GUSDURian Banjarmasin Tutup Rangkaian Haul Gus Dur ke-12 dengan Refleksi dan Doa Bersama

GUSDURian Banjarmasin melakukan kerja sama dengan Keuskupan Banjarmasin untuk memperingati acara puncak peringatan Haul Gus Dur ke-12. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 27 Januari 2022 di Aula Gereja Katolik Hati Yesus Yang Maha Kudus, Banjarmasin.

Peringatan haul tersebut bertema “Refleksi dan Doa” yang dilakukan secara hybrid (gabungan antara pertemuan online dan offline). Acara itu dihadiri oleh para pemuka agama setempat dan perwakilan Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Mukhibullah Ahmad yang hadir secara daring.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh undangan yang hadir, baik daring atau luring, yang dipandu oleh Amaly Fikriza Arlie Yuniar (Pemuda Katolik Kalimantan Selatan). Sesi menyanyikan lagu kebangsaan RI ini bertujuan untuk membangkitkan rasa cinta pada negara, meningkatkan rasa nasionalisme, dan menumbuhkan semangat perjuangan, serta menghargai perjuangan pahlawan bangsa.

Kemudian Roy (Pemuda Katolik Kalimantan Selatan) dan Tita (PMII dan GUSDURian Banjarmasin) sebagai pemandu jalannya acara puncak Festival Bulan Gus Dur tersebut meminta kepada Koordinator GUSDURian Banjarmasin yakni Arief Budiman untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, ia menyatakan rasa syukur atas terlaksananya beberapa rangkaian kegiatan dari teman-teman GUSDURian Banjarmasin yang mampu bekerjasama dengan jejaring lintas iman.

Tak lupa, ia menyampaikan bagaimana GUSDURian Banjarmasin ini terbentuk.

"Awalnya karena terjadi banjir parah di Kalimantan Selatan pada tahun 2021 yang lalu. Sejak saat itu kami mendapat dukungan dari kawan-kawan Pemuda Katolik, baik dari Katedral, Santa Maria, St. Don Bosco, serta Keuskupan Banjarmasin," tuturnya.

Arief juga menambahkan beberapa hal terkait kegiatan yang sudah dilaksanakan GUSDURian Banjarmasin. Di antaranya adalah nonton bareng dalam rangka peringatan Haul Gus Dur di Gereja Santa Maria, melakukan kunjungan ke berbagai tempat ibadah dalam rangka mengenal keberagaman di Banjarmasin, dan bedah buku Gender Gus Dur dalam rangka mengenal kebijakan Gus Dur terkait isu-isu gender.

Terakhir yaitu refleksi dan doa bersama sebagai acara puncak. Acara ini digelar untuk merefleksikan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir agar ke depannya semua bisa bercermin untuk bisa lebih baik lagi, bisa siap sedia bersama-sama merawat keragaman, keadilan, dan perdamaian di Indonesia.

Sambutan kedua disampaikan oleh RD. Yohanes Susilohadi selaku tuan rumah pada kegiatan puncak Peringatan Festival Haul Gus Dur ini. Ia menyampaikan terima kasih atas kepercayaan GUSDURian Banjarmasin untuk melaksanakan kegiatan puncak di paroki tersebut dan menurutnya kegiatan ini akan jadi sejarah.

“Selamat merayakan Festival Bulan Gus Dur yang ke-12 di Banjarmasin. Semoga banyak orang yang bisa mengambil semangat atas nilai-nilai yang telah diberikan kepada kita semua dan menjadikan semangat kesatuan kita semua dalam berbangsa dan bernegara,” tutup Yohanes dalam sambutannya.

Acara selanjutnya adalah doa pembuka untuk kelancaran acara puncak Haul Gus Dur yang dipimpin oleh pemuka Hindu yaitu Jero Mangku Wayan Landep. Kemudian dilanjut dengan penampilan-penampilan dari Gusdurian Banjarmasin dan OMK St. Don Bosco. Penampilan pertama adalah pembacaan puisi oleh Nur Ana Mila karya Buya Husein Muhammad yang berjudul "Puisi untuk Gus Dur". Usai pembacaan puisi disusul oleh pentas musik oleh OMK St. Don Bosco.

Masuk pada acara inti yakni refleksi para pemuka agama dan doa bersama. Refleksi pertama sekaligus sambutan disampaikan oleh perwakilan dari Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian, Mukhibullah Ahmad secara daring. Ia menyampaikan alasan banyak yang merayakan Haul Gus Dur.

"Pertama yaitu untuk mendoakan Gus Dur. Itu yang utama. Gus Dur adalah satu-satunya orang Indonesia yang didoakan oleh banyak orang dari beragam keyakinan, agama, suku, dan budaya. Kedua yaitu agar dapat meneladani, mampu menerapkan prinsip, nilai, dan keteladanan yang telah diajarkan oleh Gus Dur," ungkap pria yang akrab disapa Mukhib tersebut.

Ia juga merefleksikan perjalanannya di Banjarmasin dalam melakukan kerja kemanusiaan yakni membantu korban banjir bersama GUSDURian Banjarmasin dan Keuskupan Banjarmasin. Terakhir, ia berpesan agar teman-teman GUSDURian Banjarmasin tidak berhenti di sini, akan tetapi ini menjadi awalan sehingga selalu ada kerja-kerja kemanusiaan.

Kemudian masing-masing pemuka agama menyampaikan refleksi selama satu tahun yang terlewat. Aminullah Yusuf dari pemuka Ahmadiyah menyampaikan bahwa ia sangat mengapresiasi kegiatan yang telah diadakan GUSDURian Banjarmasin. Begitu pula dengan para pemuka agama lain yang merasa senang atas kegiatan-kegiatan seperti ini.

"Hubungan seperti ini sebaiknya terus terjalin, bukan hanya dalam ruangan terbatas, tapi ke depannya bisa secara nyata. Hal ini perlu ketika ada permasalahan lintas iman yang membutuhkan dukungan bersama. Misalnya ketika umat Protestan mengalami hambatan untuk membangun gereja, juga untuk beribadah," ujar Pendeta Tuah Putuuni.

Pesan lainnya disampaikan oleh pemuka Hindu Jero Mangku Wayan Landep. Ia menyerukan pada semua orang untuk mengurangi kebijakan-kebijakan yang merugikan manusia, alam, lebih-lebih Tuhan. Oleh karena itu ia mengajak semuanya untuk menjaga keharmonisan bersama.

Di sisi lain, pemuka Buddha Pdt. Sarwadharma Pangkusatya merasa bersyukur atas kebijakan Gus Dur dalam kepemimpinannya yang telah memberikan hak pada masyarakat Tionghoa. "Perayaan Imlek dinyatakan sebagai hari libur, sehingga masyarakat etnis Tionghoa bisa merayakan Imlek yang sesungguhnya," ungkapnya.

Terakhir, refleksi dari Uskup Mgr. Petrus Boddeng Timang yang menyatakan dukungannya pada Jaringan GUSDURian.

“Kami sangat mendukung dan sangat mengapresiasi gerakan Jaringan GUSDURian ini. Saya percaya gerakan ini bisa terus dipupuk dengan menghayati nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Gus Dur dan harus terus dikembangkan. Bukan saja ketika ada bencana banjir dua kali dalam 2021 awal dan akhir tahun, melainkan juga dalam kebersamaan dan keseharian. Tanpa dipisahkan oleh sekat-sekat agama, kepercayaan, dan kebudayaan. Kita merasa bertanggung jawab untuk membumikan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gus Dur dalam keseharian kita,” terangnya.

Sesi terakhir ditutup dengan doa. Masing-masing pemuka agama bergilir memimpin doa menurut agama mereka masing-masing. Doa tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas segala kebijakan yang telah diwariskan oleh Gus Dur sebagai guru kemanusiaan dan Guru Bangsa, serta mendoakan para pemuka agama terdahulu yang ada di tanah Banjar khususnya.

Author

Bagikan tulisan ini: