YOGYAKARTA – Program kolaborasi Jogja Art + Book Festival (JABFEST) bersama Jaringan GUSDURian sukses menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Merawat Jagat: Perempuan dan Keadilan Ekologi” di The Ratan, Bantul. Acara yang digelar pada Sabtu, 10 Oktober 2026 ini mempertemukan perspektif teologi progresif, riset ekologi agraria, dan gerakan sosial untuk merespons krisis iklim yang menempatkan kelompok rentan sebagai korban utama.
Diskusi yang dipandu oleh Sarjoko S. dari GUSDURian ini menghadirkan dua pembicara utama: Sekretaris Alimat sekaligus Anggota Steering Committee Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Alimatul Qibtiyah, serta peneliti ekologi UIN Walisongo Semarang, Zaimatus Sa’diyah. Acara ini dirancang untuk merumuskan ulang pemahaman keagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan keadilan sosial.
Dalam pemaparannya, Alimatul Qibtiyah menekankan bahwa KUPI hadir sebagai gerakan kultural progresif yang senantiasa merangkul keyakinan keagamaan umat untuk kemudian ditafsir ulang secara inklusif. Pendekatan ini bertujuan meruntuhkan bangunan tafsir patriarkis yang kerap melegitimasi eksploitasi alam.
“Jadi kalau liberal feminis itu untuk melakukan perubahan itu kayak melawan gitu ya. Kalau kita bicara itu kayak melakukan perlawanan, tetapi kalau KUPI, ketika kita bicara KUPI, mengidentifikasi biven ulama gitu ya, itu adalah kita embrace, kita merangkul keyakinan itu, tetapi kita mencoba untuk menafsir ulang, menginterpretasi ulang,” jelas Alimatul.
Ia menambahkan bahwa gerakan transformatif tersebut dijalankan secara konsisten melalui Trilogi KUPI, yang mencakup prinsip Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki, agar kesadaran ekologis dapat terinternalisasi secara damai di tengah masyarakat.
“Keburukan itu tumbuh subur bukan karena banyaknya orang buruk, tapi keburukan itu akan tumbuh subur karena banyaknya orang baik yang mendiamkannya. Saya yakin seratus persen yang ada di sini semuanya orang baik, sehingga dan saya yakin tidak membiarkan keburukan ekologi itu terjadi,” tegas Alimatul mengingatkan pentingnya keberanian moral publik.
Sementara itu, Zaimatus Sa’diyah membedah akar krisis ekologi melalui temuan disertasinya yang menyoroti kegagalan relasi antroposentris antara manusia dan alam. Berdasarkan pembacaan teologis yang mendalam, ia menegaskan bahwa Islam sebenarnya memiliki khazanah spiritual yang sangat kaya untuk memposisikan bumi selayaknya rahim kosmik penopang kehidupan.
“Ada satu ayat dalam Al-Qur’an di surat Thaha ayat 55, Allah berfirman, ‘Minha khalaqnakum wa fiha nu’idukum wa minha nukhrijukum tarotan ukhra.’ Allah berfirman bahwa dari bumi Kami menciptakan kalian dan kepada bumi pula Kami mengembalikan kalian, dan dari bumi pula Kami akan membangkitkan kalian,” papar Zaimatus.
Lebih lanjut, Zaimatus mengingatkan bahwa pemulihan krisis lingkungan harus dimulai dari kesadaran individu yang paling mendasar, termasuk membenahi cara pandang manusia perkotaan terhadap ketersediaan sumber daya alam di sekitarnya.
“Kita ini bernafas membutuhkan oksigen, jangan sampai untuk oksigen saja kita masih numpang ngutang pada pohon yang dirawat oleh orang lain, oleh tetangga kita,” ujar Zaimatus.
JABFEST dan Jaringan GUSDURian mengajak seluruh elemen masyarakat, akademisi, dan pegiat lingkungan untuk menggalakkan revolusi sunyi di akar rumput, mulai dari mengontrol pola konsumsi harian, merawat ruang hidup terdekat, hingga menumbuhkan keberanian moral demi mewujudkan keadilan ekologis dan kelestarian bumi bagi generasi mendatang. (SDH)