Nama Nyai Hj Sholichah Wahid Hasyim lebih sering dikenang sebagai istri KH Abdul Wahid Hasyim dan ibu Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Padahal, di balik itu, ia juga memiliki jejak panjang sebagai penggerak organisasi perempuan, pendidik, dan tokoh politik perempuan Nahdlatul Ulama.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #13 yang diselenggarakan Manaqib Ulama Perempuan, Kamis (14/5/2026). Putri Gus Dur, Inaya Wahid, hadir sebagai penutur dalam diskusi yang dipandu Heru Prasetia tersebut.
Bukan Sekadar Pendamping
Dalam paparannya, Inaya mengisahkan perjalanan hidup Nyai Sholichah sejak masa kecil hingga kiprahnya di ruang sosial dan politik nasional. Menurut dia, pembacaan sejarah selama ini lebih banyak menempatkan Nyai Sholichah sebagai pelengkap tokoh laki-laki di sekitarnya.
“Beliau bukan sekadar istri Menteri Agama atau putri kiai besar. Ia berdiri sebagai pribadi dengan perjuangannya sendiri,” kata Inaya.
Nyai Sholichah lahir di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 11 Oktober 1922 dengan nama Munawwaroh. Ia merupakan putri KH Bisri Syansuri dan Nyai Nur Khadijah dari lingkungan keluarga pesantren besar di Jombang. Di lingkungan keluarga, ia dikenal dengan panggilan Neng Waroh.
Pada usia 17 tahun, ia menikah dengan KH Abdul Wahid Hasyim dan tinggal di Pesantren Tebuireng. Masa awal rumah tangganya berlangsung di tengah situasi pendudukan Jepang dan dinamika perjuangan kemerdekaan.
Ketika aktivitas Tebuireng dihentikan pemerintah Jepang karena dianggap menjadi pusat pergerakan, keluarga Wahid Hasyim berpindah ke Denanyar. Dalam masa itu, Nyai Sholichah tetap mengajar santri putri dan terlibat dalam organisasi perempuan.
Selepas Indonesia merdeka, aktivitas Nyai Sholichah tidak berhenti di lingkungan keluarga dan pesantren. Ia aktif di Muslimat NU, Kongres Wanita Indonesia (Kowani), hingga lembaga-lembaga sosial. Dalam bidang politik, ia pernah menjadi anggota DPRD DKI Jakarta pada 1955, anggota DPR-GR/MPRS, serta anggota DPR RI dari Partai NU dan PPP.
Menurut Inaya, salah satu fase penting dalam kehidupan Nyai Sholichah terjadi setelah KH Wahid Hasyim meninggal akibat kecelakaan pada 1953. Saat itu, usia Nyai Sholichah sekitar 30 tahun dan harus membesarkan enam anak.
“Pada masa itu stigma terhadap perempuan yang menjadi janda sangat kuat. Tetapi beliau tetap bertahan dan membesarkan anak-anaknya,” ujar Inaya.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Nyai Sholichah disebut sempat menjual barang-barang pribadi, berdagang beras, hingga berjualan material bangunan.

Nama yang Kerap Hilang
Dalam diskusi itu, Inaya juga menyoroti minimnya dokumentasi mengenai tokoh perempuan pesantren. Menurut dia, banyak perempuan yang terlibat dalam sejarah bangsa, tetapi jejaknya tidak tercatat secara utuh.
Ia mencontohkan pengalaman saat menelusuri arsip mengenai Nyai Sholichah untuk penulisan monolog beberapa tahun lalu. Dalam sejumlah dokumentasi pertemuan penting nasional, nama Nyai Sholichah justru tidak ditulis secara tepat.
“Dokumen di situ adalah dokumen penting, foto-foto pertemuan diplomatik dan pertemuan penting lainnya. Yang mengagetkan, ada foto Bu Nyai Solihah, tetapi di caption tertulis ‘Ibu Solihin’. Kok ya jadi Solihin,” kata Inaya.
Menurut dia, hal semacam itu memperlihatkan bagaimana identitas perempuan kerap dilebur ke dalam nama atau identitas laki-laki di sekitarnya.
“Nama beliau sering hilang atau diganti menjadi ‘Nyonya Abdul Wahid Hasyim’. Padahal beliau punya identitas dan peran sendiri,” ujarnya.
Selain aktif di organisasi dan politik, Nyai Sholichah juga dikenal menaruh perhatian besar pada pendidikan perempuan. Inaya menyebut pesan mengenai pentingnya perempuan belajar dan mengaji menjadi salah satu gagasan yang terus dipegang Nyai Sholichah sepanjang hidupnya.
“Pesan beliau kuat soal thalabul ilmi, pentingnya perempuan belajar dan mengaji,” kata Inaya. (SDH)
______
Artikel ini pernah dimuat di kupi.or.id