Author: Muhammad Fiam Setyawan

HomeMuhammad Fiam Setyawan
Muhammad Fiam Setyawan

Muhammad Fiam Setyawan

Penggerak Komunitas GUSDURian Surakarta, Jawa Tengah.

Belakangan ini, komedi justru menjadi perkara serius. Panggung komedi berubah menjadi ruang yang rawan dilaporkan, dan tawa pelan-pelan digantikan oleh ketersinggungan kolektif. Ironisnya, semua ini terjadi di ruang publik yang mengaku demokratis. Komedi, yang seharusnya menjadi medium kritik paling ringan, kini diperlakukan seolah ancaman yang harus dibungkam. Alih-alih menjadi katup pelepas ketegangan sosial, humor justru …

Enam belas tahun telah berlalu sejak Abdurrahman Wahid—Gus Dur—meninggalkan dunia. Namun namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi dalam ingatan kolektif bangsa: dalam kutipan yang terus beredar, dalam perbincangan lintas generasi, dan dalam praktik nilai yang berusaha dirawat oleh mereka yang percaya bahwa politik seharusnya berangkat dari kemanusiaan. …

Maaf adalah salah satu kata dasar dalam etika sosial manusia. Ia termasuk dalam tiga ungkapan dasar yang lazim diajarkan sejak dini—tolong, terima kasih, dan maaf—sebagai fondasi relasi sosial yang sehat. Namun, ketika memasuki usia dewasa dan memiliki kuasa, justru kata ini sering kali sulit diucapkan. Ego, gengsi, dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan menjadikan permintaan maaf dipandang …

Dalam sejarah politik Indonesia, sedikit sekali tokoh yang meninggalkan jejak moral setegas Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia tidak hanya dikenal sebagai presiden, pemimpin NU, atau cendekiawan Muslim; lebih jauh dari itu, Gus Dur adalah representasi langka dari etika politik yang tidak lekang ditelan rezim, kekuasaan, atau retorika. Politik, di tangan Gus Dur, berubah dari …

Kegaduhan politik dan krisis moral keteladanan akhir-akhir ini menjadi makanan yang paling banyak dikonsumsi publik. Dengan itu, memori tentang Gus Dur hadir memberi kesejukan yang jarang kita temui. Setiap kali ada kebijakan yang merugikan rakyat kecil, setiap kali aparat bertindak represif, dan setiap kali hukum kehilangan keberanian moral, nama Gus Dur selalu disebut—bukan hanya romantisme …