Category: Opini

HomeOpini

Agama sering kali diposisikan sebagai sumber nilai, moral, dan ketenangan batin. Ia diajarkan sebagai jalan menuju kebaikan, kasih sayang, dan kedekatan dengan Tuhan. Namun dalam praktik sosial, agama tidak selalu hadir dalam wajah yang lembut. Dalam banyak pengalaman hidup, terutama pada masa kanak-kanak, agama justru dapat tampil sebagai ruang penuh tekanan, paksaan, dan pengabaian terhadap …

Setiap 22 Desember, linimasa nyaris seragam: ucapan “terima kasih ibu”, foto memeluk, hadiah kecil, dan kalimat-kalimat yang menghangatkan. Ada yang tulus, ada yang sekadar mengikuti arus, tetapi semuanya terasa seperti ritual yang sudah jadi pakem. Di tengah kehangatan itu, saya menyimpan kegelisahan: mengapa perayaan ini begitu mudah menjadi romantisasi, sementara jejak sejarahnya nyaris tak terdengar? …

Di tengah kian sesaknya dunia dakwah yang beralih rupa menjadi papan iklan, penuh bangunan megah, proposal pembiayaan, dan kompetisi popularitas, ada sebuah pesantren kecil di Cigugur, Garut, yang memilih berjalan ke arah sebaliknya. Pesantren Ekologi Ath-Thaariq berdiri tanpa kubah raksasa, tanpa pagar besar, tanpa program prestise yang membebani santri. Yang ada hanyalah kebun, sawah, kolam …

Rentetan banjir besar dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa pekan terakhir kembali menelan korban jiwa. Ratusan orang meninggal dunia. Ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian. Bencana ini tidak lagi bisa dibaca semata sebagai peristiwa alam. Fakta di lapangan menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola …

Ada ironi memalukan yang selalu terjadi dalam sistem penegakan hukum di negara kita yaitu negara menjual hukum sebagai simbol moral, bukan sebagai alat perlindungan nyata. Hal ini terlihat terang ketika pemerintah melalui aparatnya berkali-kali melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat yang berusaha melindungi tanah mereka dari ekspansi perkebunan sawit dan tambang. Hukum lingkungan di Indonesia hanya …

Dalam sejarah politik Indonesia, sedikit sekali tokoh yang meninggalkan jejak moral setegas Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia tidak hanya dikenal sebagai presiden, pemimpin NU, atau cendekiawan Muslim; lebih jauh dari itu, Gus Dur adalah representasi langka dari etika politik yang tidak lekang ditelan rezim, kekuasaan, atau retorika. Politik, di tangan Gus Dur, berubah dari …

“Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan.” Jika direnungkan lebih dalam, kalimat tersebut menyimpan makna filosofis, sosial, dan kultural yang sangat kuat. Kalimat Gus Dur tersebut tidak sekadar berbicara tentang bangunan penuh rak dan buku, melainkan tentang relasi manusia dengan pengetahuan, tentang kebutuhan batin manusia untuk memahami dunia, dan tentang peradaban yang tumbuh atau …

Tanggal 27 November, aku menerima sebuah undangan. Nama acaranya cukup membuatku berhenti sejenak, Halaqah Kubra Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), diadakan pada 12–14 Desember di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Alih-alih merasa bangga, reaksi pertama yang muncul adalah keraguan. Istilah ulama terasa sangat besar, terlalu mapan, dan sejujurnya, terasa jauh dari cara aku melihat diriku sendiri.  …

Kegaduhan politik dan krisis moral keteladanan akhir-akhir ini menjadi makanan yang paling banyak dikonsumsi publik. Dengan itu, memori tentang Gus Dur hadir memberi kesejukan yang jarang kita temui. Setiap kali ada kebijakan yang merugikan rakyat kecil, setiap kali aparat bertindak represif, dan setiap kali hukum kehilangan keberanian moral, nama Gus Dur selalu disebut—bukan hanya romantisme …

Pegunungan Kendeng adalah salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana negara dan industri menyederhanakan alam menjadi sekadar “aset ekonomi”. Dalam dokumen proyek, gunung karst ditulis sebagai “batu kapur” yang dapat ditambang untuk memenuhi kebutuhan semen nasional. Padahal, karst bukan sekadar batu; ia adalah struktur ekologis yang menyimpan air dan menopang kehidupan. Namun, pengambilan keputusan sering …