PARE, KEDIRI – Kawasan Masjid Agung An-Nuur Pare, Kabupaten Kediri, menjadi pusat penyelenggaraan Pagelaran Seni Islami 2026 yang berlangsung pada 17–20 Juni 2026. Mengusung tema Tuhan Bersama Orang-Orang Berjuang, kegiatan ini menghadirkan perpaduan agenda keagamaan, seni budaya, serta edukasi hukum yang melibatkan lintas elemen masyarakat.
Sejumlah komunitas turut ambil bagian dalam gelaran ini, di antaranya GUSDURian Mojokutho Pare, Majelis Shofwatul Qulub, Sanggar Seni Kreativitas Rakyat (SASTRA) Pare, dan Anaman Kediri. Pagelaran ini dirancang untuk menyambut Tahun Baru Islam dengan serangkaian agenda meriah, seperti pentas karya, Festival Al Banjari se-Jawa Timur, bazaar UMKM Kediri, Charity Rumah Bersama Kemanusiaan GUSDURian, penyuluhan hukum bersama GUSDURian Mojokutho Pare, Grand Launching Yayasan Sitinggil Kasatryan Agung, serta Sholawat dan doa bersama lintas agama.
“Penyelenggaraan acara ini adalah bentuk kolaborasi berbagai komunitas dan organisasi yang selama aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan di wilayah Pare dan sekitarnya. Kegiatan ini lahir dari semangat anak muda untuk menyemarakkan Tahun Baru Islam melalui kegiatan yang positif, kreatif, dan inklusif, serta mewadahi berbagai komunitas masyarakat”, ungkap Om Luqman sebagai Penanggung Jawab acara.
Dibuka pada 17 Juni 2026 selepas Isya, kemeriahan malam pertama diisi oleh penampilan Tahtim Gambus bersama Alfashollu dan All Star Gambus Kediri. Pagelaran ini diharapkan menjadi sarana hiburan bernuansa Islami sekaligus wadah pelestarian budaya lokal yang memperkuat nilai-nilai kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Kediri. Semangat ini sejalan dengan sejarah kota Pare yang dikenal sebagai kawasan dengan kehidupan sosial dan budaya yang beragam dan harmonis.
Antok Mbeller, Koordinator GUSDURian Mojokutho Pare mengungkapkan, “Pagelaran Seni Islami ini adalah ruang strategis yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang melalui pendekatan budaya dan dialog. Seni yang dipertunjukan adalah media untuk menyampaikan nilai kemanusiaan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan”.
Agenda dalam pagelaran ini melibatkan komunitas lintas kelompok. Hal ini mencerminkan semangat yang selama ini diwariskan oleh Gus Dur, yaitu membangun kehidupan sosial yang damai, terbuka, dan saling menghormati. Semangat ini juga selaras dengan kegiatan sosial dan kemanusiaan yang selama ini dijalankan oleh GUSDURian Mojokutho Pare, khususnya di Rumah Bersama Kemanusiaan (RBK) GUSDURian. Di tengah kebutuhan masyarakat akan ruang ibadah, ruang belajar, ruang dialog, dan ruang kebudayaan, kolaborasi ini menjadi momentum besar untuk menghadirkan Islam yang ramah, membumi, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan Pagelaran Seni Islami kali ini juga dilengkapi dengan agenda penyuluhan hukum bersama Gusdurian Mojokutho. Penyuluhan ini dilaksanakan pada 18 Juni 2026 pukul 10.00 WIB yang disampaikan oleh Advokat profesional Arwina, S.H. dengan tema Peran Masyarakat dan Pemerintah dalam Perlindungan Lansia Terlantar: Mewujudkan Kemanusiaan dan Keadilan Sosial di Kabupaten Kediri.
Pagelaran Seni Islami 2026 menghadirkan agenda edukatif di tengah festival seni dan keagamaan. Hal ini menggambarkan bahwa syiar Islam dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk penyuluhan hukum yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat luas. Kemudian, rangkaian acara dilanjutkan dengan pentas karya bersama Seniman Muda se-Pare Raya yang diisi dengan penampilan tari tradisional, tari Melayu, dan persembahan teater.
Pada hari ketiga, 19 Juni 2026, digelar Festival Al Banjari se-Jawa Timur Satoe Dekade Anaman Kediri. Festival ini dimeriahkan oleh lebih dari 50 grup shalawat Al Banjari yang hadir dari berbagai daerah, termasuk Jombang, Tulungagung, dan Kediri Raya.
Kegiatan berakhir pada 20 Juni 2026 dan ditutup secara khidmat dengan pembacaan doa lintas agama. Penutupan kegiatan ini juga dimeriahkan dengan peringatan Milad keenam Majelis Shofwatul Qulub serta peresmian Yayasan Sitinggil Kasatryan Agung. Pagelaran Seni Islami di Masjid Agung An-Nuur Pare ini membuktikan bahwa seni, agama, budaya, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dalam satu perhelatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan kebersamaan. (SDH)