atau merendahkan martabat manusia.

Dalam pemaparannya, Zulkifli juga menyinggung forum demokrasi yang didirikan Gus Dur, yang pada masanya menjadi vis-à-vis dengan ICMI. Ia menekankan bahwa keberanian Gus Dur dalam bersikap tidak dapat dilepaskan dari basis intelektual dan pengalaman hidupnya yang panjang.

Mengikuti jejak ayah dan kakeknya, Gus Dur kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Penobatan ini diterima luas oleh publik dan relatif tanpa kontroversi, berbeda dengan sejumlah tokoh lain yang menuai penolakan. Hal tersebut, menurut Zulkifli, dapat dipahami dari rekam jejak kebijakan dan sikap kemanusiaan Gus Dur sepanjang hidupnya.

Basis utama pemikiran Gus Dur, lanjutnya, sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikannya. Gus Dur memulai perjalanan intelektualnya di pesantren. Di sana, khazanah klasik Islam—seperti ilmu mantiq, gramatika bahasa Arab, ushul fikih, fikih, tafsir, dan hadis—menjadi fondasi berpikirnya. Tradisi intelektual pesantren ini membentuk cara pandang Gus Dur yang mendalam sekaligus lentur.

Selain itu, Gus Dur juga banyak belajar secara otodidak ketika menempuh studi di Mesir dan Irak. Pada fase inilah ia mulai mengenal dan mengolah metodologi keilmuan Barat. Perjumpaan antara tradisi keilmuan Islam klasik dan pemikiran modern inilah yang kemudian membentuk corak pemikiran Gus Dur yang khas, terbuka, dan kritis.

Zulkifli merangkum basis utama pemikiran Gus Dur dalam tiga hal. Pertama, pesantren sebagai ruang pembentukan khazanah klasik Islam. Kedua, proses belajar otodidak di Mesir dan Irak yang memperkenalkan Gus Dur pada metodologi keilmuan Barat. Ketiga, pertautan Islam dengan lokalitas keindonesiaan, terutama dalam konteks pluralitas dan Pancasila. Sejak kecil, Gus Dur dikenal sebagai pembaca rakus yang melahap berbagai jenis bacaan lintas disiplin.

Konsep pribumisasi Islam kemudian menjadi salah satu gagasan penting Gus Dur. Islam, bagi Gus Dur, harus diterjemahkan dan dihidupkan dalam konteks keindonesiaan, tanpa kehilangan nilai-nilai universalnya. Dalam kerangka inilah Pancasila diterima sebagai asas bersama, sehingga seluruh partai politik, organisasi, dan komunitas menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks pemikiran kemanusiaannya, Zulkifli menjelaskan bahwa Gus Dur berpijak pada tiga prinsip utama: Islam universal, kosmopolitanisme Islam, dan indigenisasi Islam. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk pandangan Gus Dur tentang kemanusiaan yang melampaui sekat agama, etnis, dan identitas sosial.

Menanggapi ungkapan Gus Dur tentang penggunaan “selamat pagi” sebagai pengganti “assalamu’alaikum”, Zulkifli menegaskan bahwa hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai penggantian secara literal. Ungkapan itu justru menunjukkan, bahkan telah dibuktikan saat ini, bahwa salam tersebut telah diterima dan digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat lintas iman.

Ia juga menyinggung kebijakan Orde Baru di bawah Soeharto yang berdampak pada penghilangan identitas masyarakat Tionghoa melalui kebijakan pembauran yang menekan ekspresi budaya mereka. Gus Dur, di kemudian hari, justru mengambil kebijakan sebaliknya: mengembalikan hak-hak sipil masyarakat Tionghoa, membolehkan kembali ekspresi budaya dan keagamaan mereka, serta mencabut berbagai larangan yang bersifat diskriminatif.

Menurut Zulkifli, salah satu prestasi terbesar Gus Dur adalah keberhasilannya mengembalikan militer ke barak. Gus Dur berupaya memulihkan hak-hak sipil masyarakat yang selama ini tertekan akibat keterlibatan militer di berbagai lini kehidupan sipil.

“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan,” ujar Zulkifli, mengutip perkataan Gus Dur ketika menjelaskan peristiwa lengsernya sang presiden. Ia bahkan mengenang pengalamannya menyaksikan Gus Dur tertidur saat menjadi narasumber di sebuah acara, lengkap dengan dengkuran yang terdengar jelas. Ini adalah potret kejujuran dan ketidakterbebanan Gus Dur dalam menjalani peran publiknya.

Zulkifli menekankan bahwa Islam sejatinya memberi warna melalui nilai dan etika, bukan sekadar simbol. Simbol Islam tanpa isi, menurutnya, justru berpotensi kehilangan makna. Menjawab salah satu pertanyaan peserta, ia menyebut bahwa kekuatan Islam di Indonesia terletak pada Islam kultural. Islam jenis ini hidup dalam keseharian masyarakat, dijaga oleh kiai-kiai kampung yang lemah lembut, melayani umat dengan ketulusan, dan sering kali disampaikan dengan humor khas.

Ungkapan “Gitu aja kok repot” pun dibahas secara mendalam. Menurut Zulkifli, kalimat ini pernah dianalisis serius oleh banyak penulis surat kabar. Ungkapan tersebut mencerminkan sikap pasrah dan keyakinan bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan. Gus Dur, kata Zulkifli, memiliki kemampuan luar biasa untuk membahasakan agama melalui humor. “Semakin dalam seseorang membaca khazanah klasik, semakin besar pula humornya. Dalam tradisi klasik itu sendiri, humor sangat kaya,” jelasnya.

Diskusi semakin hidup ketika salah satu peserta dari komunitas Baha’i membagikan pengalamannya. Ia menyampaikan sebuah candaan yang beredar di kalangan Baha’i: bahwa Gus Dur seolah-olah “diutus Tuhan menjadi presiden hanya untuk mencabut larangan terhadap Baha’i, lalu setelah itu dilengserkan.”

Peserta tersebut juga menceritakan pengalamannya berziarah ke makam Gus Dur di Jombang setelah mendengar kabar wafatnya sang tokoh. Menurutnya, Gus Dur tidak sekadar mempraktikkan toleransi, tetapi telah melampaui toleransi itu sendiri.

“Gus Dur menganggap siapa pun sebagai keluarganya. Dan itu bukan kepura-puraan,” ujar Sandy, peserta dari Baha’i. Ia menambahkan bahwa semasa hidupnya, Gus Dur kerap menghadiri kegiatan rutin komunitas Baha’i setiap tahun.

“Gus Dur adalah satu-satunya Muslim yang Baha’i,” pungkasnya, menutup diskusi dengan canda tawa.

Penggerak Komunitas GUSDURian Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *