Tag: Gus Dur

HomeGus Dur

Enam belas tahun telah berlalu sejak Abdurrahman Wahid—Gus Dur—meninggalkan dunia. Namun namanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup, bukan hanya dalam buku sejarah, tetapi dalam ingatan kolektif bangsa: dalam kutipan yang terus beredar, dalam perbincangan lintas generasi, dan dalam praktik nilai yang berusaha dirawat oleh mereka yang percaya bahwa politik seharusnya berangkat dari kemanusiaan. …

Setiap kali kita duduk dalam diskusi ringan, berdiskusi di kelas, atau sekadar cangkrukan di warung kopi, pembicaraan tentang demokrasi Indonesia sering kali berakhir dengan rasa tak tuntas. Ya, kita memiliki demokrasi. Ia berjalan dan bahkan sering dirayakan dengan euforia pemilu. Namun, di balik itu, terdapat getaran rapuh di dalamnya. Ada yang tidak beres. Seperti rumah …

Satu bulan sudah pasca banjir dan longsor melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, namun sampai 30 Desember 2025, pengelola negara sampai detik ini tidak menetapkan bencana ekologis tersebut sebagai bencana nasional. Sebagai anak perempuan yang lahir dan dibesarkan di Bireuen, Aceh, dan saat ini menetap di Yogyakarta, momen saat saya menyadari orang tua dan …

BANYUWANGI – Desember bukan saja menjadi akhir tahun, di mana refleksi atas resolusi-resolusi awal tahun ini diangan-angankan anak muda. Desember bagi penggerak GUSDURian adalah bulan Gus Dur, di mana refleksi yang dilakukan telah melampaui resolusi tahunan. Melalui kegiatan Refleksi Pemikiran Gus Dur, anak-anak muda dan juga aktivis Banyuwangi berkumpul dan berinteraksi. Kegiatan ini digelar di …

Maaf adalah salah satu kata dasar dalam etika sosial manusia. Ia termasuk dalam tiga ungkapan dasar yang lazim diajarkan sejak dini—tolong, terima kasih, dan maaf—sebagai fondasi relasi sosial yang sehat. Namun, ketika memasuki usia dewasa dan memiliki kuasa, justru kata ini sering kali sulit diucapkan. Ego, gengsi, dan kekhawatiran kehilangan kekuasaan menjadikan permintaan maaf dipandang …

Bung Karno dan Gus Dur berasal dari generasi yang berbeda. Namun, pemikiran keduanya masih terasa relevan. Keduanya sama-sama meninggalkan jejak penting dalam cara kita memandang hubungan manusia dan alam. Bung Karno dikenal lewat gagasan Marhaenisme. Ia menekankan kesadaran sosial dan nasional sebagai dasar perjuangan. Sementara itu, Gus Dur tampil sebagai ulama dan pernah menjabat sebagai …

Dalam sejarah politik Indonesia, sedikit sekali tokoh yang meninggalkan jejak moral setegas Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia tidak hanya dikenal sebagai presiden, pemimpin NU, atau cendekiawan Muslim; lebih jauh dari itu, Gus Dur adalah representasi langka dari etika politik yang tidak lekang ditelan rezim, kekuasaan, atau retorika. Politik, di tangan Gus Dur, berubah dari …

“Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan.” Jika direnungkan lebih dalam, kalimat tersebut menyimpan makna filosofis, sosial, dan kultural yang sangat kuat. Kalimat Gus Dur tersebut tidak sekadar berbicara tentang bangunan penuh rak dan buku, melainkan tentang relasi manusia dengan pengetahuan, tentang kebutuhan batin manusia untuk memahami dunia, dan tentang peradaban yang tumbuh atau …

Kegaduhan politik dan krisis moral keteladanan akhir-akhir ini menjadi makanan yang paling banyak dikonsumsi publik. Dengan itu, memori tentang Gus Dur hadir memberi kesejukan yang jarang kita temui. Setiap kali ada kebijakan yang merugikan rakyat kecil, setiap kali aparat bertindak represif, dan setiap kali hukum kehilangan keberanian moral, nama Gus Dur selalu disebut—bukan hanya romantisme …

Barangkali kita sudah terlalu terbiasa melafalkan "bencana" sebagai nama lain dari "takdir". Di penghujung tahun 2025 ini, ketika langit Sumatera seolah runtuh dan menumpahkan segala amarahnya, kita kembali diajak—atau lebih tepatnya dipaksa—untuk menyaksikan parade duka yang panjang dan melelahkan. Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat; tiga titik di peta yang kini basah oleh lumpur pekat …