Opini

Ketika Pak Nasirun Menjadi Pemandu Wisata Saya

Saya nggak pernah bisa melupakan momen liburan lebaran di tahun 2023. Bukan karena tempat yang saya datangi, tapi seseorang yang saya jumpai. Tiga hari setelah merayakan lebaran di Kebumen, saya dan istri melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk sowan ke rumah eyang sekaligus menikmati sisa liburan. Kami bukan tipe pasangan yang suka membuat rencana perjalanan. Biasanya kami berjalan saja, bergerak dari satu suasana ke suasana yang lain.

Saat itu, ketika istri nanya di Yogyakarta mau pergi ke mana saja, saya cuma punya satu tujuan: Nasirun Studio yang terletak di Perumahan Bayeman Permai, Kec. Kasihan, Bantul. Selain itu, saya nggak kepikiran mau pergi ke mana lagi. Entah kenapa saya kebelet sekali ingin bertandang ke sana. Saya penasaran dengan karya-karya Pak Nasirun sekaligus ribuan koleksi seni yang selama ini ia kumpulkan dari berbagai seniman Indonesia.

Bertemu Maestro Seni Rupa

Meskipun saya sudah mengenal namanya sejak 2013, saya belum pernah bertemu dengan Pak Nasirun atau main ke galerinya. Begitu juga dengan istri saya. 

Hari itu akhirnya tiba juga. Pada tanggal 27 April 2023, kami berangkat pukul sembilan pagi dari hotel menuju galeri Pak Nasirun naik Grab Car. Perjalanan ke sana hanya tiga puluh menit. Nggak sulit mencari galerinya. Dari mulut gerbang perumahan hanya perlu dua kelokan: lurus mentok dan belok kanan mentok. Galerinya ternyata bersebelahan dengan rumah utamanya.

Begitu tiba, kami disambut dengan suasana yang asri dan teduh sekali. Area rumahnya dikelilingi oleh belasan pohon rindang dan deretan tanaman yang berjejer rapi dalam pot-pot besar berbentuk setengah oval. 

Di depan rumahnya, saya melihat ada lelaki yang sedang menyapu daun-daun yang jatuh. Saya mempercepat langkah kaki saya, menghampirinya, dan berkenalan dengannya. Namanya Mas Papang. Ia adalah salah satu asisten keluarga Pak Nasirun. 

Menurut informasi doi, sejak pandemi Covid-19, galeri dan museum masih belum bisa dibuka untuk umum. Jadi, belum bisa dikunjungi terlebih dahulu. Saya bisa mengerti alasannya walaupun dalam hati ingin sekali ke sana. Mumpung pas sedang di Yogyakarta mbatin saya.

Tak lama setelah ngobrol dengan Mas Papang, kami izin pamit buat pulang. Namun, Mas Papang menghentikan langkah kami. 

Eh sek tak coba tanya orang rumah dulu ya. Siapa tahu bapak mengizinkan atau mau menemui jenengan.” Ia langsung masuk ke dalam rumah sebentar, meninggalkan kami berdua di depan pagar bernomor C2. Setelah beberapa menit, Mas Papang kembali muncul. 

 “Silakan masuk, Mas. Saya antar ke taman belakang ya.”

Saya mencopot sepatu saya, nyeker, dan mengikutinya pelan dari belakang. Saya berjalan melewati batu-batu kali, kolam renang, dan kolam ikan yang terdapat puluhan ikan koi warna-warni. 

Tunggu di sini dulu ya,” ujarnya sambil menunjuk kursi panjang di belakang rumah.

Saya agak takjub dengan apa yang saya lihat di sekitar rumah. Leher saya selalu nengok ke kanan-kiri. Ibarat CCTV yang sedang memperhatikan dan menangkap objek tertentu. Saya melihat banyak karya seni yang terbentang di mana-mana: lukisan ukuran besar yang belum jadi, patung, wayang, pahatan, dan instalasi seni. 

Selain karya seni, ada banyak juga kucing berkeliaran bebas di mana-mana. Jumlahnya ada puluhan kucing. Belakangan saya baru tahu Pak Nasirun dan keluarganya pecinta kucing. Mayoritas kucingnya adalah hasil “buruannya” mengambil kucing-kucing yang dibuang pemiliknya saat pandemi Covid-19.

