Salah satu nilai dalam Agama Konghucu yang dipegang teguh ialah Xiao (Bakti). Dalam bahasa Tionghoa, bakti dikenal sebagai xiao (孝), yang berarti kesalehan anak kepada orang tua dan leluhur. Namun, konsep ini tidak berhenti pada relasi keluarga saja ia berkembang menjadi prinsip moral yang mengatur seluruh tatanan sosial.
Dalam praktiknya umat Konghucu di Indonesia memiliki sembahyang yang bertujuan untuk mengenang dan menghormati para leluhur mereka. Sembahyang itu seperti malam tahun baru Imlek, Qing Ming, Jing He Ping dan setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan Imlek. Praktik ini bukan saja menekankan rasa hormat kepada orang tua namun juga menunjukkan adanya kesadaran akan menjaga generasi yang turun menurun supaya orang tionghoa mengenal dari mana mereka berasal.
Saya sebagai seorang Kristiani yang memiliki keturunan Tionghoa peranakan dari ibu saya, pun diajarkan hal yang sama dalam keluarga besar saya. Ajarannya sama yakni sebagai generasi muda untuk tidak melupakan asal usulnya atau Kacang yang lupa pada kulitnya. Sebisa mungkin saya mengenal leluhur baik dari Ayah dan ibu walaupun mereka telah tiada.
Dalam Kitab Lun Yu III: 12, Nabi Kongzi bersabda bahwa “sembahyang pada leluhur, hayatilah akan kehadirannya”. Bersembahyang pada leluhur dengan memberikan sesajian bukan berarti mendoakan atau memberikan penyembahan kepada leluhur yang sudah meninggal, pandangan ini yang seringkali disalah artikan oleh orang diluar Khonghucu dan Tionghoa. Justru dengan bersembahyang dengan leluhur kita melakukan komunikasi – hal ini bukan berarti mistis, tetapi layaknya seorang anak bercerita pada orang tua.
Goo Fee Mong, LDS pernah menyampaikan ketika seorang anak atau cucu bersembahyang didepan meja abu leluhurnya itu juga berarti komunikasi dan membangun sebuah ikatan batin akan Kongco/makco mereka.
Pada kesempatan ini, saya mengikuti sembahyang Qing Ming yang diadakan di Rumah Duka Thiong Ting Solo oleh Majelis Agama Khonghucu (Makin) Solo. Sembahyang dipimpin oleh Ws. Adjie Chandra sebagai Rohaniwan Khonghucu di Makin Solo yang menaikan doa kepada Tian dan Kongco Fu De Zheng Shen di kelenteng Thiong Ting. Sembahyang ini juga mengingatkan agar manusia tidak melupakan asal usulnya / leluhurnya, adanya yang sekarang karena adanya yang dahulu.
Seperti Nabi Kongzi bersabda “Saat orangtua masih hidup layanilah didalam Li (Kesusilaan), ketika meninggal dunia berkabunglah di dalam kesusilaan dan kenanglah, sembahyanglah selalu di dalam kesusilaan”.
Sembahyang Qing Ming yang pernah ditetapkan sebagai libur nasional oleh Presiden Soekarno namun dihapuskan pada masa Orde Baru. Hingga kini kembali dapat dirayakan berkat kebijakan dari Presiden Gus Dur membawa kembali kepada ingatan pada perjuangan Umat Khonghucu agar bisa bersembahyang secara bebas dan diakui setara oleh Negara.
Qing Ming merupakan sarana bagi para keturunan Tionghoa peranakan untuk dapat mengenang darimana mereka berasal dan juga mengajarkan kepada anak cucu mereka supaya tidak melupakan para pendahulu mereka.
Salah satu anak muda Khonghucu yang saya temui juga menceritakan bahwa keluarganya sudah tidak semuanya memeluk agama Khonghucu tetapi ketika sembahyang Qing Ming mereka tetap mendoakan dan berkunjung ke makam. Ia meyakini bahwa itu merupakan bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah tiada yang sebagai sarana pengingat akan perjuangan orang tua terhadap generasi selanjutnya.
Bakti terhadap orang tua merupakan kewajiban bagi setiap kita para anak yang telah dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua. Kita patut belajar dari ajaran Khonghucu yang menaruh nilai bakti terhadap orang tua dan leluhur sebagai nilai penting dalam ajaran mereka. Hingga sekarang saya tidak menemukan bahwa ada Panti Jompo untuk orang tua Khonghucu, tetapi sudah menjadi kewajiban anak-anak mereka untuk dapat merawat orang tua.
Orang tua bisa membesarkan 4 orang anak dan membuat mereka menjadi sukses, tapi apakah 4 anak bisa merawat orang tua disaat masa tua mereka ? Itulah yang perlu kita renungkan kembali sebagai anak muda untuk dapat menghormati orang tua dan leluhur kita.









