Dalam dunia gerakan, saya dulu mengira orang-orang berkumpul hanya karena digerakkan oleh idealisme yang melangit.
Kita terbiasa melihat pernyataan sikap yang gagah, diskusi filsafat yang bikin dahi mengernyit, rapat hari ini untuk menentukan rapat apa besok, atau rencana aksi massa yang rapi, yang pada akhirnya tetap dibubarkan aparat.
Dari kejauhan semuanya terlihat heroik. Dari dekat, lebih mirip ruang gawat darurat.
Beberapa tahun lalu saya adalah salah satu pasiennya.
Setelah toko buku Mabook Outlet yang saya bangun bertahun-tahun bangkrut, dan festival literasi Tamasya Buku di Temanggung serta Salatiga berakhir sukses secara massa tetapi gagal secara finansial, saya mendamparkan diri di Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian di Jogja.
Mas Agri waktu itu menyebut saya refugee. Entah dia serius atau bergurau, saya tidak bisa membantah.
Waktu itu, rumah Joglo Seknas yang megah belum berdiri. Halaman belakangnya masih dipenuhi semak dan bayam liar. Saya memetik bayam itu untuk dicampur ke dalam mi instan. Sering saya berharap ada makanan berkah sisa Mas Trustplus.
Buat sebagian orang, itu disebut slow living. Buat saya, itu strategi still living.
Ternyata, kebangkrutan saja belum cukup. Saya ditinggal menikah. Kalau kebangkrutan menghantam dompet, peristiwa itu menghantam bagian tubuh yang tidak diajarkan cara memperbaikinya di sekolah.
Saya menangis berhari-hari di berbagai sudut Seknas. Suatu malam Mas Naufal datang membawa segelas kopi dan segelas air es. Tanpa penghakiman, tidak ada khotbah “semua akan indah pada waktunya”.
Ia juga tidak merasa perlu menjelaskan bahwa tindakannya dilakukan demi kepentingan kemanusiaan yang lebih besar, sebagaimana beberapa orang menjelaskan urgensinya sponsor Didit Hediprasetyo Foundation buat ARTJOG.
Mas Naufal cuma duduk.
Dan malam itu saya belajar satu hal penting tentang Komunitas GUSDURian Jogja: di tempat orang-orang sibuk memikirkan cara menyelamatkan dunia, ada ruang untuk menyelamatkan seorang laki-laki bangkrut cum patah hati.
Dari situlah lahir berbagai lelucon tentang GUSDURian Jogja sebagai perkumpulan laki-laki dengan mental kerupuk. Ada buku bunga rampainya kalau saya tidak keliru.
Semakin dipikir-pikir, seloroh itu tidak sepenuhnya salah. Bahkan memiliki legitimasi historis.
Gus Dur sendiri ternyata pernah mengalami perkara yang sama.
Sebelum menjadi Presiden Republik Indonesia, sebelum menjadi Guru Bangsa, sebelum menjadi nama jalan dan diusulkan jadi nama bandara, sebelum Jaringan GUSDURian ada, beliau lebih dulu menjadi laki-laki yang jatuh cinta.
Dan seperti banyak laki-laki lain, beliau juga pernah dibuat cemas oleh seseorang yang tidak membalas surat tepat waktu.
Di Kairo, Gus Dur muda berkali-kali merangkai syair Arab pakai tata bahasa Balaghah tingkat dewa untuk dikirim kepada Nyai Sinta.
Kalau diterjemahkan ke bahasa sekarang, kira-kira setelah surat-suratnya mencapai versi centang dua tapi cuma dibaca tidak dibalas, frustrasi Gus Dur muda akhirnya naik ke level yang cukup tinggi untuk mengancam akan menjadi musafir seumur hidup dan tidak pulang ke Indonesia.
Jadi kalau hari ini ada penggerak GUSDURian yang menangis karena urusan asmara, sebenarnya ia sedang meneruskan tradisi intelektual yang cukup tua.
Hari ini, penghujung Juni 2026, saya kembali menjadi refugee.
Hanya saja lokasinya berbeda. Bukan lagi di Yogyakarta dengan romantisme mahasiswa idealis yang sedang mencari identitas diri.
Untuk waktu yang belum ditentukan, saya berada di Ketapang, barat daya Kalimantan, tempat saya mendokumentasikan kerja-kerja konservasi. Sesekali mengambil job sebagai “antek-antek asing” karena sering jadi interpreter.
Kemarin seorang dokter hewan volunteer dari Madrid melihat kaus saya. Kaus itu sudah bolong di beberapa bagian.
Dengan ketulusan yang hanya dimiliki orang yang belum lama mengenal saya, ia bilang dengan suara yang kurang jelas, “Mahéng, if you need clothes, I’ve—.” Saya ketawa.
Saya ingat kalau sebagian besar kaus saya dulu diperoleh dari menukar poin tulisan di gusdurian.net. Ternyata karier menulis memang bisa menghasilkan pakaian. Meski tidak selalu menghasilkan uang.
Berada di Ketapang membuat pertempuran psikis terasa lebih berat. Di sini tidak ada Mas Naufal. Tidak ada Mas Agri. Tidak ada rumah joglo Seknas.
Yang ada hanya learning center di tengah hutan, makaka lapar, pekerjaan yang mendadak buntu, debt collector salah sambung yang lebih rela menghubungi saya daripada beberapa teman dekatnya, di saat saya kehilangan seseorang tepat setelah saya mencoba peruntungan asmara sekali lagi.
Saya jadi mikir realitas sosial memiliki selera humor yang jauh lebih buruk daripada Board of Peace buatan Trump.
Ketika saya mulai merasa cukup kuat, ia menambah satu ujian lagi. Seolah sedang memastikan apakah saya benar-benar sudah belajar sesuatu.
Mungkin itu sebabnya gerakan seperti GUSDURian selalu membutuhkan sekretariat.
Sebab idealisme bisa hidup dari teori.
Tapi laki-laki patah hati tetap butuh tempat mengungsi. (SDH)