Saat sedang menunggu Mas Papang, saya kaget dari arah berlawanan ndilalah datang lelaki gondrong dengan rambut ikal sepinggang, mengenakan sarung berwarna hitam-putih, bertelanjang dada, dan membawa selang yang masih mengucur air di tangan kanannya. 

Eh apa kabar? Sehat? Dari Bekasi ya katanya? Saya abis nyapu dan nyiram tanaman. Sebentar saya pakai baju dulu ya. Nanti saya temani keliling ke galeri dan museum. Kayak private tour gitu lah,” sambil terkekeh-kekeh.

Asuwog. Lelaki itu adalah Pak Nasirun. Saya terpaku dan terkejut. Saya kira Mas Papang yang akan menenami kami ke galeri dan museum, melainkan si shahibul bait, Pak Nasirun, pemilik galeri dan museum langsung. 

Saya amat canggung dan salah tingkah. Bahkan, saya sempat berbisik ke kuping kiri istri: kalau harga satu lukisannya saja bisa miliaran, jasa private turnya berapa nih? Mati lah kita. Kami clingak-clinguk ke area sekitar rumah. Nggak ada tamu lain selain kami berdua. Saya agak ngerasa “dijebak” oleh Mas Papang.

Private Tour Bersama Pak Nasirun

Beberapa menit kemudian Pak Nasirun kembali dengan kaus hitam bergambar Ronnie James Dio, vokalis Black Sabbath band heavy metal asal Inggris. Mengenakan kaus band dan sarung adalah salah satu ciri khasnya. Selain senang melukis, ia memang pecinta music rock dan metal.

Sebelum mengajak kami berkeliling ke galeri dan museum pribadinya, pelukis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah itu sempat menawari kami minuman. Kehangatan dan kebersahajaannya terpancar secara alami dari sikap Pak Nasirun terhadap kami yang bukan siapa-siapa: hanya orang biasa. Kami lantas memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kami datang ke tempatnya. Ia hanya manggut-manggut saja sambil sesekali menghisap rokok filternya.

Kami langsung diajak jalan ke lorong pertama di galerinya. Karena saya teringat menjumpainya abis selesai nyapu, sambil berjalan saya tanya ke beliau: sejak kapan dan mengapa Pak Nasirun suka menyapu? Kegemaran itu, katanya, bermula sejak kecil. Setiap hari Jumat, ia suka membersihkan masjid kecil yang akan digunakan untuk Jumatan di kampungnya di Cilacap. Ia merasa ada kepuasan batin setelah selesai menyapu.

Kesenangannya menyapu berlanjut hingga dewasa sampai ngekost di Yogyakarta. Pemilik kost merasa senang karena kosannya jadi lebih bersih dan rapi terus. “Saya sampai mau dijadikan anak mantu loh sama yang punya kost karena rajin menyapu,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.  

Di rumah saya bisa nyapu pagi, siang, dan malam. Istri dan anakku nonton drama Korea terus, saya nyapu aja terus. Hahaha….” ujarnya terpingkal. Bahkan, karena gemar sekali menyapu, pernah ada seorang pejabat yang datang ke rumahnya dan mengiranya Pak Nasirun sebagai tukang sapu beneran karena “potongannya” yang kayak tukang sapu.

Selain menyapu, anak keenam dari tujuh bersaudara itu juga hobi menanam pohon dan tanaman. Saya nggak heran karena di halaman belakang rumahnya terdapat puluhan pohon besar-besar nan rindang. Selain kolektor karya seni, ia ternyata juga kolektor pohon dan tanaman, baik yang asalnya dari Indonesia ataupun mancanegara. Salah satu koleksinya adalah satu pohon pandan laut yang pernah diselamatkan dan dibawanya dari tsunami Pangandaran tahun 2006.

Menurutnya, pohon dan tanaman itu jasanya banyak buat manusia. Kalau berbuah bisa dimakan. Pas siang pohon bisa menjadi pelindung dari terik matahari dan menghisap racun karbon dioksida CO2 lalu mengeluarkan oksigen. “Apa kita pernah nyadar setiap detik nafas kita itu sumbernya dari mana,” tanyanya. 

