Peringati Hari Kartini, SIBAGUS Gelar Diskusi Keperempuanan Menyoal Pendidikan Inklusif 

Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026, kegiatan Sinau Bareng Gusdurian (SIBAGUS) yang diinisiasi oleh Komunitas GUSDURian Mojokutho Pare sejak 2022 menggelar diskusi keperempuanan. Diskusi ini bertajuk “Menyoal Konsistensi Kegiatan Sinau Bareng GUSDURian untuk Perkembangan dan Keaktifan Anak-anak”. 

Kegiatan diskusi yang yang diselenggarakan oleh para relawan perempuan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 21 April 2026. Acara diskusi dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, yang bertempat di Basecamp Komunitas GUSDURian Mojokutho Pare.

Diskusi yang digelar SIBAGUS kali ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan peran perempuan dalam pendidikan di komunitas, khususnya dalam mendampingi anak-anak dari kelompok marginal yang sedang dalam masa pertumbuhan. Berbeda dengan peringatan Hari Kartini pada umumnya yang berkebaya, spirit perempuan di komunitas GUSDURian justru mengenakan dresscode bernuansa earth tone yang menghadirkan kehangatan dan penuh semangat kebersamaan.

SIBAGUS sendiri merupakan program Komunitas GUSDURian yang berfokus pada kegiatan pendidikan yang telah berjalan sejak tahun 2022, sebagai bentuk tindak lanjut pasca kegiatan TUNAS GUSDURian di Surabaya. Program ini berfokus pada kegiatan belajar bersama anak-anak yang terpinggirkan, terutama di sekitar kawasan Pasar Loak Pujasera Pare.

Berbagai kegiatan edukatif dilakukan oleh program SIBAGUS, mulai dari pendampingan belajar Bahasa Inggris, mengaji dan pembelajaran fiqih dasar, pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK) di wilayah Sidorejo Pare dan sekitarnya, serta pengenalan seni budaya dan pembelajaran alat musik. Selain di Pasar Loak Pujasera, kegiatan ini juga menjangkau beberapa titik lain seperti Pasar Lama Pare, Bendungan Kalirejo, dan Desa Sidorejo.

“Kartini-an tahun ini memang sengaja kita buat spesial dengan berdiskusi tapi khusus teman-teman komunitas yang perempuan saja. Sebenarnya tidak ada niatan untuk genderisasi sih, biar terkesan lebih eksklusif aja. Apalagi tahun ini kita di GUSDURian Pare memang mau kembali menggalakkan kegiatan SIBAGUS. Karena selama ini yang paling aktif itu hanya di kegiatan mengaji saja, lainnya banyak kendala. Sekarang di momentum ini mari kita nyalakan kembali semangat para relawan yang mengajar di kegiatan SIBAGUS,” ungkap Asri Wulandari, koordinator pendidikan Komunitas GUSDURian Mojokutho Pare.

Momentum Hari Kartini tahun ini dimanfaatkan SIBAGUS untuk menegaskan bahwa semangat belajar harus terus menyala, tanpa memandang latar belakang sosial, usia, maupun kondisi kehidupan. Semangat ini sejalan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menekankan pentingnya kemanusiaan, kesetaraan, dan pendidikan inklusif.

“Para relawan di kegiatan SIBAGUS memang kebanyakan sudah pada bekerja untuk yang sekarang. Beda banget seperti tahun 2022-2024-an kemarin itu relawannya banyak, kita bahkan sempat mengadakan open volunteer mengajar SIBAGUS di tahun 2023 dan ada pengukuhannya di lereng Gunung Kelud dulu itu saking banyaknya yang ingin bergabung di kegiatan ini. Untuk sekarang, relawannya memang tidak sampai 15 orang. Tapi dengan SDM yang ada dan kompetensi masing-masing ini mau kita kembangkan dan maksimalkan. Apalagi kan di GUSDURian Pare ini banyak teman-teman yang juga kerja sebagai tutor bahasa Inggris,” jelas Ai Cahyati, relawan sekaligus tutor Egypt Kampung Inggris.

“Aku sendiri selalu menyambut positif untuk kegiatan SIBAGUS, karena anak-anak kecil di sini kalo ga ada kegiatan positif seperti belajar mereka main HP terus, YouTube-an, pokoknya banyak negatifnya. Mana kita kan juga ga tau mereka nonton apa di HP. Tau-tau pas lagi bermain bersama, mereka mainnya pacar-pacaran. Itu kan bahaya banget loh buat perkembangan anak usia 7-15 tahun yang belum mengerti soal pendidikan seksual. Ini baru main pacar-pacaran ya, coba kalo abis itu main cium-ciuman dan seterusnya? Apa ga bahaya anak umur segitu?” ungkap Maryam, relawan dan Manajer Nowadays English Kampung Inggris.

“Ditambah lagi, anak-anak umur segitu seperti cermin, selalu mempraktekkan apa yang mereka lihat. Jadi kalau bukan kita-kita ini yang berusaha untuk peduli dengan mereka, siapa lagi? Semoga kegiatan SIBAGUS yang akan berjalan lagi kedepannya ini bisa mewadahi anak-anak untuk terus berkembang sesuai usianya,” tambah Maryam.

Melalui diskusi keperempuanan kali ini, SIBAGUS berharap dapat memperkuat konsistensi gerakan belajar bersama, sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk terlibat dalam upaya pemberdayaan anak-anak, perempuan, dan para relawan di tingkat komunitas.

“Mari bersama-sama kita belajar, ber-sinau, sinau diri, sinau ngaji, dan sinau urip bersama-sama,” adalah pesan utama yang digaungkan dalam kegiatan diskusi kali ini. Harapannya, Sinau Bareng Gusdurian dapat menjadi ruang kegiatan belajar sekaligus gerakan kolektif untuk membangun harapan dan masa depan yang lebih inklusif bagi semua kalangan. 

Relawan Rumah Kemanusiaan GUSDURian. Penggerak Komunitas GUSDURian Mojokuto Pare, Kediri.