Gus Dur, Vitalitas untuk Umat

Menurut salah satu definisi, kebudayaan itu ialah pikiran, karya, dan hasil karya akibat adanya interaksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya untuk memenuhi hasratnya akan adanya hubungan yang didasarkan pada takaran dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat, yang meliputi berbagai hal dan nilai dalam kehidupan ini. Bertolak dari definisi di atas, saya ingin belajar memahami Gus Dur sebagai insan budaya. Saya mulai dari lingkungan budaya yang paling awal berinteraksi dengannya, yaitu budaya pesantren. Jika Gus Dur mengatakan bahwa pesantren adalah “sub kultur”, itu artinya Gus Dur yakin bahwa pesantren bisa menyumbangkan nilai yang berharga bagi kebudayaan Indonesia. Keyakinan itu dirasakan Gus Dur sebagai orang yang lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ia telah banyak meminum nilai-nilai yang membentuk dirinya menjadi manusia yang harus sadar akan eksistensinya dengan akal sehatnya.

Insan Budaya

Hampir tidak ada pesantren tradisional di Jawa dan Madura yang tidak mengajarkan kitab Ta’limul Muta’allim  karangan Imam Az-Zarnuji. Dalam kitab itu terdapat puisi sangat vitalistik yang berbunyi:

Aljahiluna famautla qablamautihim

Wal ‘alimuna wain matu fa-ahya-u

Orang-orang yang tak berilmu telah mati sebelum dikuburkan

Dan orang-orang yang berilmu walaupun mati tetap hidup

Puisi itu selalu dinyanyikan sebagai motivasi para santri untuk rajin belajar. Saya yakin, bahwa Gus Dur ketika remaja, selain memang mempunyai talenta, ia menangkap spirit pada puisi itu sehingga pada saat kapan pun ia menjadi orang yang selalu haus akan ilmu. Itulah “spirit” pesantren yang menolak kebekuan berpikir. Semangat itu tentu terus bergelora dalam diri Gus Dur, sehingga di dalam belajar dan membaca buku ia tidak hanya membaca ilmu-ilmu fikih, tasawuf, sastra dan ilmu yang berkaitan dengan agama saja; ia juga membaca buku-buku ilmu pengetahuan kebudayaan sosial, politik, dan sastra. Bahkan Gus Dur pernah cerita, pada pertengahan tahun 1950-an ia telah membaca cerpen “Hantu dan Daneel Webster”, sebuah cerpen Amerika yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pada masa remaja Gus Dur, puisi-puisi pesantren yang dihapal dan dihayati para santri merupakan pilihan “kata-kata mutiara” yang benar-benar memberi pencerahan. Saya ambil salah satu contoh lagi:

Laysal fata man yaqulu kana abi

Walakinnal fata man yaqulu ha anadza

Yang disebut pemuda bukan yang berkata itulah ayah saya

Tapi yang disebut pemuda ialah yang berkata, inilah aku

Dan betul, Gus Dur dalam belajar dan beranjak menjadi dewasa tidak pernah membangga-banggakan ia keturunan siapa, tapi lebih mengutamakan upaya sehat terus belajar dan belajar, karena dalam tradisi pesantren, gairah dan semangat belajar, di samping  riyadhah lainnya benar-benar menjadi etos yang mewarnai kehidupan para santri. Jelas sekali bahwa puisi-puisi pesantren itu memotivasi hidup dengan vitalitas. Daya hidup untuk setia kepada hidup dan kehidupan dalam arti yang luas menuju kemuliaan.

Puisi atau nazham dan syi’ir di pesantren dilagukan sesuai dengan irama jiwa dan aliran darah, sehingga nafas dan spirit yang tersirat dalam puisi itu menjadi pengalaman estetik sebagian para santri. Saya yakin, menilik kecintaan Gus Dur terhadap sastra dan puisi di kemudian hari tak lain karena semasa remaja ia telah bernafas dengan puisi-puisi pesantren baik yang berbahasa Arab maupun syi’ir dan pujian yang berbahasa Jawa.

Maka kemudian, meskipun Gus Dur telah belajar ke Mesir dan Baghdad, serta berkeliling dunia, sehingga ia menjadi intelektual yang diperhitungkan baik di Indonesia maupun di luar negeri, Gus Dur tetap mencintai sastra dan seni. Hal ini dibuktikan minat Gus Dur yang tinggi terhadap sastra, teater, film, musik, dan wayang. Bahkan karena apresiasinya terhadap karya seni dan budaya sangat tinggi sampai ia terpilih sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Sketsa singkat ini diharapkan bisa sedikit memberikan gambaran bahwa Gus Dur benar-benar insan budaya. Di samping itu, meskipun Gus Dur sudah mampu membawa dirinya ke forum internasional, ia tetap merasa membawa spirit pesantren sebagaimana yang pernah diwariskan Walisongo, sebagai pemula pendiri pesantren di negeri ini. Gus Dur mendapatkan apinya dari warisan budaya pesantren itu bukan abunya.