Bukannya Islam mengajarkan selain pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), kita perlu juga menjaga hubungan dengan alam (hablum minal alam)?” Pertanyaan keduanya membuat saya ngeh dan terpukau.

Zakat Kebudayaan

Kami lanjut bergerak dari satu lorong ke lorong karya seniman lainnya. Pak Nasirun dengan antusiasnya bercerita proses mendapatkan ribuan koleksi karya seninya dan apa tujuan mengoleksi itu semua. Mulai dari karya Emiria Sunassa, Dr Wahidin Soedirohoesodo, Jeihan, Mochtar Apin, Nassar, Zaini, Hendra Gunawan, Fadjar Sidik, Soedjodjono, Trisno Sumardjo, Rusli, Affandi, Kho Kiem Bing, dan lainnya. 

Sejak 1985 saya sudah punya cita-cita mengoleksi karya-karya seni rupa dari guru-guru saya dan seniman-seniman terdahulu sebagai bentuk rasa terima kasih, syukur, dan penghormatan terhadap jasa-jasa mereka. Guru itu nggak harus mengajar di ruang kelas. Mereka semua saya anggap guru-guru saya,” katanya penuh semangat. Seingat Pak Nasirun rencana tersebut baru bisa kesampean setelah beliau lulus dari ISI Yogyakarta tahun 1994 lebih seringnya di akhir 1990-an, tepatnya ketika lukisannya sudah mulai banyak diburu banyak orang.

Pak Nasirun punya istilah yang keren untuk hal ini: zakat kebudayaan. Artinya, kalau dia abis dapat rezeki dari Tuhan pas lukisannya laku, ia harus menyisihkan minimal 2-5% dari total penjualannya untuk membeli karya-karya seniman lain, baik yang sudah terkenal ataupun yang nggak terkenal. Bagi Pak Nasirun, selain harus punya nilai kagunan, seni juga harus punya nilai kemaslahatan.

Pak Nasirun blusukan dari satu rumah ahli waris para seniman ke rumah ahli waris lainnya untuk membeli karya seniman lain. Selain itu, ia juga suka berburu dari pasar loak ke pasar loak atau hunting ke Shopping Center di Yogyakarta. Salah satu perburuannya yang paling diingat adalah ketika mengambil artefak cetakan karya Budiani, seniman Yogyakarta kelahiran Ngawi yang pernah dikirim Soekarno untuk belajar seni boneka modern di Sakurakai Doll-Making School di Tokyo dari 1960 hingga 1964. “Wah karya Budiani yang ini saya harus mengambilnya jam 12 malam di tengah sawah di Sleman. Perjuangan banget,” ujarnya terus terang.

Setelah tikungan terakhir di lorongnya, kami sama-sama melihat instalasi seni miniature Candi Borobudur dari lantai dua. Pelukis yang memilih hidup tanpa handphone (HP) untuk alat komunikasi itu berkelakar kalau hatinya sedang was-was karena karyanya tersebut baru saja “dilamar” oleh Singapura. Nggak jelas siapa yang dimaksud beliau apakah suatu lembaga atau konglomerat dari Singapura. Namun, ia bercerita ditawari mobil vellfire terbaru untuk menebus karyanya itu. Bahkan, sampai dikasih cek kosong untuk ditulis sendiri berapa angka yang ia mau.

Bukan kali itu saja hatinya gelisah. Pernah suatu waktu ia kedatangan Budi Hartono yang saat itu masih menjadi orang paling kaya di Indonesia. Ia bercerita perasaannya sangat cemas dan was-was. “Saya itu didatangi orang yang punya kekayaan ratusan triliun, takut banget semua karya dan koleksiku dibeli semua. Hahaha….” Pergaulan Pak Nasirun memang banyak dari golongan konglomerat. Ia mengaku pernah dijemput dan diantar menggunakan jet pribadi seorang konglomerat yang hanya ingin bertemu dan mengoleksi karya-karyanya.

Setelah puas berkeliling ke galeri dan museum pribadinya, kami duduk di kursi samping rumah untuk melanjutkan obrolan kami yang sempat terputus. Topik obrolan bergeser ke gurunya: Fadjar Sidik. Selain ibunya, salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupnya adalah Fadjar Sidik. Ia selalu teringat dawuh gurunya. “Kalau kamu sudah ambil dunia seni, jangan sampai ambisi populer atau ambisi sukses ekonomi. Ambisilah dalam proses dan suka dengan profesi itu. Yang penting seneng aja dan percaya ke Tuhan kalau dari dunia seni bisa menghidupi anak istri. Syukur-syukur bisa ngasih rezeki ke orang lain,” ujar Fadjar Sidik suatu hari. Pak Nasirun percaya nasihat gurunya itu dan diamalkan terus menerus sepanjang hidupnya.

Pak Nasirun menjelaskan banyak mengoleksi karya Fadjar Sidik dan sering nyekar ke makamnya. Ia bilang sebagai bentuk terima kasih kasih dan hormat ke guru dan seniman-seniman yang menginspirasinya, pria yang nggak pegang ATM itu lebih senang nyekar daripada datang ke mall. “Kalau ke mall saya takut diusir security. Lebih senang dan damai ke makam buat nyekar. Hahaha….”

Kami masih duduk di bangku yang sama. Hampir dua jam kami ngobrol tentang seni rupa dan sastra. Setiap ngobrol dengannya, setengahnya mungkin isinya gelak tawa saja. Ia memang jenaka, senang guyon, dan bercanda. Obrolan kami diakhiri dengan bertukar kontak telepon dengan anaknya, Mbak Ima, yang menjadi penghubung dengan dunia luar yang ingin mengontaknya. 

Tak lama Grab Car yang kami pesan mengabari sudah datang dan menunggu di depan rumah Pak Nasirun. Sebelum masuk ke mobil dan pamitan, saya menyempatkan diri untuk foto dengan Pak Nasirun untuk pertama dan terakhir kalinya.

Penolong Makhluk Hidup 

Kini, saya sudah nggak bisa ketemu Pak Nasirun lagi. Hari Sabtu pagi (1/8) saya membaca berita yang membuat saya ternganga: “Maestro seni rupa Nasirun meninggal dunia.” 

Di media sosial, berseliweran ucapan belasungkawa dan kenangan baik tentangnya. Tentang kedisiplinannya yang tiap hari harus mencoretkan sesuatu, mengasah kemampuannya menggaris, melukis, dan mewarnai. Tentang tingkah lucunya, guyonannya, dan ketawa khasnya. Tentang sikap rendah hatinya dan egaliternya ke siapa saja. Dan tentang-tentang lainnya.

Dari salah satu postingan orang di instagram, saya baru tahu ternyata nama aslinya adalah Masyhuri yang artinya terkenal, tapi karena waktu kecil sering sakit-sakitan, akhirnya diganti menjadi Nasirun yang artinya penolong.

Sesuai namanya, Pak Nasirun memang gemar menolong. Siapa pun dia tolong: hewan, pohon, tanaman, dan manusia. Ia menolong semua makhluk hidup. Saya pun bersaksi pernah ditolongnya, setidaknya ditolong untuk diizinkan melihat galeri dan museumnya untuk belajar dan menjawab rasa ingin tahu saya tentang ribuan koleksi karya seni para seniman Indonesia dan karya-karya pribadinya. 

Saya nggak heran kenapa Pak Nasirun dicintai banyak orang. Beliau suka membangun jembatan daripada tembok. Pergaulannya tanpa batas dan sekat. Dari mulai konglomerat sampai orang biasa seperti saya ia ladeni juga. Setelah Pak Nasirun meninggal, setidaknya saya jadi tahu ada satu nasi dari Yogyakarta yang dicintai banyak orang dan paling dicari konglomerat: Nasirun. Seniman besar berskala internasional yang pandai menyembunyikan kebesaran, kekayaan, dan kesalehannya.

Selamat menunaikan ibadah menyapu dan menyiram di surga, Pak Nasirun. Al-Fatihah. (SDH)

Donny WS

Penggerak Komunitas GUSDURian UK. Sedang belajar Akuntansi Forensik di De Montfort University, Leicester.