Pare Kediri – GUSDURian Mojokutho Pare bahu membahu membangun sebuah kamar portabel di Rumah Bersama Kemanusiaan GUSDURian. Kamar ini diwujudkan sebagai solusi atas tidak adanya lagi kamar yang tersedia untuk penghuni baru yang datang ke RBK GUSDURian.
Saat ini, jumlah lansia yang tinggal di RBK Gusdurian telah mencapai 46 jiwa. Hal ini sudah melebihi batas jumlah maksimum kuota kamar yang tersedia. Bahkan, sepanjang pertengahan Februari ini, RBK GUSDURian telah menolak sebanyak 5 lansia baru yang hendak masuk.
Di antara beberapa lansia baru yang datang tersebut ada yang memang dititipkan oleh pihak keluarga karena kesibukan kerja di luar kota. Hal tersebut menyebabkan ketidakmampuan pihak keluarga dalam mengurus lansia. Selain itu, ada juga beberapa lansia yang memang membutuhkan pertolongan karena telah lama hidup sebatang kara dan baru teridentifikasi oleh para relawan.
Antok Mbeller sebagai koordinator GUSDURian Mojokutho Pare mengungkapkan “Kita sebagai relawan juga sampe ngelu sirahe (pusing kepalanya), padahal kita sudah ada beberapa tambahan kamar baru tapi tetep jumlah Mbah-mbahe yang baru panggah teko wae, gek akeh pisan (lansia yang baru tetap berdatangan dan jumlahnya banyak lagi)”.
Menyikapi hal tersebut, para relawan pun berinisiatif untuk menambah satu unit lagi kamar portabel — kamar yang dapat digunakan untuk beristirahat, nyaman, dan fleksibel — yang sebelumnya sudah ada sebanyak dua unit.
Cak Aris sebagai salah satu relawan yang ikut andil dalam pembangunan kamar ini menyampaikan “Kamar portabel ini didesain minimalis karena memang anggarannya cuma sedikit dan keterbatasan alat. Tapi meskipun begitu, kamar ini tetap dibikin nyaman dengan bahan yang kuat, sirkulasi udara yang memadai, pokoknya bisa dipakai untuk istirahat sama menyimak lemari lah”.
Beberapa material yang digunakan untuk membuat kamar portabel ini diantaranya besi hulu galvanis ukuran 4×4 cm untuk bahan dasar tiang, multiplek untuk menjadi dinding dan lantai dasar, baut sekrup berukuran 3 ml, baut drilling ukuran 6 ml, dan spandek yang digunakan sebagai atap. Kemudian untuk alat kerja para relawan menggunakan bor, gerinda, dan trafo las listrik. Sedangkan untuk proses pengerjaannya memakan waktu sekitar dua hari untuk finishing dan pemasangan atap.
Baru beberapa jam setelah kamar ini siap untuk dihuni, seorang lansia baru pun datang. Walhasil, kamar portabel ini pun saat ini telah berpenghuni dan status RBK GUSDURian saat ini telah penuh. Hal ini adalah keadaan wajar yang sangat sering terjadi di RBK GUSDURian.
“Belum ada seminggu Mbah Ndek meninggal, kamarnya sudah dihuni lagi”, ujar Mak Tin, salah satu relawan yang bertugas harian mengurus lansia.
Mbah Ndek adalah salah satu lansia di RBK GUSDURian yang menempati salah satu kamar portabel yang sudah ada sebelumnya. Belum lama ini, Mbah Ndek telah dipanggil oleh Sang Pencipta ke hadapan-Nya setelah sakit demam selama tiga hari, bahkan sudah sempat berobat ke Puskesmas Pare.
Kondisi lansia yang tinggal di RBK GUSDURian selalu datang dan pergi. Ada yang memang pergi karena bertemu dan dijemput oleh pihak keluarga, ada juga yang memang pergi karena telah sampai di akhir hayatnya. Namun di samping itu, penghuni yang terus berdatangan juga tidak kalah jumlahnya dengan yang pergi.
Hal tersebut membuat para relawan terus berinovasi agar tidak ada lagi kaum lansia yang terpinggirkan bahkan tidak terurus. Dengan sekuat tenaga dan modal swadaya, kamar portabel pun menjadi solusi efektif yang menyelamatkan hati lansia agar bisa menjalani hidup dengan nyaman di RBK GUSDURian.