Wawasan dan Gagasan Kebudayaan

Kemajuan dan keberdayaan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada sumber daya alam. Sumber daya alam apabila tidak ditangani dengan kemampuan ilmu dan teknologi oleh bangsa yang memilikinya, hanya akan menjadi bahan baku yang tidak (kurang) berguna. Pemberdayaan suatu bangsa yang menuju ke arah kerja kebudayaan, sangatlah diperhitungkan oleh Gus Dur. Untuk itu pesantren perlu menjadi agen perubahan.

Maka pada awal 1970-an bergabunglah Gus Dur dengan LP3ES. Lembaga ini oleh Gus Dur Benar-benar dijadikan ajang dan kesempatan untuk menyampaikan gagasan-gagasan pembaruannya dalam memberdayakan pesantren, agar manusia pesantren mulai membuka diri dan mau berdialog dengan wawasan-wawasan baru. Di samping itu ia tetap ingin menjaga nilai-nilai tradisi dan warisan budaya yang masih memberi inspirasi untuk mempertahankan kemuliaan dan nilai-nilai pesantren, seperti keikhlasan, kesederhanaan, keadilan, kerjasama, toleransi, dan lain-lain yang sejak awal berdirinya pesantren telah dijadikan ajaran yang disebut “akhlaqul karimah”.

Hal ini sangat sejalan dengan adagium pesantren yang bebunyi:

Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih

Wal-akhdzu bil jadidil ash-lah

Memelihara (melaksanakan warisan) lama yang masih baik

Dan mencari yang baru yang lebih baik

Dalam pandangan pesantren, sangat penting memelihara yang lama yang masih baik, karena ada nilai-nilai mulia yang lahir bersama lahirnya kebudayaan awal manusia yang memang tidak boleh dibuang atau diganti. Misalnya nilai mulia seperti kejujuran, keadilan, kemanusiaan, rendah hati, kebersamaan, tanggung jawab dan lain-lain, sejak dari zaman Nabi Adam sampai zaman pasca Adam Malik tetap harus dipertahankan. Dan kalau dibuang pasti tidak akan ada gantinya.

Akan tetapi, hal yang menyangkut bagaimana menegakkan keadilan, mengembangkan kecerdasan dan pendidikan umat, mencari formula baru di bidang pertanian, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, di sinilah kebudayaan harus diberi ruang yang seluas-luasnya untuk berkembang, sehingga benar-benar bangsa ini menjadi sejahtera, bermartabat, dan terhormat. Di sinilah kebudayaan tidak hanya harus bicara, tapi harus menjadi kerja kolektif berdasarkan akal sehat.

Untuk kemajuan seperti itulah Gus Dur rajin menulis di media massa, serta datang ke daerah-daerah sampai ke pelosok terpencil untuk menjelaskan tentang pentingnya gairah dan kemampuan untuk bisa menjawab tantangan hidup, dan tentang pentingnya menghayati kemanusiaan, sehingga dalam perbedaan pun masyarakat tetap selalu berada dalam panduan jiwa yang damai. Semua itu menggambarkan bahwa kebudayaan yang sehat dan modern harus tetap memuliakan kemanusiaan. Kemodernan dan kemajuan yang tidak menghormati kemanusiaan bukanlah kebudayaan dalam maknanya yang sejati dan tidak akan bermanfaat untuk kehidupan.

Hambatan

Upaya Gus Dur dalam membawa bangsa ini jelas menuju kesejahteraan bersama dengan kesadaran bersama yang berangkat dari akal sehat kolektif. Modal pandai dan cerdas saja tidak cukup. Dan ini terbukti, banyaknya orang cerdik pandai sekarang ini, diperkirakan lebih 10.000 kali jumlah sarjana pada masa revolusi kemerdekaan.

Tapi dengan sarjana yang sangat banyak itu, sekarang sebagian malah melakukan makar, seperti korupsi, kolusi, penebangan hutan semena-mena, pencemaran lingkungan, manipulasi, dan lain-lain.

Sikap anti budaya seperti di atas itulah yang sangat memprihatinkan Gus Dur, sehingga pada awal reformasi, ia mengatakan, bahwa untuk meluruskan bangsa ini agar kembali kepada moralitas dan kebudayaan yang sehat memerlukan waktu sampai 20 tahun. Itu pun kalau ada kehendak dan iktikad baik bersama. Tapi kalau sebagian masih melakukan tindakan-tindakan anti budaya, cita-cita masyarakat sejahtera dan kemajuan kebudayaan akan jauh panggang dari api.

