Perjuangan Perempuan dalam Membangun Toleransi dan Kesetaraan: Kisah Menarik dari Nyai Sinta Nuriyah

Kisah tentang perjuangan perempuan di tengah masyarakat dalam membela hak-haknya barangkali telah banyak bertebaran. Bagai memecah batu karang; penuh peluh, berat, keras, berliku, dan melelahkan. Begitulah Nyai Sinta menggambarkan jerih payah perempuan pada zamannya. Dalam salah satu tulisan yang berjudul “Perjuangan Perempuan; Memecah Batu Karang”, Nyai Sinta mengisahkan legenda Cina, Sam Pek Eng Tay yang memotret bagaimana kegigihan Eng Tay mendobrak tradisi agar memperoleh pendidikan yang setara dengan kaum lelaki. Alih-alih mendapatkan apa yang Eng Tay perjuangkan dengan mendobrak dinding tradisi, perlawanannya malah hanya populer dengan kisah pergulatan asmara yang memilukan.

Bagi Nyai Sinta, meskipun kisah tersebut hanya sebuah legenda, tentu merupakan potret atas kondisi sosial yang objektif pada zamannya. Kuatnya tarikan tradisi partriarki kemudian selalu mendistorsi pemaknaan perjuangan perempuan hanya sebatas masalah asmara, tentu dapat berujung pada memperkokoh stigma bahwa perempuan sebagai makhluk lemah, emosional, dan dipenuhi nafsu birahi.

Sementara kisah yang ada di Indonesia, Nyai Sinta mengajak kita melihat pada kisah Ratu Kalinyamat, Roro Mendut, dan Pronocitro. Semua kisah tersebut dalam pengamatan Nyai Sinta mencerminkan kegigihan perjuangan perempuan dalam membela hak-hak dan martabatnya sebagai perempuan agar bisa hidup sejajar dengan kaum laki-laki. Nyai Sinta juga mengajak kita tidak menelaah cerita tersebut mentah-mentah, karena kalau dicermati lebih dalam keterlibatan Ratu Kalinyamat pada proses politik di Demak merupakan cerminan bagaimana kegigihan seorang perempuan untuk ikut terlibat dalam  percaturan politik tingkat tinggi, di mana pada waktu itu (bahkan sampai sekarang) ranah politik diasumsikan sebagai wilayah lelaki.

Tak ayal, ada sebagian kalangan yang memandang bahwa perjuangan Kalinyamat hanya urusan perselingkuhan dan hubungan asmara semata. Hubungan perselingkuhannya dengan Pangeran Hadirin menjadi sebuah ironi yang merugikan perempuan, lalu berakibat pada kisah tentang keterlibatan penting Kalinyamat dalam percaturan politik di Demak bak hilang ditelan bumi.

Kisah lain yang diceritakan Nyai Sinta adalah legenda Roro Mendut. Disebutkan dalam kisah itu Roro Mendut melakukan pemberontakan kultural terhadap sikap para bangsawan lelaki yang semena-mena terhadap perempuan. Seperti diketahui, Roro Mendut menolak Wiroguno dan mempertahankan Pronocitro. Dari cerita ini tentu tidak bisa dipahami hanya sekadar cinta buta, karena bagi Nyai Sinta ini adalah masalah prinsip perjuangan penegakan martabat kaum perempuan untuk bisa mempertahankan pilihannya sesuai dengan hati nurani.

Selain itu Nyai Sinta juga menyelipkan cerita R.A. Kartini, di mana sebagai tokoh emansipasi perempuan ia berjuang melawan tradisi, meskipun tidak secara frontal dapat diakui bahwa perjuangannya sangat radikal. Dengan cerdik dan giat di tengah himpitan tradisi, ia melakukan negosiasi dan dialog tradisi. Nyai Sinta menggambarkan bagaimana Kartini dikawinkan secara paksa dengan Adipati Rembang, namun dari dalam dia melakukan perlawanan, yakni dengan menggunakan otoritasnya sebagai istri bupati berupaya melakukan aktulisasi atas gagasan dan semangat emansipasi.

Lain zaman lain lagi dengan spirit perjuangannya. Dari kisah-kisah tersebut kemudian Nyai Sinta mengambil catatan bagi kita perempuan zaman nowpertama, perjuangan untuk membela kebebasan dan persamaan sebenarnya telah banyak dilakukan oleh perempuan pada setiap zaman. Sayangnya, perjuangan tersebut selalu gagal dan kandas. Penyebab utamanya lebih didominasi bahwa perjuangan tersebut masih diprakarsai oleh individu, bukan suatu kerja kolektif yang sistematis. Oleh karena itu, perjuangan perempuan kolektif nan sistematis sebagaimana sudah terbentuk di berbagai lapisan masyarakat merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Kini perempuan dapat menduduki “kursi-kursi” strategis di pemerintahan, bahkan salah satunya sudah terbentuk Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Kedua, Nyai Sinta juga berpesan bahwa dari kisah-kisah tersebut kita harus berkaca bahwa perjuangan perempuan dari masa ke masa akan berhadapan dengan dinding tradisi yang berbeda-beda. Belum lagi jika tradisi tersebut dibalut dengan teks dan klaim keagamaan. Untuk itu dalam momen Hari Toleransi Internasional ini, pesan Nyai Sinta yang terpatri dalam hati saya adalah “Untuk melakukan hal-hal besar tersebut diperlukan keuletan, kecerdikan, dan kesabaran ekstra. Sebab kalau kita tidak memiliki kesabaran, keuletan, dan kecerdikan, akan mudah dipatahkan dan dihancurkan sebagaimana kisah-kisah sebelumnya.”

Nyai Sinta juga menambahkan, “Sudah saatnya bagi kaum perempuan membangun kesadaran untuk melakukan gerakan secara sinergi, cerdik, dan ulet pada masa-masa mendatang, karena yang kita lawan bukan sesuatu yang kasat mata, tetapi sesuatu yang abstrak, maya, dan dinamik. Yakni tradisi imajinasi yang hidup dan tumbuh pada pikiran dan perasaan manusia. Dengan kegigihan dan keuletan yang ditopang oleh kecerdikan nalar, kita dapat membangun suatu tradisi dan legenda baru yang lebih berkeadilan, dan ini adalah agenda perjuangan perempuan kini dan ke depan!”.

Akan tetapi, untuk itu perlu adanya upaya untuk terus menggali tradisi yang terus berkembang di tengah keberagaman. Perjuangan perempuan terdahulu dalam menegakkan kesetaraan harus terus digaungkan, terlebih di tengah dinamika zaman yang semakin heterogen, perjuangan para leluhur perempuan dapat dijadikan referensi dan acuan dalam merajut perbedaan yang ada. Karena bagaimanapun perbedaan dinding tradisi tidak hanya terjadi saat ini tetapi sudah ada sejak dahulu bahkan telah menjadi sunatullah. Saatnya memupuk sikap toleransi untuk mewujudkan kesetaraan!

_______________

Artikel ini adalah hasil kerja sama neswa.id dengan Jaringan GUSDURian untuk kampanye #IndonesiaRumahBersama

Author

Bagikan tulisan ini: