Opini

Impotensi Ambisi Moral

Sampai hari ini bangsa kita masih begini-begini saja, tak cukup banyak capaian perubahan fundamental, antara lain—meminjam istilah Rutrger Bregman dalam Moral Ambition (2025)—karena perilaku waste of talent, kita terlalu banyak membuang bakat sia-sia. Tentu saja kita mengalami perubahan dan kemajuan, mana ada masyarakat yang tak berubah? Tapi itu adalah perubahan relatif yang terjadi karena ‘terseret arus besar’ yang terus bergerak di sekitar kita. Dibanding potensi, kemampuan dan peluang yang tersedia, kita ini sebetulnya jalan di tempat. Kenapa?

Banyak energi, waktu dan bakat terbaik kita terbuang percuma untuk mengerjakan bullshit jobs. Yakni pekerjaan yang tak berguna bagi transformasi sosial, atau bahkan merugikan masyarakat luas, sinful jobs. Contoh, pekerjaan para influencer, buzzer dan dolop, yang orientasi utamanya adalah mengawal status quo, meraup keuntungan cepat untuk kepentingan sempit diri atau kelompok tanpa peduli kemaslahatan bersama. Bullshit jobs adalah pekerjaan yang juga kurang bermakna secara sosial. Tanpa mereka masyarakat tak dirugikan apapun. Ini berbeda dengan peran pekerja esensial seperti pemungut sampah, penjual makanan, petani, guru, perawat atau sopir angkot, yang membuat masyarakat lumpuh ketika mereka tak bekerja.

Kenapa bakat-bakat terbaik banyak yang tersedot bullshit jobs? Pertama, buat merawat status quo, penguasa dan orang-orang kaya terus berupaya mamanfaatkan talenta muda terbaik. Mereka mau menyediakan kompensasi, juga prestise yang menjanjikan untuk posisi itu. Sementara pekerja esensial kurang dihargai dan berstatus sosial tak seberapa. Seperti kian luas kita saksikan, kini ihtiar turut mendorong perubahan justru dianggap sebagai pekerjaan terlalu berisiko. Menyuarakan kebenaran untuk mengritik kezaliman penguasa dan orang kaya bisa membuat kita kehilangan ruang gerak, bahkan ruang hidup. Publik juga gampang menganggap itu sebagai tindakan nyinyir. Ketika situasi ekonomi serba sulit dan sistem politik begitu menjepit, apa yang lebih penting untuk dipikirkan selain diri sendiri? Kalau tidak, memangnya siapa lagi yang mau peduli?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kekuasaan dan kekayaan adalah jahat. Tapi perlu diingat, kekuasaan dan kekayaan punya daya gravitasi yang menyerap apa saja ke dalam dirinya. Karena itu, keduanya harus dikontrol jika kemaslahatan bersama mau diutamakan. Jika transformasi sosial mau diwujudkan, penguasa dan orang kaya harus dikendalikan, bukan diandalkan. Untuk itulah, kita membutuhkan lebih banyak talenta muda yang berani mengambil jarak dari keduanya dan bekerja lebih intensif untuk kepentingan publik dengan memegang prinsip moral.

Kedua, mengikuti Bregman, bullshit jobs jadi lebih menarik bagi generasi muda potensial karena impotensi ambisi moral di tengah kita. Maksud ambisi moral adalah kehendak kuat untuk melakukan perubahan fundamental masyarakat ke arah yang lebih baik: lebih adil, lebih sejahtera, lebih terbuka, lebih setara, lebih demokratis. Ambisi dianggap hanya milik para politisi untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Atau, ambisi dianggap cuma milik para pengusaha demi meraup keuntungan dengan menghalalkan segala cara. Ambisi dipersepsi secara negatif. Sedangkan mereka yang mencita-citakan transformasi sosial tak cukup punya ambisi. Mereka berkeyakinan, kebenaran dan keadilan pada akhirnya akan menang dengan sendirinya. “The ark of the moral universe is long, but it bends toward justice”, kata Martin Luther King Jr. Kita mengenal istilah “wong ngalah dhuwur wekasane.”

Sayangnya sejarah membuktikan, kebenaran dan keadilan yang terwujud dengan sendirinya itu tak pernah terjadi. Keadilan akan muncul kalau ia diperjuangkan sungguh-sungguh. Transformasi sosial ke arah masyarakat yang lebih baik akan terjadi kalau ia diwujudkan secara efektif. Curhat, nggerundel, berkeluh kesah hanya berguna untuk menyalurkan katarsis sementara, tapi “menunggu” tak akan pernah membuat keadilan menjadi nyata. Ia tak akan mengubah apa-apa. Padahal, hidup kita di dunia ini cuma sekali, dan itu tak seberapa lama. Jika kita tak punya jejak dalam upaya mendorong perubahan masyarakat ke arah lebih baik—apalagi jika yang ditinggalkan adalah jejak ke arah sebaliknya, lalu apa maknanya? Apa yang patut dikenang setelah kita tak ada?

Untuk mendorong ambisi moral, Bregman menawarkan tiga hal. Pertama, redefinisi sukses. Betul, uang dan kekuasaan adalah ukuran sukses paling lazim. Tapi bukankah ada hal yang jauh lebih berharga dari keduanya? Ketika Mahatma Gandi meninggal, seluruh kekayaannya hanya bernilai satu dolar! Nama besarnya terus dikenang luas hingga kini karena kontribusinya dalam perjuangan nir-kekerasan untuk mewujudkan keadilan. Nama-nama besar dikenang dalam sejarah karena sumbangsih mereka bagi kemaslahatan bersama: para nabi, para wali, para ilmuwan, pemikir, seniman. Kedua, dampak maksimal. Hidup yang bermakna adalah hidup yang bermanfaat, berdampak maksimal, tentu sesuai kapasitas masing-masing. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya, kata Nabi? Mulia tapi tak berguna, buat apa? Itu yang disebut the noble loser. Ketiga, hidup seseorang akan berdampak ketika ia mau terlibat mengatasi masalah bersama untuk mendorong transformasi sosial fundamental. Dampak maksimal akan nyata jika kita menjadi bagian dalam ikhtiar mengatasi problem bersama yang sizeable (cukup besar cakupannya), solveable (bisa diatasi) dan sorely neglected (tak banyak dipedulikan orang), SSS. Masyarakat kita terbelit begitu banyak masalah dalam kategori SSS itu: dari soal ekonomi, pendidikan, kesehatan, backsliding demokrasi, hingga isu lingkungan.

Sama seperti tindakan negatif, perbuatan baik juga bersifat menular. Sejarah mencatat, banyak orang akhirnya terlibat melakukan perubahan bukan pertama-tama karena ia mau, tapi karena ia ‘tertular’ lewat jaringan. Dalam situasi yang menekan seperti sekarang, semua orang sebetulnya menginginkan perubahan. Tapi siapa yang mau berubah? Sedikit. Lebih sedikit lagi siapa yang mau jadi pemimpin perubahan. Jejaring memungkinkan spirit itu menular dan bergerak bersama jadi lebih mungkin dilakukan. Ambisi moral adalah mindset yang bisa ditularkan. Perbuatan baik tak dilakukan seseorang karena ia adalah orang baik. Kita menjadi baik dengan melakukan kebaikan.

Ambisi moral inilah yang kini sangat kita butuhkan. Kita membutuhkan para aktor, terutama aktor muda, yang berkemauan keras dan berkemampuan efektif bekerja mendorong transformasi sosial. Jangan biarkan anak-anak muda berbakat justru kian terserap menjadi bagian bullshit jobs. Penguasa dan pengusaha bisa menjadi bagian penting perubahan hanya jika keduanya dikendalikan, bukan diandalkan. Karenanya, berbagai elemen masyarakat sipil harus bekerjasama menjalankan fungsi ini dengan baik: para intelektual, tokoh agama, aktifis NGO, jurnalis, seniman, budayawan dll. Tanpa ambisi moral, perubahan masyarakat ke arah lebih baik tak bisa dicapai, masyarakat sipil melempem, penguasa dan pengusaha makin semena-mena.

Kita tak bisa terus-terusan mengalami impotensi ambisi moral sambil nggerundel, berkeluh kesah, menunggu datangnya Ratu Adil atau Imam Mahdi!

Achmad Munjid

Mantan Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM & Wakil Ketua Badan Pengembangan Jaringan Internasional (BPJI) PBNU.