Peristiwa

Merajut Kembali Spiritualtas Ibu Bumi Lewat Lensa Teologi Islam

YOGYAKARTA – Manusia modern hari ini hidup dalam pusaran keterasingan yang akut terhadap alam semesta. Kebutuhan harian dipenuhi secara instan tanpa pernah melibatkan kesadaran batin tentang dari mana pasokan air bersih, oksigen, dan bahan pangan berasal. Ketercerabutan kultural ini diperparah oleh dominasi tafsir keagamaan yang menempatkan alam sekadar sebagai komoditas mati yang bebas dikuras demi kepentingan pertumbuhan ekonomi semata.

Upaya membongkar cara pandang yang destruktif tersebut menjadi bahasan dalam sesi dialog JABFEST 2026 di The Ratan, Bantul, Sabtu (10/10/2026). Peneliti ekologi dari UIN Walisongo Semarang, Zaimatus Sa’diyah, memaparkan bagaimana gerakan perempuan di akar rumput menemukan kembali titik temu antara kearifan lokal dan spiritualitas Islam dalam merawat ruang hidup.

Zaimatus, yang baru saja merampungkan disertasi doktoralnya mengenai relasi ekologi dan gerakan perempuan, mencontohkan bagaimana masyarakat adat Sedulur Sikep di Pegunungan Kendeng memperlakukan bumi dengan penuh takzim. Sebelum meminum air, mereka memiliki laku spiritual meneteskan air ke tanah sebagai bentuk pengakuan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada kemurahan alam. Kesadaran semacam ini, menurutnya, sejatinya berakar kuat dalam khazanah teologi Islam yang selama ini terabaikan.

“Ada satu ayat dalam Al-Qur’an di surat Thaha ayat 55, Allah berfirman, ‘Minha khalaqnakum wa fiha nu’idukum wa minha nukhrijukum tarotan ukhra.’ Allah berfirman bahwa dari bumi Kami menciptakan kalian dan kepada bumi pula Kami mengembalikan kalian, dan dari bumi pula Kami akan membangkitkan kalian,” ujar Zaimatus di hadapan peserta diskusi.

Berdasarkan pemikiran ulama besar Ibnu Arabi, ayat tersebut merepresentasikan sebuah imajinasi maternal, di mana bumi diposisikan selayaknya rahim kosmik tempat seluruh umat manusia dilahirkan dan disokong kelangsungan hidupnya. Konfirmasi normatif serupa juga ditemukan dalam riwayat hadis yang secara eksplisit menyerukan agar umat manusia senantiasa menghormati dan menjaga bumi.

Sayangnya, tradisi spiritual yang mendekatkan manusia dengan alam raya kerap dituding sebagai praktik klenik atau sinkretisme oleh arus utama keagamaan yang didominasi oleh sudut pandang patriarkis. Padahal, pemulihan krisis ekologi menuntut adanya reorientasi kesadaran tauhid yang mampu merajut kembali relasi setara antara manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Terkait kekhawatiran bahwa narasi tentang ‘Ibu Bumi’ dapat kembali melanggengkan beban domestikasi pada perempuan, Alimatul Qibtiyah memberikan catatan kritis. Ia mengingatkan agar konsep perlindungan lingkungan dikelola melalui prinsip kesalingan (mubadalah).

“Menurut saya, kalau kita mengedepankan ibumu-ibumu, ini bukan tujuan, tapi strategi, khawatirnya nanti tanggung jawab semua perempuan. Kalau mubadalah, laki-laki dan perempuan sama-sama menjaga alam,” tegas Alimatul.

Sintesis antara pemikiran progresif Islam, pengakuan terhadap kearifan lokal, dan pembagian tanggung jawab yang adil antargender menjadi kunci utama dalam merumuskan etika lingkungan yang membumi. Tanpa rekonstruksi teologis tersebut, upaya mitigasi krisis iklim hanya akan berhenti sebagai wacana teknokratis yang kering dari nilai spiritualitas.

admingusdur

Author at Kampung GUSDURian