Tutur Batin dan Kontrol atas Tubuh Perempuan yang Perlu Digerus

Tubuh perempuan selalu menjadi objek dalam kehidupan masyarakat, baik dalam hal bentuk tubuh, warna kulit, gerak-gerik tubuh, nada bicara, dan bahkan model pakaian. Ada standar-standar tertentu hasil buatan masyarakat patriarki yang 'wajib' diterima perempuan. Hal tersebut tentunya mengekang perempuan untuk berekpresi atas tubuhnya. Sehingga hal ini mendiskriminasikan perempuan dalam kehidupan.

Lalu apa itu patriarki? Patriakri merupakan sistem masyarakat yang menempatkan perempuan pada manusia kelas nomor dua. Dalam hal ini perempuan sering tidak berdaulat atas dirinya. Semuanya diatur oleh sistem masyarakat yang menjadikan laki-laki sebagai satu-satunya pengambil keputusan. Singkatnya patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominiasi dalam peran kehidupan masyarakat, seperti otoritas moral, hak sosial, dan lain-lainnya.  

Di tengah sistem masyarakat patriarki saat ini, Yura Yunita menciptakan lagu "Tutur Batin" yang menurut saya membawa masyarakat pada sebuah kesadaran. Dalam lagu tersebut, Yura ingin memecah standar kehidupan yang ideal, terutama tentang kecantikan yang diciptakan untuk para perempuan.

Lagu tersebut juga sebenarnya sangat erat dengan pengalamannya sebagai perempuan yang dikontruksikan dengan standar-standar tertentu. Mulai dari posturnya yang pendek, sebagaimana yang pernah dibilang tidak sempurna; hingga tidak cantik, walaupun sebenarnya ia punya banyak kelebihan seperti keahlian menyanyi yang sangat baik. Tetapi orang lebih cenderung suka menyoroti dan menilai postur tubuhnya yang tidak ideal menurut masyarakat patriarkis, sehingga ia dikatakan tidak sempurna dan tidak berpotensi untuk masuk dalam dunia musik.

Dalam video musik lagu “Tutur Batin” yang dinyanyikan oleh Yura Yunita, menampilkan tiga kisah yang berbeda yang dialami oleh tiga karakter utama. Tokoh pertama adalah Riana, seorang perempuan yang kerap dibanding-bandingkan dengan saudara kandungnya hingga membuatnya sempat tidak percaya diri. Kemudian Tata, seorang perempuan yang memiliki permasalahan dengan bentuk tubuhnya dan merasa tidak diterima secara tulus di lingkungannya.

Dan tokoh terakhir adalah Muti, perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan diselengkuhi suaminya dengan perempuan yang menurut masyarakat patriarki lebih cantik dari Muti. Kemudian tiga tokoh tersebut bisa keluar dari ketidakberdayaan mereka dengan mindset bahwa mereka luar biasa dan cantik dengan versi mereka masing-masing, serta lebih mencintai diri sendiri tanpa membanding-bandingkan dengan orang lain.

Lagu “Tutur Batin” yang dinyanyikan oleh Yura Yunita membuat banyak perempuan tersadar bahwa perempuan tidak harus hidup untuk memenuhi ekspektasi masyarakat patriarki yang cenderung meminggirkan perempuan. Dalam lagu tersebut, Yura ingin mengatakan bahwa semua perempuan cantik dengan versinya masing-masing. Kulit putih, rambut panjang dan lurus, badan langsing, hidung mancung, dan lain-lain yang diharuskan pada diri perempuan saat ini sejatinya bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Perempuan harus menerima dirinya dengan versi cantiknya masing-masing. 

Masifnya Kontrol atas Tubuh Perempuan dalam Masyarakat Patriarki

Tentunya sudah banyak upaya yang dilakukan oleh perempuan yang sadar akan ketidakadilan yang dialami atas kontrol tubuhnya. Yura Yunita melalui lagunya tersebut merupakan salah satunya. Ia menyuarakan apa yang dirasakan oleh banyak perempuan, terutama (dalam hal ini) perempuan Indonesia.

Bernyanyi merupakan salah satu strategi yang tepat untuk perlahan-lahan menggerus kontrol atas tubuh perempuan yang selama ini terus dilakukan oleh masyarakat patriarki kita. Akan tetapi dengan banyaknya upaya yang dilakukan oleh perempuan-perempuan seperti Yura Yunita, perempuan juga harus terus berhadapan dengan masifnya agenda patriarki yang ingin terus mengontrol tubuh perempuan, baik untuk agenda politik, ekonomi, sosial-budaya, dan lain-lain. 

Motif ekonomi yang menjadikan perempuan sebagai objek, secara gamblang dapat kita lihat di media massa, terutama media elektronik televisi melalui tayangan iklan produk kecantikan. Berdasarkan penelitian Wulan Purnama Sari yang berjudul "Konflik Budaya dalam Konstruksi Kecantikan Wanita Indonesia (Analisis Semiotika dan Marxist Iklan Pond’s White Beauty versi Gita Gutawa)", iklan dibuat untuk mendorong orang agar menjadi konsumtif dengan menciptakan pemikiran perempuan tentang kecantikan.

Iklan mengkonstruksi masyarakat menjadi kelompok-kelompok gaya hidup, yang mana kehidupan mereka diatur berdasarkan tema, citra, dan makna simbolik tertentu. Selain itu kita juga bisa melihat bagaiman iklan-iklan produk kecantikan yang mayoritas menampilkan perempuan berbadan langsing, rambut lurus, hidung mancung, dan berkulit putih mulus serta tidak berjerawat yang selalu menjadi bintang model iklannya. Dalam hal ini kita dapat mengambil suatu makna secara tidak langsung bahwa perempuan-perempuan seperti itulah yang ideal dan cantik, sehingga kita diminta untuk membeli produk-produknya untuk menjadi seperti bintang model iklan yang ditayangkan.

Melalui iklan produk di televisi dan media lainnya telah memebentuk pola pikir masyarakat, sehingga ketika perempuan berkulit hitam, rambut tidak lurus, badan tidak langsing sering kali disuruh untuk berangkat ke salon untuk memperbaiki tubuh perempuan sesuai dengan standar kecantikan patriarkis. Tentunya standar ini kita lihat hanya berlaku untuk perempuan sehingga perempuan terus disibukkan untuk membenahi dirinya sesuai standar yang ditetapkan. Begitulah cara kerja sistem patriarki yang terus ingin melanggengkan keberadannya. 

Perempuan Harus Keluar dari Jebakan atas Kontrol Tubuh

Dengan banyaknya agenda patriarki yang menjadikan perempuan sebagai objek, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain, perempuan seperti Yura Yunita haruslah terus berlipat ganda. Kita harus memiliki kesadaran bahwa posisi perempuan hari ini masih termaginalkan. Daulat atas tubuhnya sendiri pun hari ini masih diatur oleh sistem masyarakat patriarki. Tentunya hal ini harus digerus dengan strategi atau cara masing-masing pada setiap perempuan. Keahlian dan hobi Yura Yunita dalam menulis lagu dan bernyanyi telah menjadi sarana untuk menyadarkan banyak perempuan dan masyarakat pada umumnya. Hal ini patut kita contoh.

Tentunya dengan pengalaman dari Yura Yunita, perempuan-perempuan lain bisa menyuarakan suara-suara ketidakadilan yang pernah dialami dengan caranya masing-masing, baik melalui hobi, bidang pekerjaan yang digeluti, dan lain-lainnya. Saya harap semakin banyak perempuan dan masyarakat kita sadar bahwa perempuan hari ini masih terkungkung pada banyak hal, salah satunya adalah daulat atas tubuhnya sendiri.

Author

Bagikan tulisan ini: