Gus Dur dan Ekologi: Melihat Alam sebagai Kawan

Meskipun tidak banyak diketahui publik, namun bisa dikatakan Gus Dur adalah sosok yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan. Salah satunya tercermin ketika ia menulis kata pengantar bagi buku berjudul Pembangunan PLTN: Demi Kemajuan Peradaban? Sebuah Bunga Rampai (1996) yang diterbitkan oleh INFID, WALHI, dan Yayasan Obor Indonesia. Dalam kata pengantar tersebut, Gus Dur mengemukakan argumen “khasnya” tentang environmentalisme yang menurutnya merupakan problem kesadaran manusia modern yang sedikit banyak dipengaruhi oleh paradigma saintisme.

Sebagai solusi melawan dominasi paradigma saintisme tersebut, maka Gus Dur mewacanakan ide demokratisasi dan etikalisasi sains yang berpros pada ide decision making yang bercorak demokratik (dengan pelibatan masyarakat luas dalam memformulasikan kebijakan terkait sains dan teknologi yang berdampak luas pada alam dan masyarakat) berbasis pada pijakan morality. Dengan kata lain bagi Gus Dur paradigma saintisme mesti diganti dengan rancang bangun sains yang tidak hanya bertumpu pada ide curiosity (keingintahuan) tetapi juga wisdom (kebijaksanaan) agar masa depan lingkungan global dapat terjamin.

Tulisan ini sendiri tidak akan mengelaborasi secara mendalam ide environmentalisme Gus Dur tersebut. Namun yang diinginkan dari tulisan ini ialah upaya menelurusi bagaimana kesadaran ekologis/environmentalis tersebut terbentuk pada diri Gus Dur. Tentu bisa kita katakan bahwa pengalaman Gus Dur dalam berinteraksi dengan para aktivis lingkungan (misal yang tergabung di WALHI) ataupun para intelektual dan aktivis lain yang mengkritisi rencana pembangunan PLTN di Muria sejak tahun 1990-an misalnya, menjadi salah satu sumber inspirasi penting Gus Dur dalam membangun nalar ekologisnya.

Namun tulisan ini secara spesifik ingin mengelaborasi bagaimana pengalaman masa kecil Gus Dur memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk kesadaran ekologis Gus Dur di kemudian hari. Dengan kata lain pengalaman masa kecil inilah yang berkontribusi besar membuat sosok Gus Dur memiliki kepekaan terhadap isu lingkungan sejak berusia dini. Kepekaan inilah yang dalam perkembangannya makin terasah sepanjang perjalanan hidupnya akibat bergumul dengan berbagai tokoh dan peristiwa yang secara kuat mempengaruhi cara pandangnya dalam melihat realitas di sekelilingnya.

Upaya mengaitkan masa kecil Gus Dur dengan kepekaan ekologisnya bukan suatu yang berlebihan. Tulisan ini sepakat dengan pandangan Daisaku Ikeda, sosok pemimpin organisasi Buddha kontemporer di Jepang bernama Soka Gakkai, yang sempat berdialog intens dengan Gus Dur dalam berbagai isu peradaban. Sejalan dengan posisi Ikeda, tulisan ini bercaya bahwa pengalaman masa kecil merupakan satu elemen penting yang mempengaruhi pembangunan jiwa seorang manusia.

Menariknya dalam dialog tersebut, baik Gus Dur maupun Ikeda sama-sama bertukar cerita tentang kehidupan masa kecil mereka yang ditandai dengan intimitas terhadap alam. Dengan kata lain intimitas inilah yang menjadi elemen penting yang mempengaruhi jiwa Gus Dur di kemudian hari, di mana ia tidak hanya dikenal dengan spirit humanismenya -sebagaimana dipahami oleh banyak kalangan secara luas- tetapi juga spirit ekologismenya yang tinggi.

Dialog Gus Dur dan Ikeda tersebut dibukukan secara menarik dalam karya yang berjudul Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian (2010) yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia. Sebelumnya dialog tersebut telah dipublikasikan dalam Majalah USHIO di Jepang secara bersambung sejak tahun 2009 lalu. Pasca pemuatan di majalah USHIO, tulisan tersebut diterbitkan dalam buku dalam bahasa Jepang pada September 2010. Sedangkan edisi Indonesia untuk buku tersebut diterbitkan pada Desember 2010, tidak berselang lama pasca edisi Jepang tersebut dirilis.

Dalam dialog tersebut Ikeda memberikan satu penekanan menarik yang dapat dibergunakan untuk merangkai cerita masa kecil Ikeda itu sendiri dan juga Gus Dur. Menurut Ikeda pertanian adalah kunci pembangunan jiwa. Masyarakat yang tidak mementingkan pertanian akan menjadi masyarakat yang memiliki problem pada kejiwaan mereka. Sedangkan masyarakat yang mementingkan pertanian maka akan terjadi proses pembangunan jiwa secara sehat di mana ditandai dengan munculnya kebijaksanaan dan perasaan kebersamaan (intimacy) dengan alam.

Pernyataan Ikeda tersebut mengandung makna filosofis yang mendalam. Pertanian dapat ditafsirkan sebagai satu mode produksi di mana manusia dan alam memiliki derajat intimacy (keintiman) yang tinggi. Sebagai kontras, dalam tradisi Marxian misalnya -sebagaimana tercermin dalam karya Marx “muda” yang dikenal sebagai Manuskrip Paris (1844)- dijelaskan bahwa dalam konteks masyarakat industrial (bukan lagi pertanian) ditandai salah satunya dengan mode produksi yang melahirkan (keterasingan) antara manusia dan alam.

Perlu dipahami bahwa menurut Marx, alam secara ideal mestinya menjadi semacam cerminan dari diri manusia itu sendiri. Karena melalui pergumulannya dengan alam itulah manusia dapat mengaktualisasikan kemanusiaanya secara hakiki. Sehingga relasi alam dan manusia dibayangkan “akrab” karena alam dalam konteks ini menjadi entitas yang “ramah” terhadap manusia. Manusia mampu menemukan “kedamaian” (atau identitasnya sebagai manusia) dalam alam tersebut.

Namun dalam konteks masyarakat industrial (kapitalistik) manusia tidak lagi mampu berelasi secara intim dengan alam karena relasi alam dan manusia telah dimediasi oleh logika kapitalistik. Logika kapitalistik “merampas” pemaknaan subyektif-intim kita atas alam dan menggantinya dengan makna “arbiter” yang dihasilkan oleh sistem kapitalistik tersebut, yang melihat alam tidak lebih dari komoditas, sehingga kita tidak lagi merasa “dekat” dengan alam.

Kontras dengan kondisi masyarakat industrial yang digambarkan Marx, penjelasan Ikeda tentang masyarakat yang berbasis pada pertanian tersebut mengisyaratkan alam sebagai suatu yang dekat dengan manusia, sehingga manusia dapat mengasah kepekaannya terhadap alam. Lebih jauh, berbeda dengan Marx yang terkesan menjadikan alam semata sebagai “obyek pasif” yang menunggu pemaknaan dari manusia. Ikeda melihat relasi alam dan manusia ini sifatnya “timbal-balik” dan bukan satu arah. Dengan kata lain alam juga mempengaruhi cara pandang kita terhadap realitas dan juga dalam memaknai dirinya sendiri. Maka tidak mengherankan bahwa Ikeda secara tegas menyatakan bahwa melalui alamlah pembinaan kekuatan jiwa dapat dilakukan secara optimal.

Satu hal yang menarik ketika Gus Dur menimpali Ikeda dengan menyatakan bahwa baik pertanian, perikanan, dan kehutanan, atau profesi yang memiliki paralelitas dengannya sama-sama memiliki peran dalam membentuk relasi intim antara manusia dan alam. Gus Dur mengafirmasi pandangan Ikeda dengan menyatakan bahwa karena kebanyakan masyarakat Indonesia berprofesi sebagai petani dan pada saat yang sama mereka dapat hidup dengan menyukuri anugerah alam. Dengan kata lain, mode produksi yang berkembang di Indonesia -di mana Gus Dur juga hidup di dalamnya- cenderung kondusif untuk menumbuhkan kepekaan yang lebih dalam pada diri manusia Indonesia terhadap alam.

Gus Dur sendiri menceritakan pengalaman masa kecilnya yang “akrab” dengan alam. Sebagai contoh ia bercerita tentang kegemarannya berenang seusai sekolah bersama teman-temannya. Dengan kata lain sungai menjadi semacam realitas yang “akrab” dan bukan “alien” bagi dirinya karena menjadi sarana untuk bermain bersama rekan-rekannya. Selain berenang, Gus Dur juga menyatakan bahwa dirinya juga senang bermain di Bukit Tunggurono yang diklaim oleh Gus Dur sebagai tempat para pengeran Majapahit mengintai serangan musuh. Artinya alam (dalam hal ini bukit) juga menjadi realitas yang “akrab” bagi sosok Gus Dur karena ia tidak hanya dapat mengekspresikan “kelegaan” dan “kebebasannya” sebagai seorang anak kecil yang suka bermain melalui bukit tersebut, namun ia juga dapat merasakan jalannya sejarah masa lampau dengan bertandang ke bukit tersebut.

Selain bukit dan sungai, Gus Dur juga menceritakan pengalamannya membonceng lori, kereta kecil untuk mengangkut tebu ke pabrik gula. Meskipun lori adalah teknologi buatan manusia dan bukan suatu yang alamiah namun teknologi lori bukan merupakan suatu yang “asing” tetapi justru “akrab” dengan diri Gus Dur. Buktinya dengan lori tersebut, ia dapat menikmati pemadangan alam di sepanjang perjalanan ketika menumpang lori tersebut. Dalam konteks ini baik lori maupun bentang alam yang dilihat Gus Dur pada hakikatnya adalah suatu kesatuan yang “akrab” dan membentuk jiwanya secara positif.

Sebagaimana Gus Dur, Ikeda juga menceritakan “keakrabannya” dengan alam akibat masa kecilnya yang dihabiskan di teluk Tokyo -yang disebutnya kampung di tengah perkotaan-. Ia menghabiskan masa kecilnya di Teluk Tokyo karena terkait dengan mata pencaharian keluarganya secara turun temurun, yakni budidaya rumput laut. Ikeda menceritakan bagaimana aroma mekarnya bunga dari padang rumput yang berada di pesisir pantai dapat dia rasakan dengan jelas. Begitu pula dengan kilauan cahaya ombak yang hadir dalam “wajah” berwarna emas dan perak sehingga tampak “akrab” bagi jiwa masa kecilnya.

Lebih jauh melalui pergumulannya dengan bentang alam di Teluk Tokyo, Ikeda tidak hanya mampu mengaktualisasikan masa kanak-kanaknya secara indah tetapi juga ia disadarkan akan cara pandang yang lebih “kompleks” dalam melihat realitas dan dirinya sendiri. Ia berkisah bahwa orang tua dan para tetangga yang sama-sama berprofesi sebagai pembudidaya rumput laut mesti melawan udara dingin untuk memanen rumput laut tersebut. Alasannya karena masa panen rumput laut justru terjadi pada saat memasuki musim dingin. Ikeda menceritakan bagaimana para pekerja mencelupkan tangannya pada air yang dingin untuk mengambil rumput laut yang menempel di rangka rakit bambu. Meskipun itu adalah proses yang berat namun mereka -termasuk ibunya- menjalaninya dengan ceria.

Dengan kata lain meskipun alam sering kali terlihat “tidak bersahabat” namun bagi Ikeda ia menyimpulkan bahwa apa yang terjadi itu adalah “persahabatan” dalam bentuk lain di mana alam kini bertindak sebagai “guru” yang mengajari seseorang untuk memiliki kekuatan, kesabaran, dan ketulusan hati untuk mencapai hasil yang gemilang (panen). Dengan kata lain Ikeda mampu “mengabtraksikan” pengalaman masa kecilnya sedemikian rupa sehingga tidak pernah menganggap alam sebagai “musuh.”

Dari penjelasan di atas dapat ditarik satu kesimpulan penting bahwa baik Gus Dur dan Ikeda mengalami fase “keakraban” dengan alam di masa kecilnya. Dalam kasus Ikeda, pengalaman “intim” ini terbentuk berkat mata pencaharian keluarganya sebagai pembudidaya rumput laut. Sementara dalam kasus Gus Dur, ia juga mengalami kehidupan masa kecil Desa Denanyar Jombang yang diakuinya juga didominasi oleh para petani atau buruh tani. Sehingga bisa dikatakan kondisi material yang ada di wilayah tersebut (Teluk Tokyo dan Jombang) menjadikan kepekaan keduanya menjadi lebih terasah dengan memandang alam bukan sebagai semata komoditi atau bahkan sebagai musuh yang mesti “diperangi.”

Di mata kedua pemikir tersebut, alam adalah “teman” sekaligus “guru” sehingga menjadi sesuatu yang tidak masuk akal ketika sang “teman” dan “guru” tersebut justru ingin dirusak sedemikian rupa. Relasi intim dengan alam yang terbangun sejak masa kecil inilah yang dapat dikatakan mempengaruhi pembentukan jiwa, baik pada diri Gus Dur ataupun Ikeda yang sejak dini melihat alam sebagai penanda kemanusiaan. Maka merusak alam sama saja dengan mencederai kemanusiaan itu sendiri.

Dengan kata lain ide kemanusiaan dan ekologi/environmentalisme dalam cara pandang Gus Dur -dan juga Ikeda- adalah suatu kesatuan, bukan suatu hal yang terpisah-pisah. Sebagaimana tesis Marx bahwa alam adalah “cermin” yang dengannya manusia dapat “berkaca” dan menemukan dirinya. Tanpa alam maka seorang tidak lagi memiliki “cermin” di mana aktualisasi kemanusiaannya dapat terealisasikan.

Sebagai penutup, selain dipengaruhi oleh kondisi “material” di masa kecilnya, Gus Dur juga memiliki pengalaman lain yang juga mempengaruhi kepekaannya terhadap alam. Sebagaimana dinyatakan oleh Gus Dur sendiri bahwa dirinya sejak kecil hidup di lingkungan santri di mana keimanan kepada Tuhan menjadi salah satu parameter penting yang menandai jati diri seorang santri. Gus Dur sendiri secara terbuka mengakui pengaruh identitas ke-santri-an (atau kemusliman) yang membuatnya memiliki pandangan yang khas terhadap alam.

Gus Dur menyatakan kepada Ikeda bahwa alam sejatinya adalah anugerah Tuhan kepada manusia untuk menggunakannya sebaik mungkin. Maka ketika manusia justru merusak alam maka pada hakikatnya ia juga menciderai kemanusiaanya sendiri. Manusia dalam konteks ini adalah entitas yang menyandang misi “kosmik” dari Tuhan tersebut. Dengan kata lain merusak alam sama artinya dengan ia merusak dimensi kosmik dari kemanusiaannya sendiri yang ditandai dengan kewajiban untuk mengemban misi Tuhan di muka bumi ini.

Maka bisa kita katakan bahwa pengalaman masa kecil yang membuat sosok Gus Dur memiliki kepekaan terhadap lingkungan sedikit banyak berakar dari keyakinannya sebagai seorang Muslim. Selain juga pengalaman masa kecilnya yang secara “empiris” bersinggungan dengan alam dalam wujudnya yang “ramah” dan bukan suatu yang “asing” membuat Gus Dur memiliki pandangan yang positif tentang alam. Dengan kata lain unsur transendensi dan material sama-sama mempengaruhi pribadi Gus Dur semenjak kecilnya yang membuatnya memiliki spirit ekologis yang tinggi.

Spirit inilah yang terus bertumbuh, salah satunya berkat berjumpaannya dengan berbagai tokoh termasuk Ikeda yang menjadi kawan dialognya. Termasuk juga Gus Dur berhutang pada penyelenggaraan pameran foto yang diselenggarakan oleh Ikeda berjudul Dialogue with Nature di Jakarta pada tahun 2007 yang diakui Gus Dur semakin memperkokoh komitmen dirinya dalam upaya perlindungan pada alam. Alam sebagai anugerah dari Tuhan kepada manusia yang mesti dijaga baik-baik untuk selama-lamanya.

Author

Bagikan tulisan ini: