Tulisan ini merupakan sebuah refleksi saya pribadi terhadap kegiatan Haul Gus Dur ke XVI di Gereja Katolik Santa Maria Assumpta, Gamping, Sleman Yogyakarta.
Senin, 09 Februari 2026 menjadi momen pertama saya mendapatkan kesempatan menjadi salah satu anak muda yang memimpin doa lintas iman mewakili agama Kristen Protestan diacara Haul Gus Dur ke XVI. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebagai seorang anak laki-laki yang berasal dari daerah Poso, Sulawesi Tengah yang pernah mengalami peristiwa konflik yang dibumbui narasi agama dan yang kemudian diwariskan cerita-cerita konflik dari keluarga, pada acara Haul Gus Dur ke XVI berdiri di depan banyak orang yang berbeda iman, untuk memimpin doa dengan rasa aman.
Sedikit kilas balik, awal perkenalan saya tentang sosok Gus Dur dimulai sejak saya menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan juga melalui keluarga saya. Lewat dunia pendidikan saya mengenal Gus Dur hanya sebagai salah satu presiden yang pernah menjabat di Indonesia tetapi dari orangtua, saya mengenal sosok Gus Dur sebagai seorang pejuang, karena orangtua saya selalu menceritakan bahwa Gus Dur adalah seorang presiden yang membela orang-orang Tionghoa.
Singkat cerita dalam perjalanan dikemudian hari ketika saya merantau ke Yogyakarta saya bertemu dengan Komunitas Gusdurian Jogja sekitar tahun 2023 dan kemudian ditahun yang sama saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program Youth Camp dikota Makassar yang diselenggarakan oleh Jaringan Gusdurian Nasional.
Malam perayaan Haul Gus Dur ke XVI sangat berkesan bagi saya, meskipun saya sedikit gugup ketika tampil didepan banyak orang dari berbagai kalangan maupun identitas masyarakat yang hadir pada malam itu terutama dihadiri juga oleh keluarga Gus Dur (Mba Inayah). Walaupun saya gugup namun disatu sisi saya juga benar-benar terharu dimoment Haul Gus Dur ke XVI, bagaimana tidak, seorang sosok Gus Dur yang telah meninggal dunia hampir enam belas tahun secara jasmani, namun seakan-akan masih hidup dan terus hadir pada hari ini dan mungkin akan tetap abadi.
Sebagaimana pengantar awal dari tulisan ini, ada tiga hal penting yang ingin saya refleksikan dari Acara Haul Gus Dur ke XVI tahun ini. Pertama, saya merasakan bahwa Haul Gus Dur telah menjadi sebuah ruang perjumpaan. Saya yakin siapapun yang mengikuti acara Haul Gus Dur ke XVI di Gereja Katolik Santa Maria Assumpta, Gamping, akan setuju bahwa perayaan Haul tersebut merupakan sebuah ruang perjumpaan dengan berbagai macam perbedaan. Perayaan Haul Gus Dur menghadirkan seniman, komika, tokoh lintas iman, kelompok disabilitas, perbedaan generasi, profesi bahkan agama.
Saat perayaan Haul, semuanya terasa melebur menjadi satu, itulah yang menurut saya disebut ruang perjumpaan, bahwa setiap orang menyadari bahwa diri mereka memang berbeda namun memiliki nilai yang setara sebagai manusia. Ruang perjumpaan diacara Haul Gus Dur juga membantu untuk menghilangkan prasangka dan rasa curiga karena perbedaan, alih-alih menambah perasaan curiga, ruang perjumpaan yang terjadi tersebut justru membuat kita memahami perbedaan.
Kedua, Saya merefleksikan bahwa acara Haul Gus Dur ke XVI juga menjadi sebuah tindakan Collective Care. Collective Care sendiri merupakan tindakan sebuah komunitas untuk saling menjaga kesejahteraan satu sama lain, memperkuat solidaritas, dan berbagi beban. Tahun ini acara Haul Gus Dur ke XVI mengangkat tema besar “Katanya Demokrasi”, sebuah tema yang saya yakin berangkat dari keresahan bersama terhadap situasi Indonesia saat ini. Melalui tema besar tersebut yang diperbincangkan disesi talkshow bersama Mba Inayah yang menyoroti berbagai kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia saat ini, sebenarnya semua itu berangkat dari keresahan bersama.
Saya merasakan bahwa acara Haul Gus Dur telah menjadi tindakan Collective Care untuk saling berbagi beban dan memperkuat solidaritas satu sama lain serta membangun kesadaran bahwa bukan hanya diri kita sendiri yang merasakan dampak dari kebijakan pemerintah saat ini, tetapi banyak orang juga yang turut merasakannya sehingga kita perlu memperkuat komunitas.
Ketiga, bagi saya pribadi, Gus Dur adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya. Mungkin refleksi saya yang ketiga ini cukup berlebihan, tetapi memang sengaja berlebihan karena fakta telah membuktikan hal itu. Saat acara Haul Gus Dur ke XVI berlangsung saya sampai berfikir, bagaimana mungkin seorang Gus Dur yang sudah enam belas tahun wafat tetapi pengaruh dan perjuangannya sampai pada hari ini tetap terasa?
Saya menjadi teringat sebuah kata-kata bijak bahwa harta yang ditinggalkan oleh pemimpin yang sesungguhnya bukanlah kekayaan material, jabatan, atau popularitas, melainkan warisan nilai. Enam belas tahun sudah Gus Dur meninggal dunia tetapi warisan pemikiran, nilai-nilai kemanusiaan, dan konsistensi beliau dalam membela hak asasi manusia terus relevan dan dirasakan manfaatnya oleh berbagai lapisan masyarakat hingga saat ini, sehingga bagi saya belum pernah ada presiden Indonesia selain Gus Dur yang layak disebut sebagai pemimpin yang sesungguhnya.
Sebenarnya masih cukup banyak hal yang ingin saya refleksikan dari acara Haul Gusdur ke XVI, tetapi bagi saya yang sangat penting adalah setiap orang yang membaca refleksi sedeharna ini bisa meneladani dan terus melanjutkan perjuangan Gus Dur untuk perdamaian, keadilan dan kemanusiaan khususnya ditengah situasi bangsa Indonesia saat ini. Akhir kata “Gus Dur sudah meneladankan, saatnya kita melanjutkan.”