Bahkan, Gus Dur sendiri telah menjadi korban dari tindakan-tindakan yang anti kebudayaan itu. Usaha-usahanya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dengan demokratisasi, selalu dipangkas oleh rezim Orde Baru. Langkah-langkahnya selalu dipantau dan dicurigai, bahkan ketika akan tampil untuk menjadi ketua umum tanfidziyah NU yang kedua kalinya, diupayakan dipangkas oleh pemerintahan Suharto. Selain itu setelah ia menjadi orang nomer satu di Indonesia, ia diturunkan oleh orang-orang yang memilihnya.

Dengan demikian cita-cita Gus Dur dalam mengupayakan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang sejahtera dan bermartabat telah mengalami hambatan yang telak. Kemungkinan sebagian orang yang menghambat itu memang sengaja menghambat cita-cita Gus Dur. Atau karena tidak paham arti kebudayaan. Hambatan lain ialah adanya sebagian orang dekat Gus Dur yang kurang memahami bahasa dan substansi yang diperjuangkan Gus Dur.

Strategi Kebudayaan Gus Dur

Saya tidak setuju kalau istilah “strategi” itu berarti tipu daya untuk mencapai tujuan, karena bisa membenarkan faham “tujuan menghalalkan segala cara”. Strategi sebaiknya diartikan, cara-cara cerdik untuk meraih kemenangan. Jika demikian, beberapa cara dan cita-cita yang dilakukan Gus Dur  yang saya utarakan di atas, di dalamnya sudah terkandung strategi kebudayaan Gus Dur. Soal kemudian berhasil atau tidak tergantung bagaimana cita-cita itu bergulir mulus atau mengalami rintangan. Kalau kandas karena telaknya rintangan, tentu ini bukan semat-mata kesalahan/kelemahan Gus Dur. Yang penting Gus Dur sudah melakukan kemauan baiknya untuk membawa masyarakat ke arah cita-cita luhur dan mulia.

Yang sangat jelas dirasakan masyarakat strategi kebudayaan yang dilakukan untuk memberi ruang gerak yang luas, dan persamaan hak kepada kaum minoritas dan keturunan asing, pemisahan polisi dari militer, serta dihapusnya Departemen Penerangan benar-benar telah terjadi, dan itu dilakukan Gus Dur saat ia menjabat sebagai Kepala Negara.

Kiprah Gus Dur di LSM dengan pemberdayaan pesantren dan kegiatan tulis menulisnya, dan kesediaannya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, juri festival film, telah membuat para santri bergairah di bidang seni sastra dan tulis menulis pada umumnya. Sehingga sekarang banyak sekali para santri menjadi seniman, penulis, sastrawan, budayawan, dan lain-lain. Kiprah Gus Dur di masa lalu telah memberi inspirasi dan membuat para santri percaya diri untuk berkiprah dalam berbagai sektor kehidupan tanpa kehilangan ruh kesantriannya.

Umat Islam Indonesia menurut Gus Dur, harus menyadari di mana tempat kakinya berpijak. Rasa keagamaan dan religiusitas seyogyanya harus dikembangkan untuk ikut mencintai dan merawat tanah air. Hal ini dibuktikan ketika Gus Dur lengser, ia tidak melakukan makar kepada rezim yang menurunkannya, karena cinta dan menjaga tanah air lebih penting dari kekuasaan. Kalau Gus Dur harus melawan masih dalam batas-batas etika dan moral, dan itu dilakukan sebagai tugas kebudayaan dan tidak untuk menimbulkan anarki. Sikap kritis dan oposan itu tidak lain sebagai bentuk kecintaan kepada rakyat kecil dan cinta tanah air dengan cara yang lain.

Kemudian cinta tanah air itu dilakukan Gus Dur dengan merawat tradisi yang masih relevan dengan zaman dan masih sesuai dengan kebutuhan umat. Menurut Gus Dur, tradisi itu penting untuk sebuah proses, yang berarti kita tidak boleh mengambil alih begitu saja nilai-nilai bangsa lain bagi diri kita. Itu artinya antara tradisi yang kita miliki harus selalu ada dialog dengan nilai-nilai modern yang akan masuk ke negeri kita. Dalam hal ini Gus Dur sejalan dengan pikiran yang kemudian ditulis Rendra dalam buku Mempertimbangkan Tradisi.

Dialog itu tentu akan menumbuhkan kesadaran baru, gairah baru untuk mengembangkan kegiatan industri budaya sesuai dengan kemajuan dunia. Di samping itu, perlu menggairahkan kegiatan pendidikan sebagai wahana pencerdasan bangsa untuk meningkatkan kesadaran kebudayaan agar kita mampu mengolah dan mengelola sumber daya alam yang kita miliki, dan nantinya bangsa ini punya daya saing dalam percaturan internasional.

Bagikan tulisan ini: