Ajaran Falsafah Serat Wedatama: Sebuah Upaya Merawat Kearifan Tradisi Kita

Ngelmu iku kelakoni kanthi laku,

Lekase lawan kas

Tegese kas nyantosani….

Ilmu atau kebijaksanaan itu akan terwujud apabila dilakukan. Tanpa dilakukan, dia hanyalah teori yang kosong belaka. Zaman dulu banyak karya sastra peninggalan yang lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Sumana Santaka dan Krisnayana karya Empu Triguna, Smaradhana karya Empu Darmaja, Baratayudha epos Mahabarata karya Empu Sedah dan Empu Panuluh, hingga kitab Pararaton dan Negarakertagama di zaman Majapahit. 

Serat Wedatama termasuk karya sastra seangkatan dengan R. Ng. Ronggowarsito yang ditulis tangan dengan huruf Jawa berbentuk tembang atau puisi. Menggunakan kata-kata campuran bahasa Jawa dan Kawi. Selain sebagai karya sastra, Serat Wedatama juga merupakan sebuah karya etika yang sarat ilmu filsafat di dalamnya.

Ketuhanan yang Maha Esa

Sejak zaman dulu, konsep ketuhanan sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Tak heran banyak istilah serapan yang menggunakan bahasa Jawa Kuno untuk menjelaskan metode ibadah zaman modern. Agama sebagai sarana penyempurna dari penghambaan masyarakat Jawa Kuno kepada Tuhannya.

Dalam Serat Wedatama, meskipun diksi yang digunakan tidak tegas menggunakan kata Tuhan atau Allah Swt, tapi maksud dari bait-bait dalam Serat Wedatama menyatakan demikian. Hal tersebut terjadi karena Serat Wedatama menyesuaikan guru lagu, guru wilangan, cengkok, dan iketan dalam tembangnya. 

Seperti kata Hyang Sukma, Hyang Widhi, dan lain sebagainya. Bahkan dalam tembang Gambuh seluruhnya merupakan petunjuk bagaimana seseorang bisa mendekat dan menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa. Untuk itu, masyarakat waktu itu mengajarkan Serat Wedatama kepada anak-anaknya sejak dini.

Ajaran Kebijaksanaan

Nggugu kersaning priyangga, nora nganggo pepareh lamun angling, lamuh ingaran balilu, uger guru aleman, nanging janma ingkang wus waspadeng semu, sinamuning samudana, sesadon ingadu manis

Salah satu bait yang merupakan sebuah pelajaran untuk selalu bertenggang rasa di dalam kehidupan sosial sehari-hari. Utamanya untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin. Serat Wedatama juga mengajarkan sikap untuk selalu menghormati sesama manusia dan mengampuni segala kesalahan orang lain. Menghindari dari tindak nafsu angkara murka untuk mendekati budi pekerti yang baik.

Ajaran kebijaksanaan dalam Serat Wedatama banyak dituangkan dalam bait-bait tembang secara tersirat. Menegaskan bahwa manusia di dunia harus hidup rukun dan saling tolong menolong untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungannya dengan sesama manusia, alam, dan Tuhannya.

Ajaran Berjiwa Ksatria

Meskipun banyak bait yang mengarahkan untuk selalu mendekat kepada Tuhan, di sisi lain, Serat Wedatama mengajarkan sifat dan sikap patriotisme dan jiwa ksatria dalam diri manusia. Ajaran ksatria dalam Serat Wedatama mengutamakan kepada kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Meskipun menderita seseorang yang mempunyai jiwa ksatria tidak akan terluka hatinya karena merasa telah berkorban demi orang lain.

Lebih jauh lagi, seorang yang mendalami Serat Wedatama akan mementingkan kehidupan anak cucunya kelak dibandingkan hasrat kepentingannya saat ini. Bila perlu menjadikan dagu sebagai penyangga dan dada sebagai kakinya demi kebahagiaan keturunannya.

Menghargai Pendirian Orang Lain

Serat Wedatama mensifati bahwa kehidupan ini adalah asnafun (beraneka ragam). Setiap orang mempunyai cara pandang masing-masing dalam menjalankan keyakinan dan kehidupannya. Dalam baitnya ditegaskan bahwa pengarang menolak tindakan atau anggapan yang menilai orang lain selalu salah dan kita adalah yang paling benar. Demikian yang dianggap tidak menghormati pendirian orang lain. 

Dengan menghargai prinsip orang lain, seseorang akan semakin diberkahi pengetahuan dan sifat welas asih. Tidak gampang menyalahkan orang lain dan merasa rendah hati untuk senantiasa mencari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam hidup. Perbedaan adalah anugerah tanpa harus berniat memecah belah.

Berjuang untuk Hidup

Selain itu, Serat Wedatama juga mengajarkan sikap hidup untuk selalu mengalah. Tidak berarti kalah, mengalah berarti tindakan untuk menyenangkan orang lain, mengingat kepada Allah, dan di dalamnya adalah pesan-pesan untuk senantiasa berjuang bertahan hidup, bekerja keras, dan melakukan kebaikan kepada sesama.

Bonggan kang tan merlokena mungguh ugering ngaurip, uripe lan tri prakara : Wirya, Arta tri Winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong, jati aking, temah papa papariman ngulandara

Salah satu contoh bait yang menjelaskan tentang sikap seseorang untuk berusaha mengejar cita-cita dalam hidupnya. Bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pegangan hidup dalam Serat Wedatama memuat unsur: Kedudukan, Modal, dan Kepandaian. Tanpa ketiganya, seseorang akan susah untuk dihormati dan dihargai di tengah masyarakat.

Cara penyebaran Serat Wedatama melalui media tulis dan lisan. Pengaruh Serat Wedatama cukup menyebar di masyarakat Jawa ketika itu. Bukan hanya di kalangan Keraton Mangukunegara, namun juga masuk dalam lingkup istana Kasunanan dan Kasultanan. Karena kebanyakan Serat Wedatama diajarkan secara lisan dibandingkan tulisan, maka tak heran banyak terjadi perbedaan kata ataupun arti yang diterima masyarakat.

Sekarang banyak warga asing belajar untuk mendalami Serat Wedatama di Surakarta sebagai pedoman hidupnya. Hal ini menunjukan betapa masyhur dan sarat nilai-nilai filsafat kehidupan yang terkandung di dalamnya. Kita yang memiliki, kita yang mewarisi, apakah kita biarkan lenyap begitu saja ajaran-ajaran falsafah dalam Serat Wedatama?

Bagikan tulisan ini: