Category: Opini

HomeOpini

Satu bulan sudah pasca banjir dan longsor melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, namun sampai 30 Desember 2025, pengelola negara sampai detik ini tidak menetapkan bencana ekologis tersebut sebagai bencana nasional. Sebagai anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di Bireuen, Aceh, dan saat ini menetap di Yogyakarta, momen saat saya menyadari orang tua dan …

Bencana alam di banyak tempat, khususnya banjir di tiga provinsi di Sumatera, mendorong kesadaran warga bahwa alam kita sudah benar-benar rusak oleh kerakusan industri dan pengambil kebijakan di negeri ini. Rasanya sulit menangkis narasi ini, bahkan dengan buzzer sekalipun. Saya percaya hal itu disebabkan oleh begitu nyatanya pengalaman yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di Aceh, …

Hari Raya Dongzhi merupakan hari besar bagi umat Khonghucu di Indonesia yang identik dengan memakan ronde. Ya, ronde, minuman hangat dengan air jahe dan juga bola-bola tepung bercampur kacang di dalamnya. Sembahyang Dongzhi dilakukan saat momen astronomis tertentu, yaitu ketika matahari berada tepat di atas garis balik 23,5 derajat Lintang Selatan, sehingga di belahan bumi …

Natal 2025 mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, yang diambil dari Matius 1:22–24. Tema ini mengajak umat Kristiani untuk kembali menengok inti paling dasar dari kisah Natal: Allah yang memilih hadir melalui sebuah keluarga, dalam kesederhanaan, keterbatasan, dan kerentanan manusiawi. Di tengah perayaan yang seharusnya penuh sukacita, Natal tahun ini juga menjadi ruang refleksi …

Pada Kamis, 25 Desember 2025, Komunitas GUSDURian Cirebon bersama sejumlah komunitas lainnya kembali menggelar kegiatan rutin tahunan, Safari Natal. Kegiatan ini merupakan rangkaian kunjungan ke beberapa gereja di wilayah Cirebon sebagai bentuk silaturahmi dan praktik toleransi lintas iman. Safari Natal dimulai pada malam 24 Desember 2025 dengan kunjungan ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamitran Cirebon. …

Maaf adalah salah satu kata dasar dalam etika sosial manusia. Ia termasuk dalam tiga ungkapan dasar yang lazim diajarkan sejak dini—tolong, terima kasih, dan maaf—sebagai fondasi relasi sosial yang sehat. Namun, ketika memasuki usia dewasa dan memiliki kuasa, justru kata ini sering kali sulit diucapkan. Ego, gengsi, dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan menjadikan permintaan maaf dipandang …

Bung Karno dan Gus Dur berasal dari generasi yang berbeda. Namun, pemikiran keduanya masih terasa relevan. Keduanya sama-sama meninggalkan jejak penting dalam cara kita memandang hubungan manusia dan alam. Bung Karno dikenal lewat gagasan Marhaenisme. Ia menekankan kesadaran sosial dan nasional sebagai dasar perjuangan. Sementara itu, Gus Dur tampil sebagai ulama dan pernah menjabat sebagai …

Agama sering kali diposisikan sebagai sumber nilai, moral, dan ketenangan batin. Ia diajarkan sebagai jalan menuju kebaikan, kasih sayang, dan kedekatan dengan Tuhan. Namun dalam praktik sosial, agama tidak selalu hadir dalam wajah yang lembut. Dalam banyak pengalaman hidup, terutama pada masa kanak-kanak, agama justru dapat tampil sebagai ruang penuh tekanan, paksaan, dan pengabaian terhadap …

Setiap 22 Desember, linimasa nyaris seragam: ucapan “terima kasih ibu”, foto memeluk, hadiah kecil, dan kalimat-kalimat yang menghangatkan. Ada yang tulus, ada yang sekadar mengikuti arus, tetapi semuanya terasa seperti ritual yang sudah jadi pakem. Di tengah kehangatan itu, saya menyimpan kegelisahan: mengapa perayaan ini begitu mudah menjadi romantisasi, sementara jejak sejarahnya nyaris tak terdengar? …

Di tengah kian sesaknya dunia dakwah yang beralih rupa menjadi papan iklan, penuh bangunan megah, proposal pembiayaan, dan kompetisi popularitas, ada sebuah pesantren kecil di Cigugur, Garut, yang memilih berjalan ke arah sebaliknya. Pesantren Ekologi Ath-Thaariq berdiri tanpa kubah raksasa, tanpa pagar besar, tanpa program prestise yang membebani santri. Yang ada hanyalah kebun, sawah, kolam …