Nyadran: Mozaik Indonesia dari Desa

Tiap tahun, masyarakat perdesaan di pulau Jawa melakukan Nyadran. Warga melakukan Nyadran atau bersih desa ini supaya mendapatkan keselamatan dari segala bencana. Dalam kebudayaan Jawa Nyadran merupakan upacara daur hidup. Selain Nyadran, terdapat pula ritual grebeg (puasa dan Maulud), tahun baru 1 Syura, dan Lebaran (Sedyawati, 2006). Setiap keluarga serentak dan sukarela menyediakan berbagai makanan lokal seperti nasi kuning, panggang ayam, apem, ampyang, opak ketan, jenang abang, jadah, dan masih banyak yang lainnya. 

Di perdesaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nyadran diiringi kesenian tradisional. Biasanya semenjak siang hingga larut malam. Reog, gambyong (tayub), wayang kulit, wayang orang, ketoprak, dan ludruk adalah beberapa kesenian yang digelar. Setiap desa memiliki kesenian yang berbeda. Tergantung kesukaan (kareman) pendiri desa (danyang)

Nyadran bermakna tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap berkah dan rahmat selama satu tahun. Nyadran juga bukti penghormatan kepada pendiri desa, cikal bakal desa, atau danyang desa. Momen tahunan ini memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Kesenian tradisional pun tetap lestari.

Sejarah Nyadran

Sraddha, menurut kamus Jawa kuna karya Zoetmulder berasal dari bahasa Sanskerta “Sraddha“ artinya kepercayaan, keyakinan, kesetiaan, harapan, keinginan, rindu. Namun berarti pula upacara menghormati keluarga yang sudah wafat.

Dalam Kakawin Desawarnana atau Nagarakertagama, Mpu Prapanca menuliskan Raja Hayam Wuruk melakukan upacara peringatan khusus bagi keluarganya yang telah meninggal. Upacara itu mengenang 12 tahun wafatnya sang nenek raja yakni, Gayatri.

Kini, upacaya penghormatan leluhur ini telah berbaur dengan budaya dan kepercayaan lain. Seperti peringatan kematian, menjadi upacara 3-7 hari. Peringatan doa ikhlas pada hari ke 40, 100, 1000. Kemudian acara “Ngijing”, memberi nisan permanen di makamSebelum peringatan 1000 hari diadakan juga upacara “mendak” tahunan, dilanjutkan Haul dan Nyadran.

Konsep Nyadran

Dalam budaya Jawa, masyarakat meyakini para pendahulu yang sudah meninggal masih berpengaruh pada kehidupan masa kini. Terlebih bagi warga yang memiliki jalur keturunan langsung. Sebagai bukti pemuliaan, masyarakat menyajikan makanan dan minuman yang leluhur sukai. Macam-macam bentuknya. Misalnya apem, ayam panggang (kampung), nasi gurih, dan lain-lain. 

Selain sebagai ritual penghormatan, masyarakat juga mempercayai akan terhindar dari bencana. Oleh karena itu, nyadran dikenal juga sebagai ritual bersih desa. Warga percaya arwah leluhur akan melindungi desa dari bahaya. Lalu terwujud ketenteraman, keamanan, dan kenyamanan warga desa. 

Masyarakat muslim biasanya melakukan nyadran pada akhir bulan Sya’ban (Ruwah), sebelum memasuki Ramadan. Mereka melakukan kendurian, resik kubur, ziarah, dan mendoakan leluhur. Orang Jawa yang melakukan Nyadran kebanyakan beragama Islam. Namun, tidak sedikit yang beragama lain juga melakukan Nyadran. Itulah keunikan Nyadran di Pulau Jawa.

Nyadran Perdamaian

Desa Getas Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung memiliki tradisi Nyadran yang unik. Tidak hanya dilakukan masyarakat muslim, Nyadran juga dilakukan masyarakat Buddhis dan Nasrani. Perbedaan agama tidak menghalangi perayaan Nyadran. Masyarakat berbarengan mendatangi pemakaman dan melantunkan doa secara bergantian. Masyarakat yang berbeda agama ini pun berbaur. Menikmati aneka makanan yang telah disiapkan semalam suntuk.

Melihat kerukunan warga saat Nyadran ini, beberapa komunitas lintas agama berkolaborasi dengan masyarakat Getas menginisiasi “Nyadran Perdamaian” pada tahun 2019. Nyadran perdamaian diikuti oleh puluhan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Nyadran perdamaian telah dilakukan sebanyak 3 kali. Tahun 2019 dan 2020 digelar secara offline. Sedangkan tahun 2021 digelar secara online. Umumnya mereka tertarik dengan kehidupan toleransi dan perdamaian di desa. Faktor lain adalah keindahan alam serta keramahan masyarakat Getas. 

Masyarakat Getas sendiri merasa bahagia dengan Nyadran Perdamaian ini. Menyambut para anak muda yang mempunyai minat tinggi pada toleransi dan tradisi yang mereka pertahankan teguh. Keteguhan masyarakat Getas terbukti tidak bisa disepelekan. Untuk mempersiapkan sekali Nyadran, tiap keluarga bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tentu ini angka yang tidak sedikit bagi masyarakat pedesaan yang mayoritas petani. 

Melalui gotong royong jaringan lembaga lintas iman, organisasi kepemudaan, perangkat desa dan aparat pemerintah, Nyadran perdamaian memiliki dampak yang lebih besar. Tidak lagi sebatas ritual tahunan, namun menyuburkan nilai tolong menolong dan gotong royong.

Hal ini mengingatkan saya pada pandangan ilmuwan politik, Francis Fukuyama (2010). Bahwa nilai-nilai dan norma masyarakat mampu mendorong gotong royong, tolong menolong dan kohesi sosial.

______________

Artikel ini pertama kali dimuat di buddhazine.com

Author

Bagikan tulisan ini: